Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 344 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini20404
mod_vvisit_counterKemarin42266
mod_vvisit_counterMinggu ini176775
mod_vvisit_counterBulan ini648543
mod_vvisit_counterTotal29239710
Memajukan PTAIN Lewat Contoh PDF Cetak E-mail
Kamis, 03 Mei 2012 19:28

 

Pada suatu saat,  saya diajak berbincang-bincang dengan salah seorang pejabat di kementerian agama.  Ia  mengajak berdiskusi  tentang bagaimana mengembangkan pendidikan tinggi Islam.  Secara  teoritik persoalan itu seperti tidak sulit dipecahkan, tetapi ternyata tidak demikian dalam pelaksanaannya.

 

Sulitnya mengembangkan lembaga pendidikan tinggi Islam negeri, kiranya   mudah dicarikan buktinya. Tidak sedikit  lembaga pendidikan tinggi Islam yang sudah berumur puluhan tahun, tetapi keadaannya tidak pernah berubah secara signifikan. Padahal anggaran yang diberikan oleh pemerintah,  dari tahun ke tahun tidak sedikit. Akibatnya,   orang menyebut perguruan tinggi Islam bersifat  statis, tidak maju, sulit berkembang, dan berbagai ciri-ciri lainnya yang kurang begitu menggembirakan.     

 

Banyak pimpinan perguruan tinggi Islam mengeluh, bahwa tenaga dosennya tidak mencukupi dan bahkan banyak di antara mereka yang mau melanjutkan pendidikan saja terkendala oleh  dana yang terbatas. Keluhan lainnya,  jumlah  anggaran pada setiap tahun tidak mencukupi untuk mengembangkan lembaganya. Demikian pula, pengembangan laboratorium maupun perpustakaan sulit dilakukan, karena  tidak disediakan dana. Akibatnya,  perguruan tinggi Islam tidak semua menunjukkan kemajuan.

 

Kenyataan seperti digambarkan  itu  seringkali mengundang pertanyaan, bagaimana memajukan perguraun tinggi Islam di berbagai daerah. Apa  yang sebenarnya menjadi kendala selama ini. Umpama  yang menjadi  hambatan  itu berupa dana, maka semestinya semua PTAIN keadaannya sama, padahal  kenyataannya tidak seperti itu. Terdapat beberapa yang mengalami kemajuan dan dinamis, tetapi ada sementara lainnya statis dan seperti tidak memiliki semangat maju.   

 

Menjawab pertanyaan tersebut di muka, saya mengingatkan bahwa bangsa ini sebenarnya sangat gemar untuk meniru. Ketika itu saya memberi contoh berupa beberapa kasus yang terjadi di daerah yang maju dalam hal-hal tertentu,  oleh karena mencontoh orang yang dilihatnya  sukses. Saya menunjuk di antaranya kota Pasuruan. Menyebut nama kota itu,  maka akan mengingatkan tentang kemajuan industri meubel. Bahwa dulu ada beberapa pengusaha meubel yang  hidupnya sukses. Kesuksesan itu ternyata ditiru oleh para tetangganya, hingga kemudian Pasuruan disebut sebagai kota meubel.

 

Demikian pula adalah kota Mojokerto. Banyak orang mengaitkan kota Mojokerto dengan keberhasilan dalam mengembangkan ternak bebek.  Tatkala menyebut nama Mojokerto maka segera mengingatkan pada ternak dan telor bebek. Sebab, telor bebek banyak dihasilkan dari Mojokerto. Kasusnya sama dengan di Pasuruan. Beberapa orang sukses memelihara bebek, kemudian  ditiru oleh tetangganya, sehingga daerah itu dikenal sebagai daerah sukses dalam mengembangkan telor bebek.

 

Kasus serupa adalah kabupaten Blitar. Oleh karena pada awalnya ada beberapa orang  yang   sukses dalam usaha ternak gurami, maka  keberhasilan itu segera ditiru oleh masyarakat lainnya, hingga tatkala berbicara Blitar maka segera teringat ternak gurami. Bahkan akhir-akhir ini,  dari Blitar orang mencari  jenis ikan unggul lainnya,  seperti ikan koi, ikan arwana  dan jenis ikan berkualitas lainnya.

 

Atas dasar  kasus kasus tersebut, maka sebenarnya masyarakat ini sangat mudah diajak  untuk meniru. Tatkala melihat kesuksesan,  maka orang tergerak untuk melakukan hal yang sama. Hal seperti itu sebenarnya juga sama, yaitu bisa terjadi dalam  pengembangan  perguruan tinggi Islam. Tatkala beberapa IAIN  dan STAIN berubah menjadi UIN dan dilihat berhasil, maka hampir semuanya ingin berubah pula. Persoalannya adalah mereka belum tahu cara mengubah, atau belum percaya bahwa mereka mampu mengubahnya.  Namun setidak-tidaknya mereka sudah  berkeinginan untuk melakukan perubahan.

 

Rupanya kegemaran untuk meniru itu memang tepat digunakan  untuk menggerakkan perubahan perguruan tinggi agama Islam. Maka tatkala mereka sudah bersemangat untuk berubah, maka yang diperlukan dari pemerintah adalah respon, target-target yang harus dicapai,  dan bahkan juga penyediaan pendanaan yang memadai. Mereka juga didorong agar   saling berkomunikasi, bertemu,  dan melihat lembaga pendidikan  yang sudah maju. Setelah itu, mereka juga perlu diyakinkan, bahwa jika semangat  itu sudah tumbuh, maka berbagai hal  yang terkait dengan kebutuhan perubahan itu akan dicarikan solusinya.         

 

Memang ternyata, kepercayaan diri di kalangan beberapa perguruan tinggi agama Islam masih perlu ditumbuh-kembangkan. Rupanya tidak mudah membangun kepercayaan diri itu. Mereka pada umumnya merasa kecil, merasa belum dipercaya oleh orang, merasa masih memiliki kemampuan terbatas, merasa belum bisa sama dengan  lainnya. Kalau itu persoalannya, maka juga perlu diajak melihat lembaga yang semula  berukuran kecil, yang ternyata dalam waktu singkat berhasil berubah menjadi besar.  Tentu kesenangan meniru itu harus dibarengi  dengan upaya membangun kepercayaan diri. Manakala keduanya berkembang bersama-sama, -------kegemaran meniru dan kepercayaan diri bertambah, maka  perubahan itu akan terjadi di mana-mana,  dan perguruan tinggi Islam akan menjadi besar semuanya. Wallahu a’lam.