Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 2176 |
![]() | Kemarin | 30712 |
![]() | Minggu ini | 142919 |
![]() | Bulan ini | 588049 |
![]() | Total | 29179216 |
| Membangun Sangkar Ilmu |
|
|
|
| Kamis, 22 Desember 2011 19:06 |
|
Kampus perguruan tinggi di mana-mana tatkala di lihat dari luar hanyalah berupa sejumlah bangunan yang sehari-hari difungsikan untuk kegiatan akademik. Di tempat itu para dosen dan mahasiswa melakukan aktifitas yang terkait dengan pengembangan ilmu. Itulah sebabnya maka perghuruan tinggi disebut sebagai pusat pengembangan ilmu, dan bahkan oleh sementara orang disebut dengan istilah sangkar ilmu.
Namun demikian pada kenyataannya tidak semua kampus benar-benar berhasil menjalankan fungsi yang sebenarnya itu. Sebab tidak sedikit dosen, karena terbatas karya-karya akademiknya dikenal sebagai seorang ilmuwan. Pada kenyataannya, banyak dosen yang belum memperoleh pengakuan itu. Oleh karena itu bisa jadi, kampus hanya dihuni oleh dosen yang bukan ilmuwan, sehingga sebutan sebagai sangkar ilmu tidak diperoleh.
Sebutan sangkar ilmu menggambarkan adanya wibawa yang tidak gampang diraih oleh semua lembaga pendidikan tinggi. Artinya tidak semua kampus berhasil mendapatkan sebutan yang bergengsi itu. Sebutan sebagai sangkar ilmu untuk menggambarkan bahwa para penghuninya telah memiliki kewibawaan sebagai penyandang ilmu, oleh karena karya-karya ilmiahnya dikenal luas.
Sangkar ilmu sebagaimana digambarkan itu mestinya dijadikan sebagai cita-cita oleh semua perguruan tinggi, sekalipun untuk mencapainya bukanlah perkara mudah. Sekedar membangun kedung yang kokoh, indah dan megah tidak terlalu sulit. Tetapi mengisi gedung tersebut dengan orang-orang yang menyandang nama besar sebagai ilmuwan, pasti tidak gampang.
Terkait dengan ilmuwan, ada teka-teki yang belum terjawab, yaitu apakah seorang ilmuwan itu lahir dengan sendirinya atau harus dibentuk. Teka-teki itu muncul oleh karena pada kenyataannya banyak orang yang telah menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi (S3), tetapi sudah sekian lama tetap saja tidak tampak keilmuan yang disandangnya. Itulah sebabnya maka tidak banyak kampus, yang benar-benar memiliki ilmuwan yang cukup banyak. Akibatnya, tidak semua perguruan tinggi dipandang sebagai sangkar ilmu yang dimaksudkan itu.
Kampus akan berhasil melahirkan para ilmuwan manakala mampu membangun iklim yang cocok dengan itu. Suasana yang cocok yang dimaksudkan itu adalah apabila kampus dimaksud berhasil membangun iklim akademik. Di kampus itu mendorong orang menyukai bertanya dan sekaligus mencari jawabannya lewat penelitian ilmiah. Kampus itu memiliki perpustakaan, laboratorium dan sumber-sumber informasi yang memadai. Selain itu, kegiatan dan prestasi akademik mendapatkan apresiasi atau penghargaan yang tinggi.
Semua perguruan tinggi, tidak terkecuali perguruan tinggi Islam, seharusnya mampu menjadikan dirinya melakukan peran strategis seperti itu. Sebab perguruan tinggi Islam memiliki sejarah dan filosofi yang jelas dan kokoh, yaitu berdasarkan kitab suci dan sejarah kenabian yang kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya dari zaman ke zaman.
Dalam sejarah kehidupan ini, setiap zaman selalu muncul orang-orang yang melakukan aktifitas akademik dengan cara banyak berpikir, merenung, meneliti dan menuliskan hasilnya. Lewat tulisan dan atau karya ilmiahnya itu mereka kemudian dikenal, dihargai dan sekaligus juga dikagumi dan atau sebaliknya, dikritik dan dicaci maki. Apapun yang diberikan itu, seorang ilmuwan tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Seorang ilmuwan memang wajar berbeda dari orang awam pada umumnya.
Para ilmuwan dikagumi jika tulisannya diterima dan dianggap benar,tetapi sebaliknya dikritikl dan dicaci jika dipandang buah pikirannya dipandang menyimpang dari kebiasaan yang hidup dan berkembang di masyarakat. Namun cacian itu setelah melewati sejarah yang cukup lama bisa saja berbalik mendapatkan pengakuan atas kebenarannya. Sebagai contoh, dalam bidang politik bisa disebut nama Machiavelli. Pada awalnya pikiran-pikirannya dikecam, tetapi beberapa abad kemudian justru dijadikan bahan kajian yang tidak henti-hentinya.
Apabila kegiatan berpikir, merenung, berdiskusi, berdebat, meneliti dan menulis sudah menjadi budaya bagi warga kampus, maka artinya tempat itu sudah menjadi sangkar ilmu. Sebaliknya, kalau belum, maka perguruan tinggi dimaksud baru menunaikan tugas elementer, yaitu memproduk lulusan, mewisuda sarjana, dan membagi-bagi ijazah pada setiap akhir semester. Prestasi itu sekalipun disambut gembira, belum dipandang sebagai perguruan tinggi yang benar-benar perguruan tinggi, atau layak disebut sebagai sangkar ilmu tersebut. Wallahu a’lam |