Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
Mempertegas Posisi Pendidikan AgamaSepanjang sejarah kehidupan bangsa, pendidikan agama dipandang sangat penting dan strategis untuk... |
Waktu Tengah Malam Mendarat di Dushanbe, TajikistanBaru pertama kali saya ke Tajikistan. Sebelumnya, tahun lalu, pernah ke Moskow,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 8281 |
![]() | Kemarin | 29436 |
![]() | Minggu ini | 37717 |
![]() | Bulan ini | 509485 |
![]() | Total | 29100652 |
| Idiologi Kemenangan |
|
|
|
| Minggu, 01 April 2012 18:43 |
|
Rasanya menarik tatakala mengamati pihak-pihak yang berkompeten berusaha mencari kesepakatan dalam nenaikkan harga BBM. Antara mereka yang pro dan kontra tidak berada pada satu garis lurus dalam satu pandangan organisasi politik maupun birokrasi. Sepintas orang tidak akan heran atas kejadian itu. Karena dalam berpolitik dan bahkan birokrasi sejak awal bukan berbasis pada ideologi yang sama, melainkan pada kepentingan yang serupa, yaitu ingin mendapatkan kemenangan.
Dalam kehidupan politik, pada saat ini tidak terlalu mudah menyebut partai mana yang sebenarnya berkuasa. Pada tingkat pusat terjadi koalisi antara beberapa partai politik yang kemudian menyebutnya sebagai partai penguasa. Sebaliknya, beberapa partai lain menganggap mereka sebagai partai oposisi. Baik partai pendukung pemerintah maupun yang berposisi sebagai oposisi, kebersamaannya tidak terlalu kokoh. Dalam berbagai kasus, perbedaan-perbedaan itu muncul ke permukaan. Saling tuduh menuduh dan mengancam seringkali terjadi.
Gambaran itu lebih rumit lagi terjadi pada tingkat pemerintah wilayah propinsi maupun kota dan kabupaten. Koalisi yang terjadi di tingkat pusat sama sekali tidak tergambar di masing-masing tingkat daerah. Keadaannya beraneka ragam, tergantung pada kekuatan politik daerah masing-masing. Di suatu daerah, beberapa partai politik mendukung seseorang untuk menjadi kepala daerah. Akan tetapi pada daerah lain, bangunan koalisi partai piolitik berbeda lagi. Hal itu terjadi baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kota atau kabupaten. Kedaannya bisa disebut terlalu kacau.
Kekacauan seperti itu bisa dilihat secara jelas, misalnya di propinsi A gubernurnya adalah dari Partai Golkar, semetara gubernur di Propinsi B adalah dari Golkar, dan akan berbeda pula di propinsi C, gubernurnya adalah dari partai PDIP, misalnya. Demikian pula yang terjadi pada tingkat kabupaten atau kota. Oleh karena itu, seorang kepala daerah tidak saja disebut sebagai berkali dua, yaitu kaki yang berada di birokrasi sebagai kepala daerah dan kaki lainnya ada di partai politik. Kaki itu bisa beraneka ragam , karena partai politiknya bermacam-macam. Tambahan lagi, bahwa antara penguasa di tingkat propinsi dan di tingkat pusat ternyata berbeda-beda. Seorang bupati misalnya, ia didukung oleh partai Golkar, tetapi harus loyal kepada gubernur yang basis dukungannya PDIP dan bahkan kepada presiden yang berasal dari Partai Demokrat.
Dilihat dari ilmu managemen, keadaan seperti itu adalah sangat tidak menguntungkan. Manajemen yang berhasil manakala seorang pimpinan mampu membangun visi, misi dan orientasi yang sama. Bisa saja pemerintah pusat mengajak bahwa semua kepala daerah pada tingkat propinsi maupun kabupaten kota harus memiliki loyalitas terhadap kepentingan masyarakat dan tidak boleh loyalitas itu diberikan kepada partai politik. Kepentingan masyarakat harus didahulukan dari kepentingan organisasi politik atau lainnya. Ajakan seperti itu, secara teoritik bisa diterima dan mudah dicarikan logikanya. Akan tetapi pada tataran praksis tidak akan mudah dilakukan. Seorang bupati atau walikota yang pengangkatannya didukung oleh partai tertentu, atau oleh beberapa partai politik, maka tidak akan mampu melepaskan loyalitasnya terhadap partai pendudukungnya. Hal itu adalah wajar dan manusiawi.
Kedaan itu menjadi lebih rumit lagi oleh karena bangunan koalisi partai-partai politik pendukung pemerintah di tingkat daerah, wilayah dan pusat tidak selalu sama. Di tingkat pusat misalnya pemerintah didukung oleh Partai Demokrat, Golkar, PPP, PKS, PKB dan PAN, sementara di tingkat propinsi keadaannya sangat variatif. Ada sementara gubernur yang didukung oleh Golkar, PDIP, PPP dan PKS; sedangkan Gubernur lainnya didukung oleh PDIP, Hanura, PKS dan lain-lain. Aneka ragam koalisi itu terbangun rupanya sekedar oleh idiologi kemenangan. Masing-masing partai politik berkoalisi bukan untuk memenangkan ideologi partainya, melainkan agar mendapatkan bagian kemenangan, yaitu dari ikut menentukan gubernur, bupati atau walikota.
Komposisi yang beraneka ragam dari masing-masing wilayah dan atau daerah itu pada satu sisi menguntungkan. Idiologi primordial seperti misalnya berbasis agama, nasionalis, sosialis, dan lain-lain, lama kelamaan akan menjadi hilang. Orang tidak akan terlalu fanatik dengan idiologi itu. Sebagai penggantinya adalah idiologi kemengan. Bagi mereka yang terpenting adalah menang dan mendapatkan tempat atau posisi strategis. Namun yang perlu dilihat kembali adalah, sebagai akibatnya, masyarakat akan menjadi terlalu prakmatis. Keadaan seperti itu akan mengakibatkan terjadinya transaksi-transaksi politik yang berbasis keuntungan sesaat. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka partai politik tidak lagi memperjuangkan rakyat melainkan untuk kepentingan pribadi-pribadi yang bersangkutan. Berjuang bukan untuk rakyat, melainkan untuk mencari keuntungan sendiri-sendiri. Itulah bahaya dari munculnya idiologi kemenengan, yaitu bahwa yang terpenting adalah menang dan mendapatkan untung. Wallahu a’lam. |