Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 24229 |
![]() | Kemarin | 29370 |
![]() | Minggu ini | 83035 |
![]() | Bulan ini | 554803 |
![]() | Total | 29145970 |
| Bersatu itu Indah dan Menjadi Kuat |
|
|
|
| Minggu, 28 Agustus 2011 05:41 |
|
Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat Islam di Madinah diawali dengan mempersatukan dua kaum yang berbeda, yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Dua kelompok yang memiliki identitas yang berbeda dipersatukan di Madinah. Kaum Muhajirin yang datang dari Makkah diterima dengan suka cita oleh kaum Ansyor di Madinah. Kedua kelompok tersebut tanpa ada yang merasa menang dan atau sebaliknya, dikalahkan secara bersama, membangun masyarakat atas dasar nilai-nilai yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril.
Selain itu yang segera dilakukan oleh Rasulullah adalah membangun masjid. Di tempat ibadah itu, siapapun bisa hadir tanpa ada perbedaan tentang asal muasalnya. Semua saja memiliki hak yang sama. Bagi mereka yang datang terlebih dahulu berhak menempati tempat yang ada di depan, dan sebaliknya yang datang kemudian menempati tempat di belakang. Di dalam masjid, maka tidak ada seorang pun yang boleh merasa memiliki kedudukan istimewa.
Persatuan di tempat ibadah itu sedemikian indah. Para jama’ah dianjurkan berbaris secara rapat, bersyaf-syaf hingga menunjukkan kebersamaan dan persamaan di antara mereka. Dengan gambaran seperti itu, ummat Islam tidak saja bersatu tetapi juga hidup secara bersama-sama, dan dengan hak dan kewajiban yang sama pula. Namun demikian, hak-hak individu tetap dihargai dan dijunjung tinggi oleh semua.
Hak-hak individu yang dimaksudkan itu ialah bahwa setiap orang boleh memiliki dan atau menguasai harta benda yang diusahakannya. Selain itu,seorang individu boleh mendapatkan penghargaan atau memiliki derajat yang tinggi, melebihi lainnya, namun dengan ukuran yang bisa diraih oleh semua orang. Ukuran itu adalah berupa keimanan dan ilmu pengetahuan yang disandangnya. Dengan kelebihan itu maka yang bersangkutan berhak menduduki posisi kepemimpinan, di antaranya adalah sebagai imam shalat.
Di masjid yang didirikan oleh Rasulullah di Madinah, digunakan oleh semua orang untuk menjalankan shalat lima waktu secara berjama’ah, melakukan pertemuan untuk membahas hal-hal yang terkait dengan kebutuhan bersama, pendidikan dan pengajaran, dan lain-lain. Manakala terjadi persoalan yang harus diselesaikan bersama, maka baik kaum Muhajirin maupun kaum Ansyar menyelesaikannya di masjid. Dengan demikian masjid, menjadi simbol dan tempat mempersatukan ummat Islam.
Tempat ibadah berupa masjid itu, digunakan sepanjang waktu, dalam arti tidak hanya pada bulan-bulan tertentu, misalnya pada bulan Ramadhan saja. Nabi Muhammad dalam berbagai riwayatnya, tidak pernah menjalankan shalat sendirian, melainkan selalu berjama’ah dan shalat itu selalu dilaksakan di masjid. Apa yang dibiasakan oleh Rasulullah tersebut selalu ditiru oleh ummatnya, dan bahkan oleh orang yang sebenarnya sangat sulit datang ke masjid, karena sahabat tersebut adalah dalam keadaan buta. Diriwayatkan bahwa, oleh karena orang yang tidak bisa melihat tersebut, masih bisa mendengar adzan yang dikumandangkan dari arah masjid, maka oleh Nabi dianjurkan mendatangi panggilan itu.
Perbedaan pandangan di antara para sahabat dan jama’ah ketika itu sudah seringkali terjadi. Namun Rasulullah selalu menyelesaikannya dengan arif dan bijak. Pada setiap kali terjadi perbedaan, maka dicari penyelesaian secara adil. Semua pihak diberi penghormatan dan penghargaan yang sama. Nilai-nilai kemanusiaan selalu dikedepankan daripada sekedar menyelamatkan harta atau kekayaan. Selain itu, untuk menjaga persatuan dan kesatuan, maka dikembangkan tradisi saling menasehati di antara sesama tentang kebenaran dan kesabaran.
Di antara sesama kaum muslimin dibangun saling percaya mempercayai. Manakala terdapat sesuatu yang meragukan tentang informasi yang dibawa oleh seseorang, maka kebenarannya cukup didasarkan pada sumpah oleh yang bersangkutan. Hingga misalnya terdapat seseorang yang mengaku telah melihat bulan, sebagai pertanda penanggalan sudah masuk pada bulan berikutnya, maka yang bersangkutan c ukup disumpah sebagai bukti atas kesaksiannya itu. Dengan demikian, pada saat itu tidak terjadi perbedaan hanya dalam soal penentuan masuknya bulan ramadhan dan atau hari raya. Hari raya dan wukuf di Arofah selalu jatuh pada hari yang sama, tidak sebagaimana terjadi di Indonesia ini.
Persatuan dipelihara secara bersama-sama. Sebab persatuan itu dianggap indah, dan oleh karena itu dibutuhkan dan dibangun secara bersama-sama pula oleh semuanya. Mereka menyadari bahwa dengan bersatu maka ummat Islam akan kokoh dan sebaliknya bercerai berai akan ditertawakan oleh orang lain. Namun sayang, para tokoh Islam di Indonesia ini belum sepenuhnya menyadari tentang hal itu. Bahkan kadangkala, mereka masih mencari dalil untuk memperkukuh pandangannya, bahwa perbedaan itu adalah rakhmat. Padahal secara empirik, perbedaan itu, ---------apalagi yang dialami oleh masyarakat awam di desa-desa, mengakibatkan banyak yang mengalami kebingungan. Orang-orang awam rupanya berbeda dengan para pempinannya, telah merasakan bahwa bersatu itu indah dan menjadikan kokoh. Wallahu a’lam.
|