Ada satu kebiasaan lama di banyak institusi, termasuk kampus: program dianggap “serius” kalau anggarannya besar. Tanpa dana, kegiatan terasa setengah hati, bahkan batal sebelum dimulai. Pernyataan Ridwan dalam Rapat Kerja 2026 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti menyentil langsung pola pikir itu. Bahwa capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) tidak harus mahal.
Gagasan ini sebenarnya sederhana, tapi dampaknya bisa besar. Selama ini, ukuran keberhasilan sering bergeser dari “apa dampaknya” menjadi “berapa biayanya”. Akibatnya, kreativitas kerap kalah oleh proposal. Energi habis di meja anggaran, bukan di lapangan pelaksanaan.
Pendekatan berbasis program dan dampak yang mulai didorong di UIN Malang mencoba membalik logika tersebut. Kegiatan tidak lagi diukur dari seberapa tebal RAB-nya, tetapi dari seberapa relevan dan terasa manfaatnya. Kolaborasi lintas unit, pemanfaatan jejaring, hingga optimalisasi sumber daya internal menjadi kata kunci. Ini bukan sekadar efisiensi, tapi juga soal kecerdasan dalam bekerja.
Menariknya, konsep “nol rupiah” yang disebutkan bukan berarti tanpa usaha. Justru sebaliknya, ia menuntut kerja yang lebih kreatif. Program tanpa anggaran besar biasanya lahir dari ide yang matang, jejaring yang kuat, dan eksekusi yang rapi. Singkatnya, bukan uangnya yang dihilangkan, tetapi pemborosan cara berpikirnya yang dipangkas.
Peran Satuan Pengawasan Internal (SPI) di sini juga berubah wajah. Bukan lagi sekadar pengawas yang identik dengan pembatasan, tetapi menjadi mitra strategis yang membantu menyaring mana program yang benar-benar layak dibiayai penuh, mana yang cukup minimal, dan mana yang bisa jalan tanpa biaya. Ini penting, karena efisiensi tanpa arah bisa berubah jadi penghematan yang justru mematikan kualitas.
Namun, ada satu hal yang perlu dijaga. Semangat efisiensi jangan sampai disalahartikan sebagai “murah itu selalu lebih baik”. Tidak semua program bisa ditekan biayanya. Riset tertentu, pengembangan laboratorium, atau kolaborasi internasional tetap butuh investasi serius. Kuncinya ada pada keseimbangan: tahu kapan harus hemat, dan kapan memang perlu berani keluar biaya.
Jika dijalankan konsisten, pendekatan ini bisa melahirkan budaya kerja baru di kampus. Budaya yang tidak mudah menyerah hanya karena anggaran terbatas. Budaya yang lebih adaptif, lebih gesit, dan lebih fokus pada hasil nyata. Kampus tidak lagi sibuk membelanjakan anggaran, tetapi sibuk menciptakan dampak.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perguruan tinggi memang bukan pada seberapa besar uang yang dihabiskan, melainkan seberapa jauh kontribusinya dirasakan. Dan di titik itu, UIN Malang sedang mencoba membuktikan satu hal penting: kampus hebat tidak harus mahal, tapi harus cerdas dalam mengelola peluang.
*Kepala Satuan Pengawas Internal UIN Maliki Malang