Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Mata IDBDari sekian banyak perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan pendanaan dari IDB, baik... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 18810 |
![]() | Kemarin | 24587 |
![]() | Minggu ini | 102203 |
![]() | Bulan ini | 573971 |
![]() | Total | 29165138 |
| Membiasakan Kegiatan Menulis |
|
|
|
| Minggu, 17 Juni 2012 18:14 |
|
Sementara orang mengatakan bahwa, menulis itu sulit dan terasa menjadi beban, Namun ternyata anggapan itu tidak selalu benar. Saya mencoba untuk membuat tradisi menulis pada setiap hari dan sudah berjalan selama empat tahun. Alhamdulillah kegiatan itu tidak pernah berhenti sekalipun hanya sehari. Semula saya bertekad, sekalipun hanya beberapa alinea akan menulis apa saja yang sedang saya pikirkan setelah shalat subuh pada setiap hari itu. Ternyata niat itu terlaksana hingga saat ini telah berjalan empat tahun.
Kadang rasa bosan muncul, akan tetapi ketika sudah memulai maka semangat itu muncul kembali dan berusaha untuk menyelesaikannya. Apalagi sudah biasa merasakan bahwa nikmat dan atau rasa puas yang diperoleh dari menulis, di antaranya adalah tatkala sedang membuat kalimat akhir atau penutup. Pada saat itu, terasa sangat gembira.
Selanjutnya kegembiraan itu menjadi bertambah manakala setelah tulisan dimaksud saya posting lewat website atau lainnya ternyata dibaca orang. Pada ketika itu tumbuh perasaan senang, oleh karena apa yang saya tulis dibaca orang. Perasaan telah memberi sesuatu kepada orang lain, ternyata menumbuhkan rasa puas, dan bahkan kepuasan itu lebih besar atau sempurna dibandingkan dengan ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain.
Dari kegiatan menulis itu saya baru bisa menghayati hadits nabi yang mengatakan bahwa tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah. Kegiatanh memberi lebih mendatangkan kebahagiaan daripada sekedar menerima. Orang biasanya menyangka bahwa tatkala seseorang mendapatkan sesuatu dari orang lain akan selalu gembira. Padahal kegembiraan yang lebih sempurna justru dirasakan oleh pihak pemberi, dan apalagi pemberian itu disampaikan dengan ikhlas dan juga diterima dengan rasa puas pula.
Terkait dengan kegiatan menulis pada setiap hari itu, saya seringkali mendapatkan pertanyaan, di antaranya bagaimana mendapatkan idea yang akan ditulis pada setiap pagi itu. Selama ini saya tidak pernah merasakan kekurangan ide. Hal itu kiranya juga akan dialami oleh setiap orang yang memang berniat menulis. Sehari-hari, setiap orang dalam menjalani hidupnya akan mendapatkan pengalaman, memikirkan dan merasakan tentang sesuatu, menghadapi tantangan dan berusaha menjawabnya. Hal dimaksud terkait apa saja, baik dengan persoalan ekonomi, politik, agama, pendidikan, hukum, pengalaman unik, dan lain-lain, mulai dari lingkup kecil hingga kadangkala sesuatu yang besar.
Saya merasakan atau mendapatkan pegalaman seperti itu, dan itulah sebenarnya apa yang saya tulis pada setiap hari. Menulisnya juga gampang asalkan tidak berambisi menjadi yang istimewa atau selalu sempurna. Baik dan atau tidaknya sebuah tulisan, menuruit hemat saya adalah manakala tulisan itu mudah dipahami, pesannya jelas, mengikuti alur logika pada umumnya, dan terasa akan ada manfaatnya. Menulis bagi saya tidak harus menunggu hingga data atau informasi sempurna. Selain itu, juga tidak perlu dipersiapkan berlama-lama. Sebab, diskripsi atau uraian itu akan ketemu atau keluar sendiri tatkala sedang menggerakkan tangan di atas mesin ketik yang ada di komputer itu.
Menulis bagi saya, adalah mirip dengan orang yang sedang berdialog. Tatkala seseorang berdialog, maka pikiran dan perasaannya berusaha agar lawan bicaranya mengerti, paham, dan meyakini terhadap apa yang sedang diungkapkan. Di tengah-tengah proses menulis itu akan muncul pikiran menambah dan menyempurnakan informasi, memperjelas makna kata atau konsep yang sedang digunakan, berargumentasi, mengajak membandingkan, dan seterusnya. Maka sekali lagi, menulis sebenarnya mirip dengan berdialog. Bedanya, tatkala menulis lawan dialognya tidak muncul di hadapannya, tetapi apapun sebenarnya esensinya adalah sama.
Rasa nikmat yang diperoleh oleh seseorang, termasuk nikmat menulis akan sulit disampaikan secara sempurna kepada orang lain. Bisa saja perasaan senang atau nikmat itu digambarkan dengan kalimat panjang dan juga dilengkapi dengan berbagai pengalaman yang menarik. Tetapi saya yakin, tidak akan bisa disampaikan secara sempurna. Oleh karena itu agar nikmat menulis itu juga bisa dirasakan, maka cara yang terbaik adalah melakukannya sendiri. Dengan cara menulis dan mempostingkannya lewat website atau media lainnya, maka pengalaman dan nikmat itu akan terasakan sendiri. Apalagi, kalau kegiatan itu dilakukan secara terus menerus maka selain menikmati juga akan memiliki tradisi menulis, yang saya yakini, akan besar sekali manfaatnya. Wallahu a’lam. |