Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 21981 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 105374 |
![]() | Bulan ini | 577142 |
![]() | Total | 29168309 |
| Hari Ibu Mengingatkan Dua Pesan Peting Ibu yang Harus dijadikan Pegangan |
|
|
|
| Kamis, 22 Desember 2011 21:53 |
|
Di setiap peringatan hari ibu pada tanggal 22 Desember, -------seperti sekarang ini, saya selalu tengingat kembali dua pesan ibu semasa masih hidup yang saya rasakan amat penting. Pesan itu sangat mengesankan, karena selalu diulang-ulang. Pertama adalah, agar selalu hidup prihatin dan yang kedua, di mana saja dan dalam keadaan apa saja, agar tidak menyakiti hati orang lain.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi ternyata tidak mudah dilakukan. Hidup prihatin yang dimaksudkan itu adalah menjalani hidup yang tidak berlebih-lebihan. Ibu menghendaki agar hidup ini dijalani dengan kesederhanaan dan atau tidak berlebih-lebihan. Kata prihatin yang dimaksudkan itu adalah berani menahan nafsu, mengurangi tidur, dan makan atau minum.
Terlalu banyak tidur dan makan oleh ibu dipandang bukan perilaku yang baik. Apalagi sebagai seorang guru atau pemimpin. Seorang guru atau pemimpin masyarakat harus berani mengurangi makan dan tidur. Rupanya, pada zaman sekarang ini yang terjadi justru berbalik dari pesan itu. Pimpinan masyarakat tampak biasa saja berpesta dan rapat di hotel mewah, bahkan tidak membatasi tidur dan makan, agar badannya sehat.
Kemampuan hidup prihatin, oleh pada umumnya orang tua zaman dulu, dianggap sebagai senjata ampuh untuk mengatasi berbagai problem kehidupan. Orang yang terlalu banyak makan dan tidur, menurut nasehat ibu, menjadi tidak akan berwibawa, dan akan hilang kecerdasan dan kearifannya. Orang yang banyak makan dan banyak tidur dianggap sebagai orang yang tidak mampu menjaga kehormatan dan akhlaknya.
Pesan yang kedua, yaitu agar tidak pernah menyakiti hati orang lain. Peringatan itu dianggap begitu pentingnya, oleh karena umpama bisa memilih, orang lebih memilih disakiti badannya daripada disakiti hatinya. Badan yang terasa sakit karena dipukul, segera akan hilang sakitnya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi, rasa sakit hati akan berlangsung lama, dan bahkan bertahun-tahun tidak akan hilang.
Rasa sakit hati, akibat orang lain, ------kata ibu, bagaikan kaca yang pecah. Maka, kaca yang pecah itu tidak akan dapat direkatkan kembali secara sempurna. Rasa sakit itu mungkin sementara bisa dilupakan, akan tetapi pada suatu waktu akan teringat kembali. Sulit sekali melupakan rasa sakit hati, dan tidak sebagaimana sakit yang dirasakan pada anggota badan lainnya.
Kedua jenis pesan itu, adalah sangat sederhana, tetapi ternyata sangat penting dan tidak mudah dijalankan. Kedua jenis pesan itu jika direnungkan, memang memiliki makna yang amat mendalam. Kekuatan orang, dan apalagi seorang pemimpin, bukan terletak pada hal yang bersifat jasmaniah, melainkan pada aspek batiniyahnya. Banyaknya kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat, --------jika direnungkan secara mendalam, sebenarnya adalah oleh karena mereka tidak mau hidup prihatin, dan tidak mau menjaga hati orang lain, terutama rakyat yang dipimpinnya. Wallahu a’lam. |