Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 194 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini21981
mod_vvisit_counterKemarin24587
mod_vvisit_counterMinggu ini105374
mod_vvisit_counterBulan ini577142
mod_vvisit_counterTotal29168309
Hari Ibu Mengingatkan Dua Pesan Peting Ibu yang Harus dijadikan Pegangan PDF Cetak E-mail
Kamis, 22 Desember 2011 21:53

 

Di setiap peringatan hari ibu pada tanggal 22 Desember, -------seperti sekarang ini,  saya selalu tengingat kembali dua pesan ibu semasa masih hidup yang saya rasakan amat penting. Pesan itu sangat mengesankan, karena selalu diulang-ulang.  Pertama  adalah,  agar  selalu  hidup prihatin  dan yang kedua,  di mana saja dan  dalam keadaan apa saja, agar  tidak menyakiti hati orang lain.

                                                                                                                                                 

Pesan itu terasa sederhana, tetapi ternyata tidak mudah dilakukan. Hidup prihatin yang dimaksudkan itu adalah  menjalani hidup yang tidak berlebih-lebihan. Ibu menghendaki agar hidup ini dijalani dengan kesederhanaan dan  atau tidak berlebih-lebihan. Kata prihatin yang dimaksudkan itu adalah berani menahan nafsu, mengurangi tidur,  dan makan atau minum.

 

Terlalu banyak tidur dan makan oleh ibu dipandang bukan perilaku yang baik. Apalagi sebagai seorang guru atau pemimpin. Seorang guru atau pemimpin masyarakat harus berani mengurangi makan dan tidur. Rupanya, pada zaman sekarang ini yang terjadi justru berbalik dari pesan itu. Pimpinan masyarakat tampak biasa saja berpesta dan rapat di hotel mewah, bahkan tidak membatasi tidur dan makan, agar badannya sehat.

 

Kemampuan hidup prihatin, oleh pada umumnya orang tua zaman dulu,  dianggap sebagai senjata ampuh untuk mengatasi berbagai problem kehidupan. Orang yang terlalu banyak makan dan tidur, menurut nasehat ibu, menjadi tidak akan berwibawa, dan akan hilang kecerdasan dan kearifannya. Orang yang banyak makan dan banyak tidur  dianggap sebagai orang yang tidak mampu menjaga kehormatan  dan akhlaknya.

 

Pesan yang kedua, yaitu agar tidak pernah menyakiti hati orang lain.  Peringatan itu dianggap begitu pentingnya, oleh karena  umpama bisa memilih,  orang lebih memilih disakiti badannya daripada disakiti hatinya.  Badan yang terasa sakit karena dipukul, segera akan hilang sakitnya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi, rasa sakit hati akan berlangsung lama,  dan bahkan bertahun-tahun tidak akan hilang.  

 

Rasa sakit hati,  akibat orang lain, ------kata ibu, bagaikan kaca yang pecah. Maka,  kaca yang pecah  itu tidak akan dapat direkatkan kembali secara sempurna.  Rasa sakit itu mungkin sementara bisa dilupakan, akan tetapi pada suatu waktu akan teringat kembali. Sulit sekali melupakan rasa sakit hati,  dan tidak sebagaimana sakit yang dirasakan  pada anggota badan lainnya.

 

Kedua jenis pesan itu, adalah  sangat sederhana,  tetapi ternyata sangat penting dan tidak mudah dijalankan.   Kedua jenis pesan itu jika direnungkan,  memang  memiliki makna yang amat mendalam.  Kekuatan orang, dan apalagi seorang pemimpin, bukan terletak pada hal yang bersifat jasmaniah, melainkan pada aspek batiniyahnya. Banyaknya kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat, --------jika direnungkan secara mendalam,  sebenarnya adalah oleh karena mereka tidak mau hidup prihatin,  dan tidak mau menjaga hati orang lain, terutama rakyat yang dipimpinnya. Wallahu a’lam.