Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mencari Isyarat Keberagamaan di TajikistanInformasi pertama kali yang saya dapatkan ketika nyampai di Tajikistan adalah menyangkut... |
Mempertegas Posisi Pendidikan AgamaSepanjang sejarah kehidupan bangsa, pendidikan agama dipandang sangat penting dan strategis untuk... |
Waktu Tengah Malam Mendarat di Dushanbe, TajikistanBaru pertama kali saya ke Tajikistan. Sebelumnya, tahun lalu, pernah ke Moskow,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 4784 |
![]() | Kemarin | 29436 |
![]() | Minggu ini | 60858 |
![]() | Bulan ini | 505988 |
![]() | Total | 29097155 |
| Tatkala Kyai Peduli Nara Pidana Telah Wafat |
|
|
|
| Sabtu, 04 Agustus 2012 21:09 |
|
Sudah lebih dari seminggu, saya berkunjung ke lembaga pemasyarakatan di Malang. Akan tetapi, ada satu kalimat yang sangat mengesankan yang saya dengar dari petugas lembaga itu, hingga tidak mudah saya lupakan. Kalimat itu berbunyi : “ kyai yang biasa ke sini -------lembaga pemasyarakatan, sudah wafat beberapa tahun lalu, dan belum ada orang lain yang menggantikan kebiasaannya itu”.
Mendengar kalimat, yang menurut saya amat menarik itu, saya kemudian minta penjelasan lebih lanjut. Petugas penjara itu mengatakan bahwa, ada kyai dari Malang selatan, ------saya tidak sebut namanya, pada setiap tahun di bulan Ramadhan selalu datang ke lembaga pemasyarakatan dengan membawa bungkusan nasi yang cukup dibagi kepada sejumlah penghuni penjara. Nasi bungkus itu kemudian dibagi-bagi ke seluruh nara pidana dan dimakan bersama-sama, termasuk dengan kyai sendiri.
Menurut penjelasan petugas penjara, semasa hidupnya, kyai itu pada setiap bulan Ramadhan tidak pernah absen, selalu datang dengan membawa sejumlah nasi bungkus, cukup dibagikan kepada seluruh penghuni lembaga pemasyarakatan. Ketika sebelumnya diberi tahu, bahwa jumlah penghuni penjara misalnya sekitar 1000 orang, kyai dengan diantar oleh santri-santrinya membawa sejumlah itu. Padahal, tidak seorangpun keluarga maupun santri kyai yang sedang menjalani hukuman di tempat itu.
Dengan memberi nasi bungkus itu, kyai ingin menggembirakan orang-orang yang sedang merasakan penderitaan oleh karena sedang menjalani hukuman. Menurut kyai itu, para nara pidana di Bulan Ramadhan sedang sangat membutuhkan perhatian dari orang lain. Orang lain, di luar penjara, pada bulan Ramadhan bisa menikmati, berkumpul dengan keluarga, tetangga, dan banyak orang lagi lainnya, sementara mereka terpaksa harus berpisah, karena sedang menjalani hukuman. Menurut kyai itu, betapapun mereka adalah orang yang sedang menderita dan sangat membutuhkan perhatian dan sapaan dari siapapun.
Saya mengenal dengan baik, kyai yang dimaksud oleh petugas penjara tersebut. Beliau sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Semasa hidupnya, kyai dimaksud memang sangat dekat dengan orang kecil, anak yatim, dan orang miskin. Biasanya, menjelang datang Bulan Ramadhan, orang miskin di desanya dikumpulkan di pesantrennya, dan selanjutnya diberi beras yang sekiranya cukup dimakan selama bulan suci itu.
Kyai ini juga pernah menyarankan kepada saya, agar ada hari-hari tertentu, saya mengajak tetangga untuk bertemu dan makan bersama di masjid yang ada di sebelah rumah saya. Sejak saran itu disampaikan, saya bersyukur berhasil menjalankannya, walaupun hanya seminggu sekali. Kyai dimaksud mengatakan bahwa agar hidup kita mendapatkan kasih sayang dan berkah dari Allah, maka kita harus memperhatikan sesama, terutama bagi mereka yang memerlukan perhatian.
Sekalipun sudah beberapa tahun kyai ini wafat, tetapi wajahnya terasa tidak pernah saya lupakan. Kalimat lain yang amat mengesankan, yang pernah dititipkan kepada saya, agar saya menyampaikan kepada Pimpinan Muhammadiyah, agar di dalam berdakwah tidak menyebut kata TBC yaitu kependekan dari Tahayul, Bid’ah, dan khurafat. Kalimat itu, menurut kyai tersebut bisa membuat orang yang mendengarnya kecewa dan bisa-bisa menjadi tidak simpatik pada organisasi keagamaan yang bersangkutan.
Menurut pandangan kyai, ------yang saat ini sudah wafat itu, maksud mubaligh yang menyampaikan kata TBC itu tidak salah dan juga baik, yaitu agar umat menjauh dari berbuat syirik. Akan tetapi, oleh karena disampaikan dengan menggunakan kata yang kurang tepat, hingga bisa membuat hati orang tersinggung, maka dakwahnya tidak akan berhasil maksimal. Bahkan orang yang mendengar dan kebetulan tidak sepaham, justru akan memusuhi. Kyai tersebut berpesan, seharusnya umat Islam bersatu dan membangun kekuatan bersama untuk mengajak orang mengenal Islam setahap demi tahap, sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang diseru. Itulah cara kyai dalam berdakwah, lembut, menyenangkan, dan peduli kepada siapapun, termasuk orang yang sedang dipenjara. Wallahu a’lam.
|