Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 250 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini17267
mod_vvisit_counterKemarin29370
mod_vvisit_counterMinggu ini76073
mod_vvisit_counterBulan ini547841
mod_vvisit_counterTotal29139008
Tema Konflik Para Elite Bangsa PDF Cetak E-mail
Selasa, 26 Juni 2012 21:43

 

Konflik dalam sebuah organisasi, termasuk organisasi besar seperti negara adalah hal biasa. Konflik bisa terjadi di mana saja dan pada tingkat apa saja. Dua orang, katakan  misalnya, antara  suami dan isteri saja,  seringkali terjadi konflik.  Apalagi konflik di organisasi besar, setingkat negara. Oleh karena itu, konflik antar elite harus dipahami sebagai sesuatu yang wajar,  dan tidak selalu perlu dirisaukan,  asalkan  tema konflik itu terkait hal mendasar dan atau bernuansa kemanusiaan yang tinggi.      

 

Bahkan konflik menjadi perlu  dan dibutuhkan untuk mendinamisasikan kehidupan organisasi. Tanpa ada konflik  organisasi menjadi statis dan akan terasa menjenuhkan. Organisasi harus dinamis, penuh inovasi,  dan  perubahan-perubahan  untuk memenuhi sifat kehidupan sosial yang memang harus selalu berubah.  Dinamika itu terjadi sebagai buah dari konflik. Itulah sebabnya, konflik menjadi  justru dibutuhkan.

 

Dalam perjalanan sejarah bangsa ini tidak pernah sepi dari konflik antar elitenya.  Ternyata dengan konflik,  bangsa ini menjadi semakin dewasa. Namun yang perlu diperhatikan adalah tema konflik itu sendiri.  Adakalanya  konflik   bertemakan hal-hal yang mendasar, menyangkut nilai,  sumber etika, filsafat,  dan sejenisnya, sehingga semua itu  adalah  tergolong mulia dan  mencerdaskan. Kita ingat konflik antar elite terkait dengan dasar negara, sehingga kemudian berhasil  dirumuskan berupa Pancasila dan UUD 1945.

 

Rumusan tentang dasar negara berupa Pancasila dan UUD 1945 adalah lewat berbagai perdebatan atau konflik antar elite dalam waktu lama,  dan  ternyata membuahkan kesepakatan yang kokoh. Buah dari proses panjang itu menghasilkan rumusan yang akhirnya menjadi milik bersama. Pancasila dan UUD 1945 adalah milik seluruh bangsa Indonesia.

 

Demikian pula, hal-hal lainnya yang bersifat mendasar,  seperti azas  organisasi dan partai politik, pandangan tentang P4, garis-garis besar haluan negara, dan lain-lain selalu dirumuskan bersama lewat proses panjang, dilakukan dengan berdiskusi, berdialog, dan bahkan berdebat di antara para elite yang tidak mengenal lelah  putus asa. Berbagai kelompok dalam masyarakat, baik yang berbasis idiologi, agama, maupun partai politik berusaha menyalurkan aspirasinya. Hal semacam itu justru diperlukan untuk mendewasakan bangsa ini.

 

Konflik juga terjadi di era reformasi seperti sekarang ini. Hanya saja tema konflik yang terdengar bukan hal-hal yang bersifat ideologis dan  filosofis, melainkan pada tema-tema praktis dan prakmatis.  Konflik dan atau perdebatan itu hanya  terkait sesuatu yang sederhana, misalnya tentang korupsi, pembagian  anggaran DPR yang dianggap kurang merata, dan bahkan terakhir hanya menyangkut persoalan pembangunan gedung KPK.

 

Konflik yang terjadi akhir-akhir ini,  yang muncul ke permukaan  terasa berada di wilayah yang begitu  sederhana, yaitu hanya terkait uang, dana, fasilitas,  dan atau anggaran. Hal-hal yang bersifat ideologis dan filosofis yang mendasar ternyata tidak pernah memicui konflik. Mungkin hal itu bisa terjadi,  oleh karena masing-masing partai politik sudah tidak terlalu jelas warna idiologinya. Ikatan partai politik hanya sebatas kepentingan sesaat, dan bukan pada idiologi mendasar yang ingin diperjuangkan.

 

Manakala benar bahwa tema-tema konflik hanya menyangkut hal-hal sederhana seperti itu, maka sebenarnya bangsa ini telah mengalami kemunduran. Para elite mestinya hanya menjamah hal-hal yang bersifat mendasar, idiologis dan filosofis.  Dengan begitu,   sekalipun mereka dianggap salah dan  masuk ke penjara,  akan tetap terhormat,  oleh karena  mereka membela kebenaran yang dipegang teguh. Akan tetapi  sebaliknya, jika mereka hanya sebatas berpikir teknis dan dianggap salah, lalu  masuk penjara oleh karena dituduh korupsi, maka elite dimaksud akan kehilangan segala-galanya.

 

Konflik antar elite bangsa akhir-akhir ini memang terasa sudah memprihatinkan, lantaran di antara mereka hanya memperbutkan hal sederhana,  yakni  sebatas hal yang  terkait dengan anggaran, fasilitas dan sejenisnya. Konflik seperti itu sekedar didengarkan kurang membanggakan dan bahkan sebaliknya,   memprihatinkan. Para elite bangsa adalah orang-orang yang menyandang kehormatan yang tinggi. Oleh karena itu maka tentu tidak boleh terperosok pada  tema sederhana, misalnya hanya terkait soal uang,  hingga  ujung-ujungnya dianggap korupsi,  maka kejadian itu sangat memalukan. Wallahu a’lam.