Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 312 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini23365
mod_vvisit_counterKemarin29436
mod_vvisit_counterMinggu ini52801
mod_vvisit_counterBulan ini524569
mod_vvisit_counterTotal29115736
Menghadiri Peringatan Isra' dan Mi'raj di Gubernuran Menado PDF Cetak E-mail
Minggu, 01 Juli 2012 08:36

 

Pada hari Kamis, tanggal 28 Juni 2012, saya diundang oleh Guberur Sulawesi Utara untuk memberikan ceramah peringatan isra’ mi’raj Nabi Muhammad saw. Saya hadir bersama Prof. Muhaimin, Dr. Syamsul Hadi, Dr. Mujab dan Sutaman, MA. Sebagaimana yang diharapkan, saya mengisi ceramah di hadapan para undangan yang hadir.

 

Peringatan isra’ mi’raj yang dilaksanakan  di kota Menado ini agak khas, sertidaknya dari mereka yang hadir mengikuti acara itu.  Peringatan hari besar Islam yang diselenggarakan di Balai Gubernuran Menado ini dihadiri oleh undangan yang berlatar belakang agama  bermacam-macam, yaitu Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katholik,  dan Konghucu. Bersama pemerintah daerah setempat dan organisasi sosial keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, MUI,  hadir pula  masyarakat penganut berbagai agama tersebut.

 

Bagi saya kegiatan itu sangat menarik. Tempatnya ditata sedemikian bagus. Sesuai dengan masyarakatnya yang majemuk, mata acaranya dikemas sedemikian rupa,   menggambarkan kemajemukan itu. Selain qasidah sebagai ciri khas kesenian Islam,  juga ditampilkan paduan suara yang khas  dari agama Kristen dan Katholik. Cara Itu dilakukan oleh karena,    agama  tersebut  dipeluk oleh mayoritas masyarakat di kota itu.

 

Hal yang agak aneh dan menarik lagi adalah beberapa nyanyian yang ditampilkan. Selain qasidah  dari kementerian agama, juga dibawakan oleh  beberapa  pimpinan daerah propinsi yang berasal dari berbagai latar belakang agama. Mereka menyebutnya nyanyian kasih.  Tampilannya cukup bagus, menggambarkan adanya kerukunan, keakraban,  dan saling menghargai di antara sesama. Saya baru kali itu melihat beberapa tokoh dari latar belakang agama yang berbeda-beda menyanyi bersama dalam kegiatan memperingati  hari besar Islam. Pada kesempatan itu, saya mendapat informasi bahwa kegiatan serupa dilakukan pada saat memperingati hari besar agama lainnya.

 

Sekalipun kegiatan itu dihadiri oleh undangan dari berbagai agama, tetapi  suasana yang terasakan adalah nuansa Islam. Dalam acara itu dilantunkan beberapa ayat al Qur’an dan terjemahnya, dan diakhiri dengan doa menurut agama Islam. Saya lihat kegembiraan itu juga dirasakan oleh semua yang hadir. Oleh karena itu, dalam ceramah,  saya memberikan apresiasi,  dengan mengungkapkan perasaan gembira dan keindahan yang saya peroleh dari mengikuti kegiatan isra’ mi’raj itu. Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Gubernur, atas penyelenggaraan peringatan hari besar Islam yang sedermikian hikmat,  dan dikuti oleh berbagai  lapisan, golongan,  dan semua penganut agama yang ada di daerah itu.

 

Dalam ceramah, selain menjelaskan sedikit tentang isra’ mi’raj, saya mengajak kepada semua yang hadir untuk saling berta’aruf, bertafahum, bertadhammun, tarrakhum dan ta’awun, atau dalam bahasa lain,  yaitu  saling mengenal agar menjadi saling memahami, menghargai, menyayangi,  dan itu semua  berbuah,  berupa  saling bertolong menolong. Dengan cara itu maka masayarakat yang majemuk atau berbeda-beda seperti itu akan tetap terbangun kerukunan, kesatuan, kebersamaan dan kedamaian bersama.

 

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas kehidupan ke depan, terutama terkait dengan pendidikan saya mengajak agar generasi ke depan kita dekatkan kepada tiga hal sesuai dengan agamanya masing-masing, yaitu dekat dengan kitab suci, dekat dengan tempat ibadah,  dan dekat dengan para tokoh agama. Saya gambarkan bahwa manakala  seseorang telah dekat dengan ketiga hal tersebut, maka kualitas kehidupan akan semakin meningkat,  dan kedamaian akan mudah diwujudkan.

 

Acara itu terasa lebih indah lagi, oleh karena tempatnya ditata sedemikian rapi, namun tampak penuh. Tidak ada kursi kosong. Yang hadir juga bermacam-macam, mengambarkan adanya perbedaan, tidak terkecuali perbedaan dalam keyakinan agama masing-masing.  Bisa jadi,  semua yang hadir mendambakan agar semuanya memeluk agama yang sama. Akan  tetapi,  pada kenyataannya  keinginan  yang demikian itu tidak terjadi, sehingga perbedaan itu diterima apa adanya. Mereka tidak saling membenci oleh karena perbedaan keyakinan, dan bahkan sebaliknya,  bisa saling bertemu,  saling menghargai,  dan bahkan bekerjasama di antara sesama.

 

Membaca dari apa yang  terjadi  di Manado dalam acara peringatan isra’ mi’raj, saya mendapatkan pemahaman bahwa di antara orang-orang yang berbeda-beda agama  ternyata masih bisa diajak bersama-sama. Oleh karena itulah, dalam ajaran Islam, tidak dibenarkan antara sesama saling membenci, dan bahkan  disebutkan bahwa, dalam soal  agama tidak boleh dipaksa.  Dalam beragama, setiap orang  dipersilahkan  memilih sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Wallahu a’lam.