Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Di Tajikistan, Berbicara Agama Dianggap SensitifKebetulan saja, ketika nyampai di Tajikistan, saya diarahkan untuk menginap di Hotel... |
Berdiskusi dengan Duta Besar RI untuk Sudan Terkait Kerjasama PendidikanPada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013, Duta Besar RI untuk Sudan... |
Bersinggah di Airport Negara Muslim Kaya MinyakDi dalam perjalanan pulang dari Tajikistan dan singgah di Dubai, mau tidak... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 20993 |
![]() | Kemarin | 37422 |
![]() | Minggu ini | 214786 |
![]() | Bulan ini | 686554 |
![]() | Total | 29277721 |
| Ragam Saringan Masuk PTN |
|
|
|
| Sabtu, 31 Maret 2012 16:17 |
|
Di antara beberapa hal yang agaknya berubah terkait dengan pengelolaan perguruan tinggi adalah cara seleksi mahasiswa baru. Dulu sepuluh tahun ke belakang, tidak semua orang bisa masuk perguruan tinggi negeri. Bahkan untuk perguruan tinggi tertentu, dalam arti perguruan tinggi yang telah memiliki nama, tidak sembarang orang berhasil menjadi mahasiswa baru. Test masuk sedemikiian ketat. Perguruan tinggi ketika itu tidak ambil pusing, apakah mendapatkan murid atau tidak. Bagi mereka yang penting mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas.
Cara berpikir tersebut, beberapa tahun terakhir ini sudah ditinggalkan. Banyak PTN menerima mahasiswa dalam jumlah yang cukup besar. Besarnya jumlah itu, selain sebagai akibat penambahan fakultas atau program studi, juga oleh karena semangat memperbesar kuantitas mahasiswanya. Rupanya jumlah mahasiswa termasuk dijadikan ukuran untuk melihat kebesaran perguruan tinggi. Kehebatan perguruan tinggi bukan saja dilihat dari hasil karya akademik guru besarnya, melainkan pada kuantitas mahasiswa, dan bahkan luasan tanah, dan keindahan gedungnya.
Perubahan orientasi perguruan juga termasuk dalam seleksi masih mahasiswa baru pada setiap tahun. Akhir-akhir ini seleksi penerimaan mahasiswa baru menjadi beraneka ragam jenisnya, hingga tidak terlalu mudah dijelaskan, apa sebenarnya orientasi yang sebenarnya diinginkan. Beberapa ragam itu misalnya melalui SNMPTN, seleksi undangan, ujian mandiri, jalur kerjasama, pemerataan dan masih ada lainnya. Jenis saringan yang beraneka ragam seperti itu mengakibatkan seorang calon mahasiswa yang tidak diterima pada jalur tertentu, masih bisa berusaha lewat jalur lain, dan akhirnya berhasil diterima.
Munculnya berbagai jalur tersebut, dan ditambah lagi adanya dorongan pemerintah pusat agar memperbesar jumlah mahasiswa, maka menjadikan sedemikian mudah seseorang bisa masuk perguruan tinggi negeri. Akibatnya, tidak sedikit perguruan tinggi swasta atau PTS di berbagai kota kekurangan mahasiswa. Memang bagi PTS yang sudah kuat, masih mampu bertahan. Akan tetapi, ada saja PTS, oleh karena tidak mendapatkan mahasiswa, terpaksa ditutup. Sekedar untuk mempertahankan hidup, ada sementara PTS mengambil strategi membuka klas-klas jauh yang berada di kota-kota kecil. Strategi tersebut menguntungkan terutama bagi mereka yang tidak mampu datang ke kota besar, tetapi tentu dalam beberapa aspek, PTS dimaksud harus mengorbankan kualitas akademiknya.
Umpama pemerintah dalam meningkatkan jumlah mahasiswa dilakukan dengan cara membatasi mahasiswa PTN maka tidak akan ada PTS yang berhenti beroperasi oleh karena kekurangan peminat. PTN dan PTS akan sama-sama hidup. Mungkin PTN diorientasikan untuk menjaga mutu pendidikan tinggi, sedangkan PTS diarahkan untuk menampung bagi mereka yang tidak diterima di PTN, baik karena alasan mutu atau lainnya. Oleh karena PTN diorientasikan untuk menjaga mutu, maka juga ditugasi untuk mengawasi perguruan tinggi swasta. PTN diposisikan sebagai simbol atau pemandu kualitas perguruan tinggi.
Sebagai akibat banyaknya jalur seleksi masuk PTN dan jumlah penerimaan mahasiswa yang hampir-hampir tidak terbatas, maka seolah-olah antara PTN dan PTS masuk dalam suasana persaingan penerimaan mahasiswa baru yang tidak seimbang. Tentu beberapa PTN menang dan sebaliknya, PTS kalah. Oleh karena biaya operasional PTS, lebih banyak diperoleh dari mahasiswa baru, maka tatkala jumlah mahasiswanya menurun dan bahkan tidak mencukupui, maka PTS menghentikan kegiatannya. Padahal di PTS yang bersangkutan sudah tersedia sarana dan prasarana pendidikan, termasuk tenaga dosen yang memadai.
Umpama saja atas dasar pertimbangan mahalnya aset pendidikan tinggi, dilakukan pembagian tugas antara PTN dan PTS, maka tidak akan ada hal yang mubadzir. PTN diharuskan mampu menjadi penjaga mutu, sedangkan PTS diorientasikan melayani masyarakat yang berharap mendapatkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Hal itu, tentu tidak menutup kemungkinan PTS tertentu juga melakukan peran yang sama dengan PTN. Dalam suasana yang serba terbatas seperti sekarang ini, tidak boleh ada kebijakan yang kurang tepat, hingga mengakibatkan institusi lain terganggu, dan apalagi bahkan mati. Banyaknya saringan masuk yang ditawarkan oleh PTN, ------dalam jangka panjang, tidak saja mengganggu kewibawaan akademik perguruan tinggi yang bersangkutan, tetapi juga berdampak negatif pada institusi perguruan tinggi lainnya yang juga ingin hidup dan berkembang. Wallahu a’lam. |