Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 320 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini14261
mod_vvisit_counterKemarin24587
mod_vvisit_counterMinggu ini97654
mod_vvisit_counterBulan ini569422
mod_vvisit_counterTotal29160589
Haji Sengon PDF Cetak E-mail
Jumat, 20 Juli 2012 15:25

 

Ibadah haji adalah menunaikan rukun Islam yang ke lima,  yaitu wukuf di Arafah dan berbagai kegiatan lain sebagai penyempurnanya.  Sebutan haji, terutama dikaitkan dengan sumber pembiayaannya,  menjadi bermacam-macam. Ada istilah haji biasa, haji plus, haji abidin, haji mertua, haji cicilan, dan yang saya temukan terakhir ini adalah haji sengon.

 

Istilah-istilah yang sudah sedemikian banyak jenisnya itu,  kiranya sudah dipahami oleh banyak orang. Pada tulisan ini,  saya hanya ingin menjelaskan istilah haji sengon.  Barangkali iatilah itu ada yang  tertarik,  dan kemudian menirunya. Disebut sebagai haji sengon, oleh karena, biaya haji itu diperoleh dari  menjual kayu sengon miliknya.  Konsep itu sederhana sekali, tetapi tidak banyak orang yang memperhatikan, dan apalagi mencoba melakukannya.

 

Beberapa bulan lalu, ketika diajak berdialog di TVRI Jakarta oleh Prof.Dr. Haryono Suyono dan juga bersama Fauzi Bowo,  Gubernur DKI Jakarta, membahas tentang Posyada, saya mengajukan ide sederhana,  yang  sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat  pedesaan.  Untuk menumbuhkan semangat beragama dan sekaligus ekonomi masyarakat, saya mengajak masyarakat untuk berencana naik haji dengan biaya dari hasil menanam pohon. Saya  kemukakan bahwa, umat Islam harus menunaikan ibadah haji.  Biaya ibadah itu mahal, akan tetapi menjadi murah jika mengetahui caranya.      

 

Ketika itu,  saya menjelaskan bahwa harga sebatang pohon mahuni atau sengon yang  berusia 10 tahun  bisa mencapai tujuh setengah juta rupiah. Oleh karena itu, manakala  seorang petani sekarang ini menanam  10 batang saja, maka 10 tahun ke depan akan mendapatkan uang sekitar 75 juta. Apalagi kalau  mereka mau menambah hingga  20 batang, maka sepuluh tahun ke depan akan memiliki uang 150 juta. Hasil penjualan pohon itu bisa digunakan untuk naik haji dua orang,  dan bahkan lebih.

 

Atas dasar hitungan itu,  ketika seseorang berkeinginan naik haji, maka biayanya bisa didapat dari  menanam  10 hingga 20 batang pohon mauni atau sengon. Insya Allah,  10 tahun ke depan niat itu akan terlaksana.   Gambaran itu terasa mudah, hingga banyak orang justru tidak percaya terhadap  ide itu.   Padahal sekarang ini,  siapapun yang memiliki pohon mauni atau  sengon  dalam jumlah  tertentu, maka bisa membayar ongkos haji.  Sayangnya, sepuluh tahun yang lalu banyak orang tidak menanam, hingga sekarang ini tidak memiliki pohon yang bisa dijual. Umpama sekarang juga tidak menanam lagi, maka 10 tahun ke depan  masih sama, belum memiliki uang untuk biaya haji.  

 

Beberapa hari lalu, saya  datang ke sebuah  kampung,  kebetulan ketemu orang yang saya kenal dengan baik. Orang tersebut, sekalipun sudah sangat tua, menyampaikan keinginannya akan naik haji.  Atas penjelasan itu,  selain gembira, saya agak kaget  tatkala diberi  tahu, bahwa  uang yang akan digunakan untuk melunasi  hajinya itu   diperoleh  dari menjual kayu sengon yang ditanam 10 tahun yang lalu. Ia menjelaskan bahwa sekarang ini harga sengon yang sudah berumur sekitar 10 tahun bisa mencapai  7, 5 juta. Maka siapapun yang punya 10 batang saja sudah cukup untuk membayar ongkos haji.

 

Penjelasan petani  tua yang hidup di pedesaan tersebut mengingatkan saya  sendiri tentang apa yang saya jelaskan pada acara dialog bersama Prof. Dr. Haryono Suyono bersama Fauzi Bowo pada acara di TVRI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Penjelasan  itu, tentu   menyenangkan  sekali, bahwa ternyata apa yang saya angan-angan dan jelaskan lewat dialog tersebut telah ada orang yang benar-benar megimplemantasikannya.

 

Selain itu, dari penjelasan orang tua tersebut,  saya menjadi semakin yakin bahwa sebenarnya mengembangkan ekonomi di pedesaan tidak sulit dilakukan. Asalkan mau saja, dengan memanfaatkan tanah-tanah  kosong,  miliknya sendiri atau bekerjasama dengan pemilik tanah,  atau bahkan  dengan pihak kehutanan, maka  usaha itu bisa dilakukan. Sayangnya usaha sederhana itu tidak    banyak dilakukan  orang, sehingga tidak sedikit tanah di berbagai daerah menganggur dan tidak menghasilkan apa-apa.

 

Konsep sederhana tersebut sebenarnya  bisa dilakukan oleh setiap orang.  Pada saat ini,   juga sudah mulai dikembangkan di Malang selatan.  Bahkan,  sudah  ada petani yang   mencoba dan  berhasil. Oleh karena itu, saya menjadi semakin yakin  bahwa   mengembangkan ekonomi di pedesaan,  termasuk  mencukupi ongkos  naik haji,  sebenarnya  tidak sulit.  Sehingga  bisa-bisa nanti,  banyak orang disebut sebagai haji sengon, karena mereka berhaji dari hasil menanam sengon.  Wallahu a’lam.