Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 292 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini18064
mod_vvisit_counterKemarin30712
mod_vvisit_counterMinggu ini193713
mod_vvisit_counterBulan ini463194
mod_vvisit_counterTotal29054361
Menggerakkan Orang Kampus dengan Nasi Bungkus PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Kerjasama - UIN Malang   
Sabtu, 10 Desember 2011 07:07

 

Banyak orang mengatakan bahwa,  kegiatan organisasi dan apalagi organisasi  birokrasi pemerintah akan berjalan manakala tersedia dana yang cukup. Tanpa uang maka birokrasi tidak mungkin dijalankan. Selain itu, sem ua kegiatan harus dilakukan pengawasan secara ketat. Tidak adanya pengawasan, maka dana yang seharusnya digunakan membiayai kegiatan itu akan dikorup.

 

Ketersediaan dana dan pengawasan yang cukup memang penting, akan tetapi ada bukti-bukti lain yang tidak selalu demikian itu.  Di awal pengembangan UIN Malang, yaitu pada saat masih berstatus  sekolah tinggi, tidak tersedia dana untuk pengembangan kampus. Akibat keterbatasan itu,  orientasi kegiatannya bukan pengembangan, tetapi sekedar agar bisa bertahan hidup. Kondisi seperti itu dialami, oleh karena lembaga ini baru saja lepas dari induknya, ialah  IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Keterbatasan dana itu juga sebagai akibat kondisi pemerintah sedang  menghadapi krisis moneter dan  berlanjut dengan krisis politik yang cukup panjang. Terkait dengan krisis itu, kemudian muncul  gerakan reformasi, sehingga  energi yang dimiliki oleh pemerintah lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan problem-problem besar yang terjadi silih berganti.  Akibatnya, pemerintah tidak mungkin menyediakan dana untuk mengembangkan kampus ini sebagai mana yang diharapkan.

 

Menghadapi suasana seperti itu,  STAIN Malang dengan kekuatannya sendiri  berusaha bergerak maju. Semboyan yang digunakan  adalah bergerak dan bergerak menatap hari esok yang lebih baik. Sehari-hari ketika itu,  banyak orang berdemonstrasi dan bahkan juga terjadi konflik atau pegolakan di berbagai daerah,  seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Poso dan lain-lain.  STAIN Malang ketika itu melakukan hal yang produktif, yaitu  menyusun perencanaan dan segera memulai pengembangannya.  

 

Dalam suasana seperti itu, STAIN Malang membangun semangat dan berusaha bergerak. Ditumbuh-kembangkan semangat maju lewat berbagai cara. Sebagai contoh, hingga majalah yang dirintis ketika itu dinamai el Harakah,  yang artinya adalah gerakan. Majalah dimaksud hingga hari ini masih terbit. Demikian pula lembaga pengembangan bahasa arab menerbitkan tabloit dengan nama el Hujum, yang artinya adalah serangan mendadak tatkala orang lain lagi tidur atau istirahat. Gerakan tidak saja bisa ditumbuhkan dengan  uang, tetapi juga  lewat semangat, cita-cita dan atau gambaran tentang kemajuan  di masa depan.

 

Gerakan pengembangan itu tidak selalu tampak teratur,  dalam arti harus berdasar proposal, perencanaan,  dan atau dana yang jelas dan cukup. Kegiatan  seperti rapat, workshop, penulisan proposal,  dan lain-lain, sekalipun tanpa dana sedikitpun harus  berhasil dijalankan.  Semangat berjuang dan berkorban selalu ditumbuh-kembangkan dan bahkan dikobarkan. Manakala kegiatan itu harus membutuhkan dana, maka  kalau perlu diperoleh dengan cara urunan atau patungan.  Hanya sekali-sekali, sebagai hiburan para  dosen dan karyawan yang bekerja lembur, mereka  dibelikan nasi bungkus agar dinikmati  bersama-sama.

 

Bahkan kalau ada  honor  sekedar uang lelah,-------sebagaimana biasanya diterima oleh PNS,  uang itu secara bersama-sama dikumpulkan lagi,  agar kemudian bisa digunakan untuk membiayai kegiatan yang lebih penting selanjutnya. Suasana perjuangan seperti itu berjalan lama dan terjadi di  semua jenis kegiatan, termasuk pelaksanaan program pengembangan Bahasa Arab yang hingga kini menjadi salah satu prioritas dan kebanggaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

Kegiatan yang bernuansa modern, misalnya rapat-rapat  di hotel mewah, penyediaan transport, honor,  dan sejenisnya,  tidak pernah dilakukan. Bekerja tidak harus dilakukan di tempat yang mewah dan dengan biaya mahal.  Kegiatan produktif bisa saja  tumbuh justru oleh karena adanya niat dan kesadaran untuk maju. Semua pihak bersedia berjuang dan sekaligus berkorban. Hasil dari semua itu adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang seperti yang bisa disaksikan sekarang ini.

 

Bekerja dengan nuansa berjuang dan berkorban seperti itu,  maka secara otomatis menjauhkan semua orang dari perbuatan korupsi, kolosi dan nepotisme.  Semua orang di lembaga ini bekerja bersama-sama atas dasar niat ikhlas untuk meraih  kemajuan di masa depan. Mereka itu tidak memikirkan honor atau imbalan. Yang mereka pikirkan adalah sukses dan atau kemajuan. Mereka berusaha melahirkan kampus Islam yang bisa dibanggakan.

 

Sejarah awal pengembangan STAIN Malang yang kemudian menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang  sebetulnya memiliki arti penting terkait  pengembangan konsep manajemen dan kepemimpinan lembaga pendidikan Islam. Jika sementara ini, orang selalu  berpandangan bahwa birokrasi, -----apalagi birokrasi pemerintah, agar berjalan  harus ditopang oleh dana yang cukup, maka sebenarnya pada kenyataannya tidak selalu demikian.

 

Berdasarkan kenyataan itu maka birokrasi, tidak terkecuali birokrasi pemerintah, sebenarnya bisa digerakkan oleh adanya orang-orang yang tulus, dedikatif,  dan memiliki integritas yang tinggi. Birokrasi yang hanya digerakkan lewat kekuatan uang tanpa dibarengi semangat berjuang dan berkorban,  maka yang terjadi adalah justru penyimpangan seperti korupsi, kolosi dan nepotisme seperti sekarang ini. Bahkan korupsi yang terjadi sedemikian dahsyat di negeri ini sebenarnya adalah disebabkan di antaranya, oleh karena gagalnya para pemimpin bangsa menumbuhkan cita-cita, semangat,  dan motivasi ini.

 

Bahwa sebenarnya,  menggerakkan  orang  lewat cita-cita, semangat dan gambaran ideal di masa depan, -----dan bukan saja dengan uang, adalah sekaligus menjauhkan dari perbuatan menyimpang. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pernah melakukannya dan ternyata berhasil, yakni  berjuang dan sekaligus berkorban. Itulah sebabnya, sementara orang menyebut bahwa  gerakan itu  hanya bermodalkan nasi bungkus. Wallahu a’lam