Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 255 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini20993
mod_vvisit_counterKemarin37422
mod_vvisit_counterMinggu ini214786
mod_vvisit_counterBulan ini686554
mod_vvisit_counterTotal29277721
Ragam Saringan Masuk PTN PDF Cetak E-mail
Sabtu, 31 Maret 2012 16:17

 

Di antara beberapa hal yang agaknya berubah terkait dengan pengelolaan perguruan tinggi adalah cara seleksi mahasiswa baru.  Dulu  sepuluh tahun  ke belakang, tidak semua orang bisa masuk perguruan tinggi negeri. Bahkan untuk perguruan tinggi tertentu,  dalam arti  perguruan tinggi yang telah memiliki nama, tidak sembarang orang berhasil  menjadi mahasiswa baru.  Test masuk sedemikiian ketat. Perguruan tinggi ketika itu tidak ambil pusing, apakah mendapatkan murid  atau tidak. Bagi mereka yang penting  mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas.

 

Cara berpikir  tersebut, beberapa tahun terakhir ini sudah ditinggalkan.  Banyak PTN menerima mahasiswa dalam jumlah yang cukup  besar.  Besarnya jumlah  itu, selain sebagai akibat penambahan fakultas atau program studi, juga oleh karena semangat memperbesar kuantitas mahasiswanya. Rupanya jumlah mahasiswa termasuk dijadikan ukuran untuk melihat kebesaran perguruan  tinggi. Kehebatan perguruan tinggi bukan  saja dilihat dari hasil karya akademik guru besarnya, melainkan pada kuantitas mahasiswa, dan bahkan luasan  tanah,  dan keindahan gedungnya.

 

Perubahan orientasi  perguruan  juga termasuk dalam seleksi masih mahasiswa baru pada setiap tahun.  Akhir-akhir ini seleksi penerimaan mahasiswa baru menjadi beraneka ragam jenisnya, hingga tidak terlalu mudah dijelaskan,  apa sebenarnya orientasi yang sebenarnya diinginkan. Beberapa ragam itu misalnya melalui  SNMPTN, seleksi undangan, ujian mandiri, jalur kerjasama, pemerataan dan masih ada lainnya. Jenis saringan yang beraneka ragam seperti itu mengakibatkan seorang calon mahasiswa yang tidak diterima pada jalur tertentu, masih  bisa berusaha lewat jalur lain, dan akhirnya berhasil diterima.      

 

Munculnya berbagai jalur tersebut, dan ditambah lagi adanya dorongan pemerintah pusat agar memperbesar jumlah mahasiswa, maka menjadikan  sedemikian mudah seseorang bisa masuk perguruan tinggi negeri. Akibatnya, tidak sedikit perguruan tinggi swasta atau PTS di berbagai kota kekurangan mahasiswa. Memang  bagi PTS  yang sudah kuat, masih   mampu  bertahan. Akan   tetapi, ada saja PTS, oleh karena tidak mendapatkan mahasiswa, terpaksa ditutup.   Sekedar untuk mempertahankan hidup,  ada sementara PTS mengambil strategi membuka klas-klas jauh yang berada di kota-kota kecil.  Strategi  tersebut  menguntungkan terutama bagi mereka yang tidak mampu datang ke kota besar, tetapi tentu dalam beberapa aspek,  PTS dimaksud harus mengorbankan kualitas akademiknya.

 

Umpama pemerintah dalam meningkatkan jumlah mahasiswa dilakukan dengan cara membatasi mahasiswa PTN maka tidak akan  ada  PTS yang berhenti beroperasi oleh karena kekurangan peminat.  PTN dan PTS akan sama-sama hidup. Mungkin PTN diorientasikan untuk menjaga mutu pendidikan tinggi, sedangkan PTS diarahkan untuk menampung bagi  mereka yang tidak diterima di PTN, baik  karena alasan mutu atau lainnya. Oleh karena PTN diorientasikan untuk menjaga mutu, maka juga ditugasi untuk mengawasi perguruan tinggi swasta. PTN diposisikan sebagai simbol atau pemandu kualitas perguruan tinggi.

 

Sebagai akibat banyaknya jalur seleksi masuk PTN dan jumlah penerimaan mahasiswa yang hampir-hampir tidak terbatas, maka seolah-olah antara PTN dan PTS masuk dalam suasana    persaingan   penerimaan mahasiswa baru yang tidak seimbang. Tentu  beberapa PTN  menang  dan sebaliknya, PTS kalah. Oleh karena biaya operasional PTS,  lebih banyak diperoleh dari mahasiswa baru, maka tatkala jumlah mahasiswanya menurun  dan bahkan tidak mencukupui, maka PTS menghentikan kegiatannya. Padahal di PTS yang bersangkutan sudah tersedia sarana dan prasarana pendidikan,  termasuk tenaga dosen yang memadai.

 

Umpama saja atas dasar  pertimbangan  mahalnya aset  pendidikan tinggi,   dilakukan  pembagian tugas antara PTN dan PTS,  maka tidak akan ada hal yang mubadzir. PTN diharuskan mampu menjadi penjaga mutu, sedangkan PTS diorientasikan melayani masyarakat yang berharap mendapatkan pendidikan  hingga perguruan tinggi. Hal itu, tentu tidak menutup kemungkinan PTS tertentu juga melakukan peran yang sama dengan PTN.  Dalam suasana yang serba terbatas seperti sekarang ini,  tidak boleh ada   kebijakan yang kurang tepat,  hingga mengakibatkan institusi lain terganggu,  dan apalagi bahkan  mati. Banyaknya saringan masuk yang ditawarkan oleh PTN, ------dalam jangka panjang, tidak saja mengganggu kewibawaan akademik perguruan tinggi yang bersangkutan, tetapi juga berdampak negatif pada  institusi perguruan tinggi lainnya yang juga ingin hidup dan berkembang. Wallahu a’lam.