KOTA BATU | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY— Semangat Hari Kartini terasa hidup di Balaikota Among Tani. Minggu, 12 April 2026. Bukan sekadar seremoni, ruang itu berubah menjadi panggung gagasan. Perempuan dari berbagai latar berkumpul, berbagi cerita, sekaligus menegaskan satu hal: masa depan bangsa tidak bisa dilepaskan dari peran mereka.
Momentum itu hadir dalam talkshow bertajuk “Strong Women Strong Nation” yang digelar Disway Malang sebagai bagian dari rangkaian Kartini Power Run. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ilfi Nur Diana.
Dalam suasana yang hangat namun penuh makna, Ilfi menyampaikan gagasan yang sederhana, tetapi mengena. Menurutnya, setiap manusia memikul dua peran utama: sebagai hamba Tuhan dan sebagai pemimpin. Dua peran itu, katanya, tidak bisa dipisahkan dari pendidikan.
“Ibu-ibu sekalian, menjadi hamba berarti beriman. Menjadi pemimpin berarti berilmu. Karena itu, belajar tidak ada batasnya, dari lahir sampai akhir hayat,” ujarnya, disambut anggukan peserta.
Talkshow ini juga menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif lain seperti Ira Puspadewi dari dunia korporasi dan Mulyani Hadiwijaya dari kalangan pengusaha. Diskusi dipandu oleh Dahlan Iskan bersama Wakil Wali Kota Batu, Ridha Agusta Susandra, yang membuat suasana semakin cair sekaligus berbobot.
Namun, sorotan utama tetap pada pesan tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Ilfi menyebut perempuan, khususnya ibu, sebagai “manajer kualitas hidup keluarga”. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi punya makna luas.
Menurutnya, seorang ibu tidak hanya mengurus rumah tangga. Ia juga mengelola emosi, keuangan, hingga nilai spiritual dalam keluarga. Dari tangan seorang ibu, kualitas generasi ditentukan.
“Kalau perempuan baik, negara ikut baik. Kalau perempuan rusak, dampaknya juga besar bagi bangsa,” tegasnya.
Pernyataan itu tidak berhenti sebagai retorika. Ilfi mendorong perempuan untuk terus berkembang, aktif di organisasi, dan berani mengambil peran di ruang publik. Tantangan, katanya, bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi.
Di penghujung sesi, ia menutup dengan pesan reflektif. Perempuan, menurutnya, perlu meneladani ketangguhan tokoh-tokoh besar dan menjadikannya energi untuk terus tumbuh.
“Jangan jadikan tekanan sebagai beban. Jadikan itu tantangan. Jadilah Kartini masa kini yang memberi dampak,” pesannya.
Antusiasme peserta yang memenuhi ruangan menjadi penanda bahwa ruang-ruang seperti ini masih sangat dibutuhkan. Bukan hanya untuk berbagi inspirasi, tetapi juga untuk memperkuat keyakinan bahwa perempuan Indonesia tidak sekadar menjadi bagian dari pembangunan, melainkan penggerak utamanya.