Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 294 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini29725
mod_vvisit_counterKemarin30712
mod_vvisit_counterMinggu ini143830
mod_vvisit_counterBulan ini615598
mod_vvisit_counterTotal29206765
Keharusan Magang Bagi Calon Pebisnis PDF Cetak E-mail
Minggu, 15 Juli 2012 20:34

 

Magang yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah ikut bekerja sebagai latihan sebelum yang bersangkutan berbisnis secara mandiri. Dengan magang maka seseorang akan mengetahui seluk belum berbisnis secara mendalam. Bahkan dengan  magang pula seseorang tidak saja  berhasil memperkaya dirinya dengan pengalaman dan pengetahuan berdasar kenyataan di lapangan. Lebih dari itu, lewat magang  akan menambah  penghayatan dan kecintaan terhadap bisnis yang akan dikembangkan.

 

Kesimpulan tersebut saya dapatkan dari seorang yang seumur-umur pekerjaannya adalah sebagai pengusaha. Orang yang saya maksud umurnya sudah 87 tahun, namun sampai sekarang masih berbisnis. Sekalipun umurnya sudah berkepala delapan, ia merasa masih sehat,   ke mana-mana  sanggup menyetir mobilnya sendiri. Kebiasaan olah raga hanya dijalani dengan jalan kaki, dan itupun  hanya   dua kali pada setiap minggu.

 

Saya bertemu dengan orang  berketurunan Cina ini sercara tidak sengaja. Kebetulan sama-sama diundang pada sebuah pertemuan dan  secara tidak sengaja  pula duduk pada  satu meja.  Kesempatan itu saya gunakan untuk  berkenalan dan sebisa-bisa menggali pengalaman yang saya yakin banyak manfaatnya. Ternyata orang yang mengaku hanya lulus sekolah dasar ini  selama hidupnya berbisnis. Dia mengatakan bahwa untuk bisa berbisnis tidak perlu sekolah lama-lama. Belajar bisnis yang diperlukan bukan ijazah dan atau sertifikat, melainkan  pengalaman berbisnis dan itu bisa diperoleh lewat magang.

 

Dia mempertegas pendapatnya dengan mengatakan bahwa,  jika ingin menjadi pengusaha di bidang pertanian, maka harus mau magang kepada orang yang  memiliki usaha di bidang pertanian. Orang yang mau berusaha di bidang perdagangan harus magang kepada orang yang sehari-hari pekerjaannya berdagang. Orang yang ingin mengembangtkan peternakan, maka harus mau magang kepada pengusaha ternak, dan seterusnya. Lewat magang itu, juga harus belajar bagaimana pemilik perusahaan memimpin  para pekerja, mamanage, membangun jaringan kerjasama, bernegosiasi dengan orang lain,  dan seterusnya.

 

Siapapun,  hanya sekedar ingin menjadi seorang kaya, menurut pendapat orang keturunan Cina itu  tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Sekolah hingga perguruan tinggi  semestinya tidak untuk mencari kekayaan, melainkan untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan, selain  diperoleh  dari kampus, juga  bisa didapat dari belajar melalui magang. Ia melihat banyak lulusan perguruan tinggi di negeri ini masih  sulit  mendapatkan pekerjaan. Menurut pendapatnya,  hal itu  dianggap  wajar.  Sebab untuk mendapatkan pekerjaan, ------ sebagai entrepreneur, bukan lewat  sekolah atau bahkan perguruan tinggi, tetapi harus lewat magang.

 

Orang  Cina yang sudah berumur tersebut masih saja berusaha  meyakinkan saya,  dengan cara mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawabnya sendiri, bahwa  mana ada orang yang pernah magang, -------apalagi hingga cukup lama, tetapi  kemudian ternyata menganggur. Pertanyaan itu dijawabnya sendiri,  dengan mengatakan secara tegas,   tidak ada. Orang yang pernah magang pasti bisa bekerja dan akan mau bekerja. Ia menunjukkan beberapa nama  teman-temannya yang sekarang ini telah sukses menjadi kaya, baik sebagai petani, peternak,  dan pedagang, yang semua pengetahuan dan pengalamannya diperoleh  lewat magang.

 

Sebaliknya, ia juga mengatakan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi tidak mendapatkan pekerjaan. Mereka banyak menganggur oleh karena tidak memiliki pengalaman dan bahkan jiwa  entrepreneur.  Sekalipun pandai menganalisis dan memiliki banyak pengetahuan, akan tetapi jika tidak memiliki kemauan, dan jiwa entrepreneur,  maka siapapun tidak akan  menjadi pengusaha. Pengusaha itu lahir dari  panggilan jiwa, kemauan, semangat berusaha, dan ditambah lagi dengan keberanian menghadapi  berbagai resiko yang mungkin akan  diterima.

 

Dalam kesempatan berbincang-bincang itu, saya menanyakan apa yang harus dilakukan agar di Indonesia ini  tumbuh banyak entrepreneur. Dengan cepat ia mengatakan agar anak-anak didorong untuk magang, bekerja dari  para pengusaha yang diminati. Manakala seseorang ingin menjadi petani, maka harus magang kepada petani sukses. Disuruh atau ditugasi apa saja harus mau. Seseorang yang sedang magang  tidak boleh berniat  mencari upah, melainkan mencari pengalaman dan berusaha  mengembangkan  jiwa bisnis. Belajar bisnis menurutnya jangan lewat kursus atau sekolah yang orientasinya hanya mendapatkan sertifikat atau ijazah.   

 

Pengangguran yang semakin banyak pada saat sekarang ini adalah disebabkan oleh karena  orang tua tidak mengarahkan anak-anaknya untuk mau dan berlatih bekerja. Anak-anak zaman sekarang, menurut pengamatannya selama ini diperlakukan secara keliru, yaitu  dimanjakan  dengan  diberi fasilitas dan dibantu apa saja yang menjadi kebutuhannya. Anak-anak keturunan Cina pada zaman dahulu,   sejak kecil dilatih bekerja atau berusaha. Dunia ekonomi atau cara-cara mendapatkan uang dilatih sejak kecil. Pada pagi hari,  anak-anak dikirim ke sekolah, sedangkan pada waktu lainnya dilatih bekerja. Dengan demikian anak-anak tidak terbiasa menganggur.  Pada saat sekarang ini, menurut pendapatnya,  ada kebiasaan yang salah yang dikembangkan oleh kebanyakan orang tua. Akibatnya, anak sekalipun sudah lulus dari sekolah tidak bisa bekerja, kecuali menjadi pegawai,  buruh  pabrik, sebagai penjaga toko, sopir,  atau  bahkan sebagai cleaning servis. Tugas-tugas itupun bisa dilakukan secara baik setelah mereka dilatih.

 

Mendengarkan penuturan pengusaha tua tersebut, saya merasakan ada benarnya. Bahwa sebagai entrepreneur selalu memerlukan bekal, dan bekal itu adalah  berupa pengalaman dan jiwa sebagai  pengusaha. Tanpa bekal itu akan  sulit menjadi pemenang dalam kompetisi berbisnis. Bahkan orang tua tersebut meyakinkan saya lagi  bahwa sekedar menjadi pengusaha, bekal  yang terpenting adalah kemampuan  menulis, membaca,  dan berhitung. Selebihnya akan diperoleh sendiri melalui pengalaman. Akhirnya, rasa-rasanya saya agak terpengaruh  oleh  pengusaha seorang Cina tua dan sukses tersebut.  Pendapatnya  itu,  jika direnungkan secara mendalam,   rupanya ada benarnya. Wallahu a’lam.