Skip to Content

Prof. Dr. Mamluatul Hasanah S.Ag. M.Pd.from Scrolling to Deep Thinking

September 23, 2026 by
Prof. Dr. Mamluatul Hasanah S.Ag. M.Pd.from Scrolling to Deep Thinking
Faiqotul himmah

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Di tengah derasnya arus informasi digital dan kebiasaan scrolling yang semakin melekat dalam keseharian generasi muda, kemampuan membaca secara mendalam menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Persoalan tersebut menjadi perhatian Prof. Mamluatul Hasanah dalam pidato pengukuhan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu, 23 September 2026.

Mengangkat judul “From Scrolling to Deep Thinking: Deep Reading in Arabic Learning as a Bridge to Insight and Novel Thinking through Abundance-Translanguaging-Genre (ATG) Pedagogies,” Prof. Mamluatul Hasanah menawarkan pendekatan pembelajaran Bahasa Arab yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan memahami teks, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan menghasilkan gagasan baru.

Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa era digital menghadirkan kelimpahan informasi melalui berita, pesan, komentar, video, dan berbagai konten singkat. Kondisi tersebut memberikan kemudahan dalam mengakses pengetahuan, tetapi juga dapat membuat perhatian menjadi terpecah dan mengurangi ruang untuk melakukan refleksi secara mendalam.

Menurut Prof. Mamluatul, deep reading bukan sekadar membaca teks yang panjang atau meluangkan waktu lebih lama untuk membaca. Membaca mendalam berarti memberikan perhatian, memahami isi, mempertanyakan informasi, menghubungkan gagasan, mengevaluasi, serta menggunakan teks sebagai dasar untuk berpikir.

Proses tersebut dimulai dari Reading the Text, yaitu memahami informasi, kosakata, dan gagasan utama dalam teks. Tahap berikutnya adalah Thinking with the Text, ketika pembaca mulai bertanya, menarik kesimpulan, membuat hubungan antargagasan, dan membangun penafsiran. Selanjutnya, pembaca diarahkan pada Thinking beyond the Text, yakni mengevaluasi, mengkritisi, mengembangkan gagasan, hingga menghasilkan solusi atau tindakan baru.

Dengan pendekatan tersebut, Bahasa Arab tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang harus dipahami, tetapi juga sebagai medium untuk membangun pemikiran dan menghasilkan gagasan.

Untuk mendukung proses tersebut, Prof. Mamluatul menawarkan Abundance-Translanguaging-Genre (ATG) Pedagogies. Konsep abundance menekankan pentingnya kelimpahan pengalaman belajar, bukan hanya dalam jumlah teks, tetapi juga keberagaman perspektif, genre, persoalan, dan pengalaman yang dapat menjadi bahan untuk berpikir.

“Satu teks hanya memberikan satu jendela. Tetapi banyak teks memberikan banyak jendela untuk melihat dunia,” ungkapnya.

Sementara itu, translanguaging memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menggunakan berbagai sumber daya kebahasaan dan pengetahuan yang dimiliki dalam memahami serta membangun makna. Adapun pendekatan genre membantu mahasiswa memahami bahwa setiap jenis teks memiliki karakter dan cara berbeda dalam membangun makna.

Prof. Mamluatul juga menekankan bahwa kurikulum perlu dipandang bukan hanya sebagai produk yang telah selesai dirancang, tetapi sebagai proses yang hidup dalam pengalaman belajar antara pendidik dan mahasiswa.

Melalui gagasan tersebut, ia mendorong pembelajaran Bahasa Arab agar bergerak dari sekadar aktivitas membaca menuju proses berpikir yang lebih mendalam. Bahasa Arab diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun wawasan, mengembangkan pemikiran kritis, melahirkan gagasan baru, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.

Dari scrolling menuju deep thinking, pembelajaran Bahasa Arab diarahkan untuk tidak hanya membuat mahasiswa mampu memahami apa yang dibaca, tetapi juga mampu berpikir tentang apa yang dibaca dan menghasilkan sesuatu dari pemikiran tersebut.


Editor: Humas
Reporter: Faiq
Fotografer: Faiq
Prof. Dr. Mamluatul Hasanah S.Ag. M.Pd.from Scrolling to Deep Thinking
Faiqotul himmah September 23, 2026
Share this post
Tags
Archive