Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Di Tajikistan, Berbicara Agama Dianggap SensitifKebetulan saja, ketika nyampai di Tajikistan, saya diarahkan untuk menginap di Hotel... |
Berdiskusi dengan Duta Besar RI untuk Sudan Terkait Kerjasama PendidikanPada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013, Duta Besar RI untuk Sudan... |
Bersinggah di Airport Negara Muslim Kaya MinyakDi dalam perjalanan pulang dari Tajikistan dan singgah di Dubai, mau tidak... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 18434 |
![]() | Kemarin | 37422 |
![]() | Minggu ini | 212227 |
![]() | Bulan ini | 683995 |
![]() | Total | 29275162 |
| Menghadiri Peringatan Isra' dan Mi'raj di Gubernuran Menado |
|
|
|
| Minggu, 01 Juli 2012 08:36 |
|
Pada hari Kamis, tanggal 28 Juni 2012, saya diundang oleh Guberur Sulawesi Utara untuk memberikan ceramah peringatan isra’ mi’raj Nabi Muhammad saw. Saya hadir bersama Prof. Muhaimin, Dr. Syamsul Hadi, Dr. Mujab dan Sutaman, MA. Sebagaimana yang diharapkan, saya mengisi ceramah di hadapan para undangan yang hadir.
Peringatan isra’ mi’raj yang dilaksanakan di kota Menado ini agak khas, sertidaknya dari mereka yang hadir mengikuti acara itu. Peringatan hari besar Islam yang diselenggarakan di Balai Gubernuran Menado ini dihadiri oleh undangan yang berlatar belakang agama bermacam-macam, yaitu Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katholik, dan Konghucu. Bersama pemerintah daerah setempat dan organisasi sosial keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, MUI, hadir pula masyarakat penganut berbagai agama tersebut.
Bagi saya kegiatan itu sangat menarik. Tempatnya ditata sedemikian bagus. Sesuai dengan masyarakatnya yang majemuk, mata acaranya dikemas sedemikian rupa, menggambarkan kemajemukan itu. Selain qasidah sebagai ciri khas kesenian Islam, juga ditampilkan paduan suara yang khas dari agama Kristen dan Katholik. Cara Itu dilakukan oleh karena, agama tersebut dipeluk oleh mayoritas masyarakat di kota itu.
Hal yang agak aneh dan menarik lagi adalah beberapa nyanyian yang ditampilkan. Selain qasidah dari kementerian agama, juga dibawakan oleh beberapa pimpinan daerah propinsi yang berasal dari berbagai latar belakang agama. Mereka menyebutnya nyanyian kasih. Tampilannya cukup bagus, menggambarkan adanya kerukunan, keakraban, dan saling menghargai di antara sesama. Saya baru kali itu melihat beberapa tokoh dari latar belakang agama yang berbeda-beda menyanyi bersama dalam kegiatan memperingati hari besar Islam. Pada kesempatan itu, saya mendapat informasi bahwa kegiatan serupa dilakukan pada saat memperingati hari besar agama lainnya.
Sekalipun kegiatan itu dihadiri oleh undangan dari berbagai agama, tetapi suasana yang terasakan adalah nuansa Islam. Dalam acara itu dilantunkan beberapa ayat al Qur’an dan terjemahnya, dan diakhiri dengan doa menurut agama Islam. Saya lihat kegembiraan itu juga dirasakan oleh semua yang hadir. Oleh karena itu, dalam ceramah, saya memberikan apresiasi, dengan mengungkapkan perasaan gembira dan keindahan yang saya peroleh dari mengikuti kegiatan isra’ mi’raj itu. Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Gubernur, atas penyelenggaraan peringatan hari besar Islam yang sedermikian hikmat, dan dikuti oleh berbagai lapisan, golongan, dan semua penganut agama yang ada di daerah itu.
Dalam ceramah, selain menjelaskan sedikit tentang isra’ mi’raj, saya mengajak kepada semua yang hadir untuk saling berta’aruf, bertafahum, bertadhammun, tarrakhum dan ta’awun, atau dalam bahasa lain, yaitu saling mengenal agar menjadi saling memahami, menghargai, menyayangi, dan itu semua berbuah, berupa saling bertolong menolong. Dengan cara itu maka masayarakat yang majemuk atau berbeda-beda seperti itu akan tetap terbangun kerukunan, kesatuan, kebersamaan dan kedamaian bersama.
Selain itu, untuk meningkatkan kualitas kehidupan ke depan, terutama terkait dengan pendidikan saya mengajak agar generasi ke depan kita dekatkan kepada tiga hal sesuai dengan agamanya masing-masing, yaitu dekat dengan kitab suci, dekat dengan tempat ibadah, dan dekat dengan para tokoh agama. Saya gambarkan bahwa manakala seseorang telah dekat dengan ketiga hal tersebut, maka kualitas kehidupan akan semakin meningkat, dan kedamaian akan mudah diwujudkan.
Acara itu terasa lebih indah lagi, oleh karena tempatnya ditata sedemikian rapi, namun tampak penuh. Tidak ada kursi kosong. Yang hadir juga bermacam-macam, mengambarkan adanya perbedaan, tidak terkecuali perbedaan dalam keyakinan agama masing-masing. Bisa jadi, semua yang hadir mendambakan agar semuanya memeluk agama yang sama. Akan tetapi, pada kenyataannya keinginan yang demikian itu tidak terjadi, sehingga perbedaan itu diterima apa adanya. Mereka tidak saling membenci oleh karena perbedaan keyakinan, dan bahkan sebaliknya, bisa saling bertemu, saling menghargai, dan bahkan bekerjasama di antara sesama.
Membaca dari apa yang terjadi di Manado dalam acara peringatan isra’ mi’raj, saya mendapatkan pemahaman bahwa di antara orang-orang yang berbeda-beda agama ternyata masih bisa diajak bersama-sama. Oleh karena itulah, dalam ajaran Islam, tidak dibenarkan antara sesama saling membenci, dan bahkan disebutkan bahwa, dalam soal agama tidak boleh dipaksa. Dalam beragama, setiap orang dipersilahkan memilih sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Wallahu a’lam. |