Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mempertegas Posisi Pendidikan AgamaSepanjang sejarah kehidupan bangsa, pendidikan agama dipandang sangat penting dan strategis untuk... |
Waktu Tengah Malam Mendarat di Dushanbe, TajikistanBaru pertama kali saya ke Tajikistan. Sebelumnya, tahun lalu, pernah ke Moskow,... |
Setengah Hari Di Airport DubaiDalam perjalanan ke Nushanbe, Tajikistan, pada tanggal 15 Mei 2013, saya memilih lewat... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 18064 |
![]() | Kemarin | 30712 |
![]() | Minggu ini | 193713 |
![]() | Bulan ini | 463194 |
![]() | Total | 29054361 |
| Menggerakkan Orang Kampus dengan Nasi Bungkus |
|
|
|
| Ditulis oleh Kerjasama - UIN Malang |
| Sabtu, 10 Desember 2011 07:07 |
|
Banyak orang mengatakan bahwa, kegiatan organisasi dan apalagi organisasi birokrasi pemerintah akan berjalan manakala tersedia dana yang cukup. Tanpa uang maka birokrasi tidak mungkin dijalankan. Selain itu, sem ua kegiatan harus dilakukan pengawasan secara ketat. Tidak adanya pengawasan, maka dana yang seharusnya digunakan membiayai kegiatan itu akan dikorup.
Ketersediaan dana dan pengawasan yang cukup memang penting, akan tetapi ada bukti-bukti lain yang tidak selalu demikian itu. Di awal pengembangan UIN Malang, yaitu pada saat masih berstatus sekolah tinggi, tidak tersedia dana untuk pengembangan kampus. Akibat keterbatasan itu, orientasi kegiatannya bukan pengembangan, tetapi sekedar agar bisa bertahan hidup. Kondisi seperti itu dialami, oleh karena lembaga ini baru saja lepas dari induknya, ialah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Keterbatasan dana itu juga sebagai akibat kondisi pemerintah sedang menghadapi krisis moneter dan berlanjut dengan krisis politik yang cukup panjang. Terkait dengan krisis itu, kemudian muncul gerakan reformasi, sehingga energi yang dimiliki oleh pemerintah lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan problem-problem besar yang terjadi silih berganti. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin menyediakan dana untuk mengembangkan kampus ini sebagai mana yang diharapkan.
Menghadapi suasana seperti itu, STAIN Malang dengan kekuatannya sendiri berusaha bergerak maju. Semboyan yang digunakan adalah bergerak dan bergerak menatap hari esok yang lebih baik. Sehari-hari ketika itu, banyak orang berdemonstrasi dan bahkan juga terjadi konflik atau pegolakan di berbagai daerah, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Poso dan lain-lain. STAIN Malang ketika itu melakukan hal yang produktif, yaitu menyusun perencanaan dan segera memulai pengembangannya.
Dalam suasana seperti itu, STAIN Malang membangun semangat dan berusaha bergerak. Ditumbuh-kembangkan semangat maju lewat berbagai cara. Sebagai contoh, hingga majalah yang dirintis ketika itu dinamai el Harakah, yang artinya adalah gerakan. Majalah dimaksud hingga hari ini masih terbit. Demikian pula lembaga pengembangan bahasa arab menerbitkan tabloit dengan nama el Hujum, yang artinya adalah serangan mendadak tatkala orang lain lagi tidur atau istirahat. Gerakan tidak saja bisa ditumbuhkan dengan uang, tetapi juga lewat semangat, cita-cita dan atau gambaran tentang kemajuan di masa depan.
Gerakan pengembangan itu tidak selalu tampak teratur, dalam arti harus berdasar proposal, perencanaan, dan atau dana yang jelas dan cukup. Kegiatan seperti rapat, workshop, penulisan proposal, dan lain-lain, sekalipun tanpa dana sedikitpun harus berhasil dijalankan. Semangat berjuang dan berkorban selalu ditumbuh-kembangkan dan bahkan dikobarkan. Manakala kegiatan itu harus membutuhkan dana, maka kalau perlu diperoleh dengan cara urunan atau patungan. Hanya sekali-sekali, sebagai hiburan para dosen dan karyawan yang bekerja lembur, mereka dibelikan nasi bungkus agar dinikmati bersama-sama.
Bahkan kalau ada honor sekedar uang lelah,-------sebagaimana biasanya diterima oleh PNS, uang itu secara bersama-sama dikumpulkan lagi, agar kemudian bisa digunakan untuk membiayai kegiatan yang lebih penting selanjutnya. Suasana perjuangan seperti itu berjalan lama dan terjadi di semua jenis kegiatan, termasuk pelaksanaan program pengembangan Bahasa Arab yang hingga kini menjadi salah satu prioritas dan kebanggaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kegiatan yang bernuansa modern, misalnya rapat-rapat di hotel mewah, penyediaan transport, honor, dan sejenisnya, tidak pernah dilakukan. Bekerja tidak harus dilakukan di tempat yang mewah dan dengan biaya mahal. Kegiatan produktif bisa saja tumbuh justru oleh karena adanya niat dan kesadaran untuk maju. Semua pihak bersedia berjuang dan sekaligus berkorban. Hasil dari semua itu adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti yang bisa disaksikan sekarang ini.
Bekerja dengan nuansa berjuang dan berkorban seperti itu, maka secara otomatis menjauhkan semua orang dari perbuatan korupsi, kolosi dan nepotisme. Semua orang di lembaga ini bekerja bersama-sama atas dasar niat ikhlas untuk meraih kemajuan di masa depan. Mereka itu tidak memikirkan honor atau imbalan. Yang mereka pikirkan adalah sukses dan atau kemajuan. Mereka berusaha melahirkan kampus Islam yang bisa dibanggakan.
Sejarah awal pengembangan STAIN Malang yang kemudian menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebetulnya memiliki arti penting terkait pengembangan konsep manajemen dan kepemimpinan lembaga pendidikan Islam. Jika sementara ini, orang selalu berpandangan bahwa birokrasi, -----apalagi birokrasi pemerintah, agar berjalan harus ditopang oleh dana yang cukup, maka sebenarnya pada kenyataannya tidak selalu demikian.
Berdasarkan kenyataan itu maka birokrasi, tidak terkecuali birokrasi pemerintah, sebenarnya bisa digerakkan oleh adanya orang-orang yang tulus, dedikatif, dan memiliki integritas yang tinggi. Birokrasi yang hanya digerakkan lewat kekuatan uang tanpa dibarengi semangat berjuang dan berkorban, maka yang terjadi adalah justru penyimpangan seperti korupsi, kolosi dan nepotisme seperti sekarang ini. Bahkan korupsi yang terjadi sedemikian dahsyat di negeri ini sebenarnya adalah disebabkan di antaranya, oleh karena gagalnya para pemimpin bangsa menumbuhkan cita-cita, semangat, dan motivasi ini.
Bahwa sebenarnya, menggerakkan orang lewat cita-cita, semangat dan gambaran ideal di masa depan, -----dan bukan saja dengan uang, adalah sekaligus menjauhkan dari perbuatan menyimpang. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pernah melakukannya dan ternyata berhasil, yakni berjuang dan sekaligus berkorban. Itulah sebabnya, sementara orang menyebut bahwa gerakan itu hanya bermodalkan nasi bungkus. Wallahu a’lam
|