Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 409 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini29186
mod_vvisit_counterKemarin42266
mod_vvisit_counterMinggu ini185557
mod_vvisit_counterBulan ini657325
mod_vvisit_counterTotal29248492
Al Qur'an Membangun Peradaban Unggul PDF Cetak E-mail
Kamis, 09 Agustus 2012 15:00

 

Disampaikan dalam  Ceramah di Istana Negara untuk

Memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 7 Agustus 2012

 

Assalamu alaikum wr. wb.

الحمد لله رب العالمين الّذِى جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ شَهْرَ الْقُرْآَنِ هُدًا لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Yang kami  hormati Presiden Repubik Indonesia, Bapak Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono;

Yang kami hormati Waklil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Herawati Budiono;

Yang kami hormati Bapak dan Ibu Anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, Para Pimpinan dan Anggota Lembaga Tinggi Negara;

Yang Mulia Para Duta Besar Negara-negara Sahabat;

Yang kami hormati para alim ulama’, cendekiawan, dan hadirin yang berbahagia;

 

Pada kesempatan yang mulia ini, ijinkan saya bersama-sama para hadirin semuanya, untuk tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa syukur, memuji asma Allah, yang telah melimpahkan rahmat taufiq dan hidayah kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga terlimpah pada junjungan kita, nabi besar Muhammad saw., keluarga, sahabat, kita semua dan siapa saja yang mengikuti dan mencintainya.

Selanjutnya, saya masih ingin mengajak kepada para  hadirin sekalian untuk bersama-sama  mensyukuri, bangsa Indonesia ditakdirkan oleh Allah sebagai bangsa dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Bangsa yang majemuk, tetapi bersatu. Bangsa yang diwarisi oleh pendahulunya konsep dan filosofi tentang berbangsa dan bernegara secara kokoh dan mendasar. Secara teologis, hanya dengan cara bersyukur, maka bangsa ini berhak mendapatkan tambahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga berhasil menjadi maju sebagaimana yang dicita-citakan bersama. Pintu kemajuan adalah kemauan, kemampuan dan kesediaan bersyukur itu.

Bapak Presiden, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, dan hadirin yang berbahagia;

Kita semua  juga harus berbangga, sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, rakyatnya sudah sedemikian mencintai al Qur’an. Di mana-mana telah tersedia mushaf baik di masjid, di lembaga pendidikan dan bahkan di rumah-rumah. Membaca al Qur’an telah menjadi kebiasaan di mana-mana. Anak-anak sejak usia dini telah diperkenalkan dengan bacaan kitab suci ini. Bahkan akhir-akhir ini tidak sedikit lembaga pendidikan yang mengembangkan tahfidz atau menghafal al Qur’an.

Al Qur’an juga sudah dipahami sebagai petunjuk, dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, sebagai peringatan, sebagai rakhmat, sebagai penjelas, sebagai berita gembira, dan bahkan sebagai obat bagi hati yang sedang duka dan sakit. Atas pemahaman seperti itu, maka al Qur’an selalu dicintai dan menjadi kitab yang dimuliakan. Lebih-lebih pada Bulan Ramadhan, suara bacaan al Qur’an terdengar di mana-mana sehingga hampir-hampir tidak pernah sepi dari bacaan al Qur’an.

Akan tetapi hal yang masih perlu direnungkan adalah, apakah fungi-fungsi kitab suci tersebut sudah sepenuhnya ditangkap dan dijadikan pedoman oleh umat Islam. Al Qur’an memang  telah dibaca, akan tetapi apakah kandungannya telah dipahami sepenuhnya. Apakah al Qur’an benar-benar telah menjadi landasan kehidupan sehari-hari bagi umatnya. Manakala al Qur’an telah difungsikan, semestinya terdapat pembeda yang signifikan antara orang atau masyarakat yang dekat dengan kitab suci ini, dan yang tidak.

Atau dalam bahasa lain, al Qur’an telah dicintai tetapi belum sepenuhnya dijadikan pembeda antara yang haq dan yang bathil, belum dijadikan petunjuk dan penjelas, dan bahkan juga belum dijadikan sebagai obat bagi mereka yang hatinya sedang sakit. Kita mesti membayangkan, atas dasar keindahan al Qur’an itu, maka sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi sendiri, bahwa manakala seseorang berpegang teguh pada dua hal, yaitu al Qur’an dan as sunnah, maka di mana dan kapan pun tidak akan mengalami kesesatan.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).

Betapa indahnya kehidupan yang diliputi oleh al Qur’an, telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad sendiri, dalam membangun masyarakat Madinah. Juga oleh beberapa dekade setelahnya, misalnya pada masa Bani Ummayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad. Umat Islam ketika itu sangat berwibawa, mencapai puncak keemasan oleh karena al Qur’an dan as sunnah dijadikan pegangan kehidupan sehari-hari. Ilmu pengetahuan ketika itu berkembang pesat, dan demikian pula hukum dan keadilan berhasil ditegakkan.  

 

Bapak Presiden,Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono dan hadirin yang berbahagia

Dalam perkembangan lebih lanjut, sejarah peradaban Islam, ternyata surut atau mengalami kemunduran. Sebagai penyebabnya, Islam hanya dipahami dari aspek yang terbatas. Konflik di mana-mana terjadi. Pertikaian itu tidak menyangkut hal yang bersifat substantif atau mendasar, melainkan terkait hal yang bersifat furuk. Muncullah berbagai madzab, aliran-aliran, yang di antara mereka kadangkala tidak mau kompromi. Perbedaan itu jika dikaji secara saksama, sebenarnya hanya menyangkut aspek sederhana, ialah terkait dengan kegiatan ritual. Masing-masing kelompok hanya berbeda dalam menjalankan thaharah, shalat ,zakat, puasa, dan haji atau yang serupa itu.

Akibatnya, Islam tampak lebih bersifat teosentris daripada antroposentris. Orang menjalankan ibadah sebagai wujud keber-Islamannya, seolah-olah bukan kepentingan kemanusiaan sendiri, melainkan untuk kepentingan Tuhan. Selain itu, keber-Islaman seolah-olah hanya terbatas pada hal yang terkait dengan ritual. Pandangan seperti itu juga berpengaruh terhadap cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Muncullah ilmu umum dan ilmu agama. Seolah-olah dalam Islam terdapat pemisahan ilmu secara dikotomik seperti itu.

Ilmu agama Islam hanya dipahami sebatas dalam ilmu tafsir, ilmu hadits, fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf, tarekh, dan Bahasa Arab sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam pada umumnya. Demikian pula pembidangan ilmu keIslaman, sebatas meliputi ilmu ushuluddin, syari’ah,  tarbiyah, dakwah dan adab. Pembagian seperti itu tidak salah, akan tetapi semestinya disiplin yang lain tidak boleh dipisahkan dari pengertian Islam. Sebab al Qur’an sendiri juga memerintahkan umat Islam, selain banyak berdzikir juga merenungkan penciptaan langit dan bumi, dan bahkan al Qur’an mengingatkan bahwa semua penciptaan itu tidak ada yang sia-sia. Ditegaskan dalam al Qur’an Ali Imran, 190-191:

 

 

 

 

 

 


Artinya :

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Ali Imran, 190-191)

 

Kita bersyukur, pada akhir-akhir ini sudah mulai muncul kesadaran baru. Perguruan tinggi Islam yang semula hanya mengkaji dan mengembangkan bidang-bidang keilmuan yang terbatas sebagaimana dikemukakan di muka, telah membuka lebar-lebar untuk mengembangkan disiplin ilmu lainnya. Beberapa perguruan tinggi Islam di negara-negara Islam, tidak terkecuali Universitas al Azhar di Mesir yang menjadi salah satu kiblat perguruan tinggi Islam, telah membuka fakultas-fakultas yang mengembangkan berbagai disiplin disiplin  seperti teknik, kedokteran, pertanian, pertambangan, kelautan,  sosiologi, psikologi, ekonomi, politik, pendidikan dan lain-lain.

Perkembangan seperti itu juga terjadi di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi Islam negeri, yang semula berbentuk sekolah tinggi dan IAIN telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri. Konsep-konsep baru seperti integrasi ilmu dan agama, interkoneksi dan integrasi ilmu dan sebagainya mulai muncul dan dikembangkan di beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia. Hasilnya, tanpa melebih-lebihkan, muncul lulusan yang memahami kitab suci al Qur’an akan tetapi juga menguasai disiplin ilmu, baik yang tergolong keras maupun lunak, seperti kedokteran, sains, ekonomi, politik dan lain-lain. Manakala perkembangan ini berlanjut, maka Islam akan kembali dipahami dalam perspektif yang luas, sebagaimana asalnya, yaitu ketika di zaman Rasulullah dan para sahabat sebagaimana dikemukakan di muka.

 

Bapak Presiden, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, dan hadirin yang berbahagia

Kiranya perlu dipahami bahwa kemunduran umat Islam hingga dirasakan sampai akhir-akhir ini lebih banyak disebabkan oleh faktor internal umat Islam sendiri. Di antaranya adalah bahwa, Islam tidak dipahami lagi secara utuh, melainkan hanya sebatas bagian dari kehidupan, yaitu hanya menyangkut di seputar  ritual hingga Islam lebih dipahami bersifat  teosentris. Selain itu terjadi pemisahan antara kepentingan duniawi dan ukhrowi, bahkan Islam hanya dipahami sebatas untuk kepentingan akhirat. Akibatnya, umat Islam di mana-mana tertinggal, baik terkait ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, teknologi dari umat lainnya. Karena itu walaupun jumlah umat islam di dunia mencapai 1,53 miliar (23%) dari 7 miliar penduduk dunia, umat Islam tidak dapat mengambil peran penting dalam bidang ekonomi, politik dan ilmu pengetahuan.  Dampak selanjutnya, umat Islam belum menjadi komunitas unggul atau sebagai khalifah, bahkan dalam banyak hal baru sebagai pengikut dan itupun tertinggal.

Padahal, manakala al Qur’an dipahami secara mendalam dan difungsikan sebagaimana mestinya, maka umat Islam akan menjadi unggul dan selalu berada pada posisi terdepan. Hal itu telah dibuktikan lewat sejarah, bahwa umat Islam pernah berhasil membangun peradaban unggul. Kemajuan itu terjadi tatkala ilmu pengetahuan tidak didikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Selain itu, Islam tidak hanya dilihat dari perspektif syari’ah, ushuluddin, dakwah, tarbiyah dan adab, melainkan juga dilihat dari berbagai disiplin ilmu secara luas dan utuh. Lebih dari itu, Islam juga tidak cukup dikenali sebatas dari aspek tauhid, fiqh, akhlak, tasawwuf, dan tarekh. Islam juga tidak sebatas menyangkut agama atau ajaran yang terkait dengan kegiatan ritual, tetapi juga peradaban secara luas. Hal seperti itu dengan jelas ditunjukkan oleh al Qur’an dan hadits Nabi. Lingkup ajaran Islam yang sedemikian luas ternyata diakui oleh ilmuwan barat Gibb, dengan mengatakan bahwa Islam tidak sebatas agama melainkan juga civilization atau peradaban.

Melalui kajian dan perenungan yang  lama dan mendalam, dalam waktu yang cukup lama, saya mendapatkan kesimpulan bahwa sebenarnya al Qur’an  yang diturunkan kepada  Muhammad saw., lewat Malaikat Jibril,   setidaknya membawa lima misi besar  dalam membangun  kehidupan yang berkualitas. Ke lima misi besar itu bisa dilacak dari isi al Qur’an dan hadits nabi secara jelas. Manakala semua itu dipahami dan  dijadikan pedoman bagi umat, maka al Qur’an akan benar-benar menjadi kekuatan dalam membangun peradaban unggul.

 

Bapak Presiden, Ibu Negara, dan hadirin yang berbahagia

Kelima misi besar yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang bersumberkan dari al Qur’an, secara berturut-turut adalah sebagai berikut : Pertama,  al Qur’an menjadikan umat manusia agar kaya ilmu pengetahuan. Pemahaman seperti itu bisa didasarkan dari ayat yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril,  adalah perintah membaca. Demikian pula, misi rasulullah yang disebutkan pertama kali  di dalam al Qur’an adalah tilawah. Kedua-duanya, baik qira’ah maupun tilawah  memiliki makna membaca. Bahkan, asma’ul husna, yakni nama-nama Allah yang berjumlah 99, yang disebutkan pertama kali adalah al kholiq, yang artinya adalah Maha Pencipta.

Posisi kedua kata tersebut, yaitu membaca dan mencipta, terasa sedemikian penting. Keduanya adalah merupakan kunci pembuka keberhasilan hidup bagi siapapun. Orang yang pandai membaca dan mencipta gejala ekonomi, ia akan sukses di bidang ekonomi. Orang yang pintar membaca kehidupan politik, maka ia memahami seluk belum kekuasaan dan masyarakat yang dipimpinnya. Orang arif  tidak saja mampu membaca hal yang tampak, tetapi juga memiliki kemampuan membaca  tanda-tanda zaman. Para pemimpin pada level apapun diharapkan memiliki  kemampuan  itu,  bahkan juga  mampu membaca nurani mereka yang dipimpinnya. 

Misi kedua, adalah bahwa al Qur’an diturunkan agar kehidupan manusia menjadi berkualitas. Sebagai ciri-ciri manusia berkualitas  setidaknya ada empat, yaitu (1)  bertauhid, yaitu selalu memahami dirinya sendiri sebagai bekal untuk memahami siapa Tuhannya. (2)  adalah  bisa dipercaya. Sedemikian penting  kepercayaan  atau trust itu, sehingga Muhammad sebelum diangkat sebagai rasul, ia dikaruniai sifat al amien yang artinya adalah bisa dipercaya. Ciri (3)  sebagai manusia berkualitas, adalah kemauan untuk selalu melakukan tazkiyatunnafs, atau mensucikan diri. Seorang disebut unggul  ketika yang bersangkutan  mau menyucikan jiwanya, pikirannya dan bahkan juga raganya  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّىهَا. Orang yang melakukan tazkiyatun nafs tidak akan mau mengotori hatinya, berpikir buruk, dan juga mengonsumsi apa saja yang tidak baik  atau tidak halal. Selanjutnya, ciri ke (4) sebagai manusia ungggul adalah selalu berpikir di luar batas-batas kepentingan dirinya, atau menjadi seorang yang selalu memberi manfaat bagi lainnya.

. خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ .  

Sedangkan misi al Qur’an  ketiga,  adalah membangun tatanan sosial yang berkeadilan. Adil dalam Islam sedemikian penting. Masyarakat Quraisy, sebelum Muhammad diutus sebagai rasul, disebut sebagai masyarakat jahiliyah. Masyarakat jahiliyah dikenal banyak konflik, mereka berebut ekonomi dan kekuasaan, tidak peduli sesama, penuh tipu muslihat, menindas, saling mengalahkan,  saling curiga mencurigai, dan selalu mengedepankan diri  sendiri dan kabilahnya. Itulah di antara ciri-ciri masyarakat jahiliyah. Masyarakat yang demikian itu melalui al Qur’an diubah menjadi masyarakat,  yang  saling berbagi kasih sayang dan tolong menolong, membela yang lemah, yatim dan miskin, mereka selalu berpikir dan berbuat dalam bingkai kitab suci dan ajaran rasulullah, berkeadilan dan berakhlak luhur, serta  mencerahkan. Masyarakat dengan ciri-ciri seperti itu yang dibangun oleh Islam melalui al Qur’an.

Misi Islam yang ke empat adalah, memberi tuntunan kepada manusia, yaitu cara menjalankan ritual untuk membangun spiritual. Al Qur’an diturunkan ke   muka bumi  agar  umat manusia banyak berdzikir atau mengingat Allah, dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir, melakukan shalat lima waktu, berzakat, puasa di bulan ramadhan seperti sekarang ini, dan haji.

Tugas-tugas religius yang berkait dengan ritual itu  semestinya segera saja dijalankan. Namun anehnya,  kaum muslimin lebih menyukai untuk mendiskusikan,  memperdebatkan, dan bahkan tata cara melakukan ritual dijadikan sebagai  bahan  berkonflik. Akibatnya, masyarakat terpecah belah dan bercerai berai.  Perbedaan dalam menjalankan ritual  seringkali dicarikan legitimasi dengan mengatakan bahwa, perbedaan itu adalah rahmat. Padahal kenyataannya perbedaan dalam hal ritual selalu melahirkan perpecahan umat hingga lebih pantas disebut musibah. Perbedaan yang membawa rahmat sebenarnya terletak pada misi yang pertama. Perbedaan itu menguntungkan adalah tatkala berada pada wilayah ilmu dan bukan pada wilayah kegiatan ritual.

Sedangkan misi diturunkan  al Qur’an yang ke lima,  adalah mengajak umat manusia beramal saleh. Secara sederhana amal artinya adalah bekerja, sedangkan saleh artinya adalah benar, tepat, lurus dan sesuai.  Semestinya,  amal saleh artinya adalah bekerja secara profesional. Tugas-tugas kesehatan seharusnya diserahkan kepada dokter, pertanian diserahkan kepada ahli pertanian, ekonomi diserahkan kepada ahli ekonomi, dan seterusnya. Sebenarnya, itulah yang disebut sebagai amal saleh. Namun sayang sekali, arti kata yang sedemikian  indah itu  di masyarakat disalah artikan, yaitu beramal sekedar menyumbang atau berderma dengan ukuran yang amat kecil.

Sedemikian penting  kata amal saleh itu, sehingga kata amal saleh  dalam al Qur’an,  selalu dipadukan dengan kata iman. Yaitu  iman dan amal saleh. Islam sangat menghargai orang bekerja, dan lebih-lebih manakala pekerjaan itu  ditangani  sesuai dengan  keahliannya. Nabi Muhammad mengingatkan dengan kalimat yang amat keras, yaitu bahwa manakala pekerjaan diserahkan kepada seseorang yang bukan  ahlinya maka tunggulah kerusakannya.  

 إِذَا وسدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

 

Bapak Presiden, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, hadirin yang berbahagia  

Berdasarkan uraian di muka, maka ijinkan saya menyimpulkan, bahwa manakala ke lima misi al Qur’an  itu ditangkap, hingga umat Islam melalui kitab suci  dan Sunnah Rasul menjadi  (1) kaya ilmu pengetahuan,  (2) berhasil menjadi manusia berkualitas dengan ciri-ciri tersebut, (3) berada pada tatanan sosial yang adil, (4) selalu menjalankan ritual untuk membangun spiritual, dan (5) selalu bekerja secara profesional, maka saya yakin, umat Islam atau penduduk Indonesia terbesar di negeri ini akan meraih kemajuan. Islam dengan kitab suci al Qur’an dan assunah, akan mampu membangun peradaban unggul di tengah-tengah masyarakat dunia.

Sebaliknya jika Islam hanya ditangkap dari aspek ritualnya, dan apalagi tugas-tugas ritual itu diperdebatkan, maka Islam seperti itu tidak akan memberi sesuatu yang terlalu penting bagi kehidupan ini. Mestinya,  berangkat dari  kerangka pemaknaan misi al Qur’an seperti itu, umat  Islam seharusnya selalu berpikir bagaimana membangun pusat-pusat riset untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Berbicara Islam adalah selalu berbicara tentang ilmu pengetahuan dan temuan-temuan baru untuk selanjutnya dimanfaatkan bagi kehidupannya.

Selain itu, untuk membangun manusia unggul, keadilan, dan kerja profesional,  maka  umat Islam  seharusnya  menjadi pelopor dalam mengembangkan pendidikan unggul. Manusia berkualitas tidak akan mungkin lahir dari lembaga pendidikan yang  tidak memiliki konsep yang jelas,  serta dikelola dan dipimpin  sekedarnya. Al Qur’an memberikan petunjuk bagaimana pendidikan yang utuh dan berkualitas itu bisa diraih.  Menurut al Qur’an,  pendidikan itu meliputi  empat aspek, yaitu  tilawah, tazkiyah, taklim dan hikmah.  Tilawah artinya adalah membaca, yaitu membaca alam semesta.  Sebagai implementasi dari  petunjuk  al Qur’an, yaitu agar  memikirkan penciptaan langit dan bumi,  tidak ada lain kecuali umat Islam harus mempelajari  ilmu alam, sosial,  dan humaniora.  Tegasnya bahwa,  mempelajari fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, ekonomi dan lain-lain adalah bagian dari kegiatan  memenuhi perintah al Qur’an. Namun tatkala mengkaji ilmu-ilmu dimaksud harus memulainya dengan menyebut asma Tuhan,  sebagaimana diperintahkan iqra’ bismirabika hingga sampai pada puncak religious ialah warabbuka al akram, bertasbil sebagai pengakuan secara jujur dan tulus terhadap keagungan dan kemuliaan Tuhan yang Maha Kuasa.  

Terakhir, saya masih ingin mengatakan bahwa al Qur’an adalah ajaran yang luas, komprehensif, dan atau menyeluruh berisi tentang petunjuk, rahmat, pembeda, penjelas dan bahkan sebagai asyifa’ bagi kehidupan ini. Melalui al Qur’an yang kita peringati pada malam hari, di tempat yang mulia ini, sebenarnya akan bisa menjadi cahaya dan pilar yang kuat untuk membangun peradaban yang unggul, sebagaimana hal itu telah dibuktikan oleh Rasulullah tatkala membangun masyarakat Madinah dan kemudian dalam sejarahnya juga oleh beberapa umat setelahnya  di dunia ini.

 

Bapak Presiden, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono dan hadirin yang berbahagia,

Mengakhiri ceramah dalam rangka peringatan nuzulul Qur’an pada malam hari yang sangat membahagiakan ini, saya sekali lagi menghaturkan rasa terima kasih dan hormat yang yang mendalam kepada Bapak Presiden, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono yang telah berkenan memberi kesempatan kepada saya, menyampaikan ceramah di hadapan hadirin yang sangat mulia ini. Kepada semua yang hadir dan juga siapa saja yang mengikuti dan memperhatikan ceramah ini, saya menghaturkan terima kasih yang mendalam.

Akhirnya kepada Allah swt., kita bersama-sama memohon ridha dan pertolongan-Nya, agar para pemimpin bangsa dan negara ini selalu dikaruniai kesehatan, kekuatan dan petunjuk untuk mengantarkan bangsa ini meraih cita-citanya, yaitu menjadi bangsa yang adil, makmur dan sejahtera dan berperadaban maju. amien

Wassalamu alaikum wr. Wb.