Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 313 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini21858
mod_vvisit_counterKemarin26638
mod_vvisit_counterMinggu ini21858
mod_vvisit_counterBulan ini493626
mod_vvisit_counterTotal29084793
Menjaga Martabat Harga Diri PDF Cetak E-mail
Kamis, 12 Juli 2012 07:17

 

Begitu besar semangat  orang  agar berhasil meraih derajat yang mulia.  Mereka mencari harta, jabatan, dan bahkan juga pendidikan dengan maksud agar dirinya dihargai  dan dihormati orang lain. Demikian pula, orang membangun  rumah yang bagus, berpakaian yang baik dan indah, bertutur kata yang  tepat, semua itu lagi-lagi adalah, agar yang bersangkutan dianggap bermartabat.

 

Akan tetapi ternyata tidak semua orang sadar bahwa harga diri, derajat, prestise dan  semacamnya itu perlu dipelihara secara terus menerus dan dijaga sebaik-baiknya. Akhir-akhir ini  rumah tahanan dan penjara semakin penuh. Pada setiap hari terdengar orang tertangkap basah oleh karena menyuap, korupsi, menyalah gunakan wewenang dan seterusnya, dan kemudian dipenjara,  adalah oleh karena yang bersangkutan tidak mampu memelihara dan atau mejaga harga dirinya sendiri. 

 

Orang yang tidak mampu menjaga diri hingga dipenjara itu tidak selalu berpendidikan  dan berjabatan rendah, kurang pengalaman, tidak mengerti nilai dan atau norma-norma kehidupan yang harus dipegangi, melainkan justrui sebaliknya. Tidak sedikit sarjana, pejabat pemerintah, pimpinan bank, BUMN, jaksa, hakim dan lain-lain  terlibat kasus-kasus korupsi, nepotisme, dan manipulasi yang akhirnya dipenjara.

 

Melihat kenyataan itu semua,  memelihara harga diri  ternyata bukan hal mudah. Tidak semua orang yang berhasil mendapatkan jabatan dan pendidikan tinggi  bahkan agamawan sekalipun selalu mampu menjaga harga diri. Kemampuan menjaga diri tidak cukup berbekalkan ilmu dan pengalaman, melainkan  semua itu harus disempurnakan dengan kejernihan dan kesucian hati. Seseorang yang hatinya  bersih akan  bisa menjaga harga dirinya. Oleh karena itu, kecerdasan  intelektual harus disempurnakan oleh kecerdasan hati nurani.

 

Rupanya   kecerdasan nurani ini tidak selalu mendapatkan perhatian. Lembaga pendidikan pada umumnya, selama ini baru mengedepankan kecerdasan intelektual. Sehari-hari para siswa di sekolah dan mahasiswa di kampus-kampus hanya diajak mempertajam kecerdasan  intelektualnya. Sementara itu, upaya  mencerdaskan hati nurani   tidak selalu memperoleh perhatian yang cukup.  Padahal kecerdasan intelektual tanpa dibarengi oleh kecerdasan hati nurani, akan melahirkan penyimpangan  perilaku, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi dan lain-lain sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini.

 

Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu diikutu oleh kecerdasan hati nurani dapat dibuktikan  dengan mudah lewat kasus-kasus penyimpangan perilaku yang sedemikian mudah  bisa disaksikan pada akhir-akhir ini. Para koruptor pada umumnya adalah lulusan lembaga pendidikan, dan bahkan adalah lembaga pendidikan yang disebut berkualitas. Lebih dari itu, penyimpangan sosial itu juga terjadi di kalangan lembaga pendidikan itu sendiri. Terjadinya sontek menyontek, manipulasi dokumen raporr, ijazah palsu,  dan bahkan juga  kegiatan plagiat karya tulis orang lain, semua itu adalah bukti bahwa di lembaga pendidikan pun juga terjadi ketumpulan hati nurani yang berakibat menjatuhkan harkat dan martabat yang bersangkutan.        

 

Atas kenyataan itu, maka menjaga harkat martabat diri sendiri ternyata tidak mudah. Usaha itu memerlukan kecerdasan hati nurani.  Hati nurani harus selalu diasah dengan berbagai cara, yaitu di antaranya lewat selalu  mengingat Allah pada setiap waktu, membersihkan pikiran, hati dan harta kekayaan yang dimiliki, menjalankan kegiatan ritual secara istiqamah dan semacamnya. Kegiatan seperti itu semestinya harus dilatih dan dibiasakan sebagaimana kegiatan untuk mempertajam kecerdasan intelektual. 

 

Namun rupanya, aspek yang sebenarnya justru penting untuk menjaga harkat dan martabat seseoprang ini  seringkali dilupakan dan bahkan diabaikan. Akibatnya, semua yang telah diraih dengan susah payah, seperti pendidikan, harta kekayaan,  pangkat, jabatan,  dan lain-lain  menjadi runtuh oleh karena ketumpulan hati nurani yang bersangkutan.  Artinya, mereka tidak mampu menjaga martabat harga dirinya itu.  Oleh karena itu,  maka  kecerdasan intelektual  harus selalu dibarengi  oleh kecerdasan hati nurani.  Wallahu a’lam.