Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 238 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini29669
mod_vvisit_counterKemarin24587
mod_vvisit_counterMinggu ini113062
mod_vvisit_counterBulan ini584830
mod_vvisit_counterTotal29175997
Supervisi Pendidikan (bagian 1) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Aries Musnandar   
Kamis, 07 Juni 2012 08:57

SuperVision and Instructional Leadership: A Developmental Approach

Sebuah pendekatan Pengembangan dalam Supervisi dan Kepemimpinan Pendidikan (Islam)*

I. Sekolah yang Berhasil (Successful Schools)

Pendahuluan (Pokok Bahasan)

Lembaga pendidikan yang berwujud sekolah dan lembaga lain yang melakukan tindak mendidik, mengajar, dan membelajarkan individu selalu merupakan kegiatan interaksi antara generasi tua dan generasi muda berdasarkan kurikulum dan dengan suatu jadwal interaksi tertentu. Hal itu juga terjadi pada kegiatan penyampaian pesan yang berorientasi pada perubahan tingkah laku pebelajar (Bildung dan otodidak). Peristiwa interaksi tersebut, dalam era disiplin ilmu informasi & komunikasi, selalu ditemukan fungsi dan peran supervisi/evaluasi baik oleh badan "inspektorat pendidikan dan penelitian perilaku".

 

Fokus Masalah yang akan dibahas:

1.      Ilmu pengetahuan dan keterampilan apakah yang dibutuhkan untuk  pengubahan sekolah dalam masyarakat "lama" untuk menjadi modern??

2. .      Hasil observasi tentang realitas pembelajaran di sekolah di wilayah pendidikan tertentu.

3.      Fungsi "tindak mengajar" dan "tindak supervisor" dalam pelaksanaan suatu kurikulum legal dan apakah perbedaan antara "tindak mengajar guru" dengan "tindak observasi: supervisor pendidikan dan peneliti pendidikan?

Pembahasan

1.      Pengubahan sekolah dalam masyarakat "lama" untuk menjadi modern

Dalam mengubah sekolah dari "masyarakat "lama" menjadi modern tidak terlepas dari perubahan paradigma atau cara pandang pendidikan termasuk dalam konteks ini supervisi pendidikan sebagai bagian dari kegiatan pendidikan secara menyeluruh. Pergeseran  paradigma (paradigm shift) dalam   supervisi pendidikan kerap terjadi mulai dari yang bersifat konvensional, congenial dan kolegial.  Konvensional berangkat dari upaya mengawasi perilaku mengajar guru yang dilakukan oleh suatu tim gugus tugas yang terdiri dari orang tanpa keahlian atau spesialisasi khusus  (committees of lay person) yang menginspeksi sekolah, guru dan pembelajaran siswa.

Pada tahap congenial pengawasan sekolah dilakukan secara lebih profesional oleh orang yang menguasai konten dan metodologi pembelajaran. Paradigma ini disebut dengan "human relations supervision" atau pengawasan hubungan manusia dengan asumsi dasarnya adalah dengan memperbaiki hubungan antar manusia dan memenuhi kebutuhan dasar supervisor dan guru akan dapat meningkatkan kualitas pengajaran.

Kemudian dari pengawasan konvensional, congenial muncul paradigma berikutnya dalam pengawasan yakni pengawasan yang berbasis kolegial (collegial model) dengan penekanan pada kesetaraan dalam peran serta mencapai keberhasilan untuk mengembangkan keterampilan guru ketimbang hubungan yang bersifat hirarkis. Keduanya yaitu supervisor dan guru bahu membahu berkolaborasi dengan segenap komponen yang ada dalam upaya peningkatan mutu pengajaran guru dan pembelajaran siswa.

Sementara itu James Henderson dan Kathleen Kesson dalam bukunya berjudul Curriculum Wisdom mengajak pemangku kepentingan di bidang kurikulum sekolah yang terkait dengan pengambilan keputusan dalam persoalan kurikulum ini untuk menciptakan lingkungan belajar antara guru dan siswa "democratic good life" atau suasana lingkungan pendidikan menyenangkan dan demokratis. ("In Curriculum Wisdom, James Henderson and Kathleen Kesson invite the reader on a journey of . They purport that the inherent purpose of curriculum decision making is to create for teachers and students a learning environment that embodies what the authors identify as the "democratic good life") (p. 12).

Lebih lanjut Henderson dan Kesson menguraikan ..."Curriculum workers who adopt a wisdom orientation are...challenging themselves

  • To consider the "good conduct" and "enduring values" implications and consequences of their decision;
  • To think about the relationship between educational means and ends; and
  • To engage in sophisticated practical reasoning" (Henderson and Kesson, 2004, p. ix).

Artinya bahwa pemangku dan atau pegiat kurikulum menyesuaikan arah kurikulumnya secara bijak dengan mempertimbangkan implikasi  tata cara yang baik (good conduct) dan nilai-nilai yang melekat dan berkembang terus (enduring values) . Juga memerhatikan hubungan antara hasil yang dicapai dengan penerapan tindak mendidik yang berkualitas.

 

Pengubahan "masyarakat lama" menjadi modern tidak terlepas dari pengubahan yang terjadi pada kegiatan pendidikan di sekolah. Sedangkan hasil kegiatan pendidikan di sekolah selalu berhubungan dan terkait dengan lembaga-lembaga lain yang juga langsung atau tidak langsung memengaruhi kualitas hasil pendidikan. Lembaga atau institusi itu (keluarga, agama, pramuka dan media massa) bersifat berhubungan dan saling berhubungan sesamanya dan selamanya (Dimyati 2000, 2011). Oleh karena itu peristiwa tindak mendidik, mengajar dan membelajarkan individu di dalam sekolah senantiasa mencermati interaksi yang terjadi di luar sekolah pada keempat institusi tersebut di atas. Hal ini karena di Indonesia peran dan peranan kelima lembaga itu saling mendukung dan memengarauhi satu sama lain, sementara itu cetak biru sistem pendidikan masih lebih berkutat semata-mata pada sistem persekolahan belaka (lihat UU no. 20 tahun 2003 SisDikNas).

2.      Hasil observasi tentang realitas pembelajaran di sekolah di wilayah pendidikan tertentu.

Mencermati hasil obervasi tentang realitas pembelajaran di sekolah Brawijaya Smart School (BSS) dan Madrasah di bilangan Jalan Bandung di Malang Jawa Timur khususnya dalam pelaksanaan supervisi pendidikan baik di sekolah umum atau pun sekolah berbasis agama (Islam) seperti madrasah, akan tampak pengawas sekolah belum secara optimal diberdayakan. Sedangkan fungsi supervisi sebagai bagian penting dalam manajemen pendidikan semestinya dijalankan dengan tujuan membantu guru belajar bagaimana cara meningkatkan kapasitas mereka untuk mewujudkan tujuan-tujuan belajar siswa yang telah ditetapkan (Mantja, 2010 & Mantja 2000).

 

Pengamatan yang dilakukan terhadap sekolah dan madrasah terteliti menunjukkan bahwa guru menjalankan aktivitas rutin dengan menunjukkan perilaku yang kasat mata. Misalnya dalam pendidikan karakter siswa di kedua sekolah tersebut menerapkan perilaku yang hampir sama. Cara menghormat kepada guru, berperilaku sopan santun, melarang anak bersuara gaduh, memasukkan kemeja kedalam celana, mengenakan kancing baju sampai keatas dekat leher, mendengarkan cerita guru dalam materi-materi pendidikan karakter. Fenomena ini umum terjadi di kedua sekolah tersebut. Karakter sopan santun, disiplin dan seterusnya dapat dilihat di sekolah, namun bukan berarti perilaku/karakter tersebut akan tetap terwujud di luar sekolah. Kenapa demikian? Bisa saja terjadi pendekatan penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa yang dilakukan guru terkesan dipaksakan, sehingga siswa mengikuti "perintah" berperilaku seperti itu karena hanya mengikuti "kemauan" guru di sekolah, tidak datang dengan penuh kesadaran dari diri si anak. Hal ini terjadi mengingat metode, cara dan teknik mendidik yang dilakukan oleh banyak sekolah kita masih bertumpu pada pembentukan karakter atau sifat manusia tipe satu dan dua yakni manusia yang bertindak baru berpikir dan bepikir sambil bertindak. Maka perilaku siswa tersebut mengikuti instruksi gurunya bisa jadi bermula dari pembentukan karakter manusia tipe satu yakni melakukannya untuk kemudian memikirkan kenapa dan apa gunanya melakukan itu atau melakukan perilaku itu sembari memikirkan kenapa dan mengapa perlu berperilaku seperti itu. Berdasarkan pengamatan peneliti (penulis) terlihat bahwa cara, teknik dan metode tindak mendidik masih mengedepankan "one way communication" yang berupa instruksi baik di dalam maupun di luar kelas dari guru kepada siswanya (peserta didik). Oleh karena itu pembentukan manusia Indonesia tipe tiga apalagi tipe empat menjadi sangat sulit dan tidak dapat berlangsung cepat di dunia persekolahan (SD/MI hingga SMA/MA). Pembelajaran cara deduktif yang dilakukan guru sekolah maupun ustad/kyai (guru agama) membuat manusia Indonesia lebih terarah pada manusia tipe satu dan dua ketimbang tipe tiga dan empat yang berpikir lebih dahulu lalu bertindak serta pemikiran tentang pikiran dibalik tindakan.

 

Penggunaan Bahasa dalam Pendidikan...... (bersambung.....)

*Tulisan ini adalah sebagian dari 40 halaman makalah penulis tentang supervisi pendidikan

Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya