Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
Mempertegas Posisi Pendidikan AgamaSepanjang sejarah kehidupan bangsa, pendidikan agama dipandang sangat penting dan strategis untuk... |
Waktu Tengah Malam Mendarat di Dushanbe, TajikistanBaru pertama kali saya ke Tajikistan. Sebelumnya, tahun lalu, pernah ke Moskow,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 25960 |
![]() | Kemarin | 26638 |
![]() | Minggu ini | 25960 |
![]() | Bulan ini | 497728 |
![]() | Total | 29088895 |
| Politik Berburu |
|
|
|
| Rabu, 04 April 2012 22:58 |
|
Memang semestinya politik ya politik, dan berburu ya berburu. Tidak akan ada kaitan antara politik dan berburu. Kalau memang dua kata itu ingin dikait-kaitkan, maka sebenarnya hanya untuk membaca perpolitikan yang sedang terjadi. Menarik dan perlu dilihat secara saksama, pada akhir-akhir ini, seringkali terdengar kisruh terkait politik, yang seharusnya tidak perlu terjadi. Para elite politik mestinya sibuk mengurus rakyat, dan bukan mengurus dirinya sendiri.
Pada saat masih kecil, ketika tinggal di desa dulu, waktu hari minggu dan tidak ada tugas dari orang tua yang lebih penting, sekali-sekali saya bersama teman-teman berburu ke hutan. Binatang yang diburu biasanya kijang. Ada jenis binatang lain yang jumlahnya lebih banyak, yaitu babi hutan. Namun binatang ini tidak dijadikan sasaran, oleh karena bagi anak-anak santri tidak boleh mengkonsumsinya. Haram hukumnya.
Berburu kijang tidak mudah, selain jumlah binatang itu terbatas, juga larinya amat kencang. Tapi sekali-kali berhasil menangkap, kalau lagi untung. Berburu kijang, harus pakai jebakan, yaitu jaring. Berburu jenis binatang itu tidak bisa dilakukan sendirian. Harus ada beberapa orang untuk bekerjasama. Sebagian bertugas menghalau, agar binatang tersebut lari ke arah jaring yang dimaksudkan, sedangkan lainnya, menjaga jebakan itu dari dekat. Kijang yang terjaring, tatkala sudah tidak bisa lari lagi, harus segera ditangkap.
Binatang buruan yang berhasil ditangkap tersebut tidak akan dibawa pulang hidup-hidup, tetapi disembelih dan dagingnya dibagi-bagi kepada semua orang yang ikut berburu. Sebaliknya, orang-orang yang tidak tergabung dalam kelompok berburu tersebut, sekalipun sama-sama berada di lokasi itu, tidak akan diberi hasilnya. Siapapun yang ikut, tidak peduli tingkat peran yang dilakukan, akan diberi bagian.
Berburu bagi anak-anak desa ketika itu sebenarnya memiliki manfaat. Selain untuk mendapatkan daging kijang itu sendiri, juga dimaksudkan sebagai kegiatan olah raga, hiburan, menjalin hubungan pertemanan, dan lain-lain. Seingat saya, sekalipun pekerjaan itu di hutan, ternyata tidak pernah ada konflik di antara anak-anak yang bergabung dalam tim berburu itu. Bagi mereka, yang penting berhasil menangkap kijang. Hasilnya akan bagi-bagi kepada semua yang terlibat dalam kegiatan berburu itu.
Sampai di sini pertanyaan yang perlu dijawab adalah, apa kaitan antara berburu dengan politik. Kalau anak-anak desa berburu di hutan akan mendapatkan kijang, maka orang kota yang bermain politik, ternyata juga berburu, ialah berburu kekuasaan. Pada setiap kali pemilu, pilihan presiden misalnya, masing-masing calon membentuk tim pemenangan. Tim itu bertugas meraih kemenangan, apapun caranya. Agar sukses atau menang, maka bisa saja, di antara beberapa partai membentuk koalisi. Kalau menang, kekuasaan itu akan dibagi-bagi, persis berburu itu.
Manakala tim tersebut benar-benar menang, maka sebagaimana anak-anak desa berburu kijang di hutan, akan membagi-bagi hasilnya. Siapapun yang ikut kerja, atau telah mengeluarkan keringat, maka harus mendapatkan bagian. Tentu pembagian itu disesuaikan dengan kesepakatan yang telah dibuat. Pembagian itu sekalipun tidak merata asalkan masing-masing mendapatkan bagian. Sebaliknya, siapapun yang tidak ikut berburu, sekalipun cerdas, kapabel, dan profesional, tidak akan diberi apa-apa.
Mengurus bangsa dan negara, apalagi bangsa yang besar seperti Indonesia ini, tentu merupakan beban yang amat berat. Tidak sembarang orang mampu menanggung amanah seberat itu. Mereka harus memiliki kekuatan intelektual, kematangan sosial, pribadi yang kokoh, profesional dan bekal kearifan yang tinggi. Oleh karena itu, manakala pembagian kekuasaan hanya didasarkan sebagaimana orang berburu, ------diberi jatah karena telah ikut mengeluarkan keringat, maka rakyat yang akan menanggung resikonya.
Melihat persoalan-persoalan berat dan rumit bangsa ini, saya membayangkan, jangan-jangan sumbernya adalah dari pembagian kekuasaan yang dilakukan sebagaimana membagi hasil buruan. Atas desakan partai koalisi, maka presiden tidak leluasa menentukan para pembantunya. Para pembantu presiden yang seharusnya dipilih atas dasar kapabilitas, kekayaan pengalaman, kematangan kepribadian, dan profesionalitasnya, tetapi pilihan itu hanya agar merata dan semua kebagian. Jika hal itu yang terjadi, maka keadaan yang kita rasakan seperti sekarang ini, bisa dengan mudah dipahami asal muasalnya, yaitu sebagai akibat dari politik berburu itu. Wallahu a’lam. |