Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 240 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini2423
mod_vvisit_counterKemarin30712
mod_vvisit_counterMinggu ini143166
mod_vvisit_counterBulan ini588296
mod_vvisit_counterTotal29179463
Tatkala Kyai Peduli Nara Pidana Telah Wafat PDF Cetak E-mail
Sabtu, 04 Agustus 2012 21:09

 

Sudah lebih dari seminggu,  saya berkunjung ke lembaga pemasyarakatan di Malang.  Akan tetapi,  ada satu kalimat  yang  sangat mengesankan yang saya dengar dari petugas lembaga itu,  hingga tidak mudah  saya lupakan.  Kalimat itu berbunyi : “ kyai yang biasa  ke sini -------lembaga pemasyarakatan, sudah wafat beberapa tahun lalu,  dan belum ada orang lain yang menggantikan kebiasaannya itu”.

 

Mendengar kalimat,  yang menurut saya amat menarik itu, saya kemudian minta penjelasan lebih lanjut. Petugas penjara itu mengatakan   bahwa,  ada kyai dari  Malang selatan, ------saya tidak sebut namanya, pada setiap tahun di bulan Ramadhan selalu datang ke lembaga pemasyarakatan dengan membawa bungkusan nasi yang cukup dibagi kepada sejumlah penghuni penjara. Nasi bungkus itu kemudian dibagi-bagi ke seluruh  nara pidana dan dimakan bersama-sama, termasuk dengan  kyai sendiri.

 

Menurut penjelasan petugas penjara, semasa hidupnya, kyai itu  pada setiap bulan Ramadhan tidak pernah absen, selalu datang dengan membawa sejumlah nasi bungkus,  cukup  dibagikan kepada  seluruh penghuni lembaga pemasyarakatan.  Ketika sebelumnya diberi tahu,  bahwa jumlah penghuni penjara misalnya sekitar 1000 orang,  kyai  dengan diantar oleh santri-santrinya membawa sejumlah itu. Padahal,  tidak seorangpun keluarga maupun santri  kyai yang sedang menjalani hukuman di tempat itu.

 

Dengan memberi nasi bungkus itu, kyai ingin menggembirakan orang-orang yang sedang merasakan penderitaan oleh karena sedang menjalani hukuman. Menurut kyai itu, para nara pidana  di Bulan Ramadhan  sedang sangat membutuhkan  perhatian dari orang lain.  Orang lain, di luar penjara,    pada bulan Ramadhan bisa menikmati, berkumpul dengan keluarga, tetangga,  dan  banyak orang lagi lainnya, sementara mereka terpaksa harus berpisah, karena sedang menjalani hukuman. Menurut kyai itu, betapapun  mereka adalah orang yang sedang menderita dan sangat membutuhkan perhatian dan sapaan  dari  siapapun.

 

Saya mengenal dengan baik, kyai yang dimaksud oleh petugas penjara tersebut. Beliau sudah  wafat beberapa tahun yang lalu. Semasa hidupnya, kyai dimaksud memang sangat dekat dengan  orang kecil, anak yatim,  dan orang miskin.  Biasanya, menjelang datang Bulan Ramadhan, orang miskin di desanya dikumpulkan di  pesantrennya,  dan selanjutnya diberi beras yang sekiranya cukup dimakan selama bulan suci itu. 

 

Kyai ini juga pernah menyarankan kepada saya, agar ada hari-hari tertentu, saya  mengajak tetangga untuk bertemu dan makan bersama di masjid yang ada di sebelah rumah saya.  Sejak saran itu disampaikan,  saya bersyukur berhasil menjalankannya, walaupun hanya seminggu sekali. Kyai dimaksud mengatakan bahwa agar hidup kita mendapatkan kasih sayang dan berkah dari Allah, maka kita harus memperhatikan sesama, terutama bagi mereka yang memerlukan perhatian.

 

Sekalipun sudah beberapa tahun kyai ini wafat, tetapi wajahnya terasa tidak pernah saya lupakan. Kalimat lain yang  amat mengesankan,  yang pernah dititipkan kepada saya,  agar saya menyampaikan kepada Pimpinan Muhammadiyah, agar di dalam berdakwah tidak menyebut kata TBC yaitu kependekan dari Tahayul,  Bid’ah, dan khurafat. Kalimat itu, menurut kyai  tersebut bisa  membuat orang yang mendengarnya  kecewa dan bisa-bisa menjadi tidak simpatik pada  organisasi keagamaan yang bersangkutan.

 

Menurut pandangan  kyai, ------yang saat ini sudah wafat itu, maksud mubaligh yang menyampaikan kata TBC  itu tidak salah dan juga  baik, yaitu agar umat menjauh dari  berbuat syirik. Akan tetapi, oleh karena disampaikan dengan menggunakan kata yang kurang tepat,  hingga  bisa membuat hati orang tersinggung, maka dakwahnya tidak akan berhasil maksimal.  Bahkan orang yang mendengar dan kebetulan tidak sepaham,  justru akan  memusuhi. Kyai  tersebut berpesan,  seharusnya umat Islam bersatu dan  membangun kekuatan bersama untuk  mengajak orang mengenal Islam setahap demi tahap,  sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang diseru. Itulah cara kyai dalam berdakwah, lembut,  menyenangkan, dan peduli kepada siapapun, termasuk orang yang sedang dipenjara. Wallahu a’lam.