Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 13626 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 97019 |
![]() | Bulan ini | 568787 |
![]() | Total | 29159954 |
| Menghargai Para Pemimpin |
|
|
|
| Ditulis oleh Kerjasama - UIN Malang |
| Selasa, 13 Desember 2011 07:55 |
|
Hal yang masih terlewatkan dari bangsa ini adalah kesediaan menghargai para pemimpinnya. Sejak presiden pertama, yakni Ir. Soekarno, kemudian diteruskan dengan Soeharto, dan juga KH Abdurrahman Wahid, oleh sementara kalangan dianggap telah melakukan kesalahan hingga mendapatkan kesan yang kurang semestinya sebagai seorang pemimpin bangsa.
Dua presiden lainnya saja, yaitu BJ Habibie dan Megawati Soekarnoputri yang dianggap tidak terlalu memiliki kesalahan. Namun juga, BJ Habibie di akhir kekuasaannya menyisakan kesan yang kurang menggembirakan, karena pertanggung-jawabannya tidak diterima oleh parlemen. Padahal sebenarnya, prestasi beliau baik semasa menjadi menteri, wakil presiden dan juga tatkala menjadi presiden di era reformasi, menggantikan Presiden Soeharto, dalam banyak hal, prestasinya luar biasa.
Untuk menjadi seorang pemimpin di negeri ini bukanlah perkara mudah dan apalagi pemimpin puncak, sebagai seorang presiden. Mereka harus memiliki prestasi luar biasa. Presiden Ir. H. Soekarno tidak akan menjadi presiden umpama beliau bukan seorang yang cerdas, pemberani, mampu menggerakkan orang, bersedia berkorban dengan resiko apapun ketika itu. Begitu pula H.M. Soeharto tidak akan tampil memimpin bangsa ini umpama saja, ia tidak memiliki kelebihan yang luar biasa. Demikian pula para pemimpin bangsa Indonesia ini lainnya.
Tatkala sedang memimpin, mereka itu berhasil menunjukkan kecintaan, integritas, dan berbagai kelebihan lainnya terhadap bangsa, negara dan tanah airnya. Apapun dibela sekuat kemampuan yang ada. Mereka bercita-cita untuk memakmurkan dan mensejahterakan seluruh rakyatnya. Usaha-usaha itu dilakukan dengan pilihan strategi terbaik disesuaikan tantangan ketika itu. Langkah-langkah strategi Presiden Soekarno memang berbeda dengan Presiden Soeharto, BJ Habibie, dan seterusnya. Perbedaan itu terjadi karena tantangan yang dihadapi oleh masing-masing adalah berbeda-beda. Akan tetapi dari semua itu pasti memiliki kesamaan, yaitu mereka sama-sama berusaha mengangkat harkat dan martabat bangsa ini secara keseluruhan.
Umpama yang dilihat dari para presiden republik itu adalah aspek batinnya, yakni semangat, niat, motivasi, tekad yang dimiliki, maka mereka akan tampak kesamaannya. Mereka akan kelihatan sebagai pribadi pemimpin besar yang memiliki hati mulia dan selalu mencintai bangsa, negara, tanah air, dan rakyatnya. Jika pandangan itu yang dikembangkan, maka hingga selesai masa jabatannya, akan tetap dipandang sebagai pemimpin bangsa, yang seharusnya mendapatkan penghargaan dan tetap menjadi tauladan bagi seluruh rakyatnya.
Sebaliknya, jika yang dilihat adalah aspek dhahir atau sisi-sisi yang tampak, maka bisa jadi, oleh karena persepektif, masa kepemimpinan, dan tantangan yang berbeda-beda, maka pemimpin itu akan dipandang melakukan kesalahan. Jika perspektif terakhir itu yang digunakan untuk melihatnya, maka kiranya akan sulit menemukan pemimpin bangsa yang dirasakan sempurna. Pemimpin memang selalu memiliki kelebihan, namun sebagai manusia biasa tidak pernah luput dari kesalahan. Sebagai bangsa besar maka harus memiliki tokoh-tokoh besar sebagai pemimpinnya. Para pemimpin itu seharusnya dikenal, dihormati, dibanggakan dan juga dijadikan pelajaran bagi kehidupan ini. Itulah bangsa besar, yang seharusnya bersedia menghargai dan menghormati para pemimpinnya sendiri. Wallahu a’lam. |