Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Mengkaitkan Kepemimpinan Dengan AmanahMendengarkan pembicaraan tentang kepemimpinan, selalu saja dikaitkan dengan amanah. Bahwa pemimpin itu... |
Di Tajikistan, Berbicara Agama Dianggap SensitifKebetulan saja, ketika nyampai di Tajikistan, saya diarahkan untuk menginap di Hotel... |
Berdiskusi dengan Duta Besar RI untuk Sudan Terkait Kerjasama PendidikanPada hari Kamis, tanggal 23 Mei 2013, Duta Besar RI untuk Sudan... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 13716 |
![]() | Kemarin | 26624 |
![]() | Minggu ini | 13716 |
![]() | Bulan ini | 705901 |
![]() | Total | 29297068 |
| Kearifan dalam Berdakwah |
|
|
|
| Sabtu, 11 Agustus 2012 22:30 |
|
Pengertian bahwa dalam berdakwah seharusnya dilakukan dengan arif, sebenarnya telah diketahui oleh banyak orang. Dakwah seharusnya memang begitu. Orang biasanya tidak selalu mau digurui, disalahkan, disinggung perasaannya, dan apalagi diolok-olok. Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sekecil apapun, yang bersangkutan tidak mau diungkapkan, apalagi di depan orang banyak.
Memang maksud berdakwah adalah ingin memberikan pengetahuan baru sebagai cara untuk mengubah perilaku, kebiasaan, dan juga keyakinan. Akan tetapi berdakwah tidaklah selalu mudah membawa hasil. Orang pada umumnya menginkan perubahan. Dan, perubahan itu dapat diraih manakala ada kesediaan untuk menerima informasi, pengetahuan baru, nasehat, dan sejenisnya. Namun pada kenyataannya belum tentu orang mau diberi informasi, apalagi digurui atau diajari. Itulah sebabnya, dalam berdakwah perlu kearifan itu.
Ketika datang ke Tual, Maluku, saya mendapatkan pengalaman menarik tentang dakwah yang dilakukan oleh seorang Pimpinan Muhammadiyah. Dia menjelaskan bahwa, dakwahnya dilakukan dengan cara bertahap dan tanpa menyalahkan apa yang dilakukan masyarakat sebelumnya. Dia memberikan pengakuan, penghargaan, dan berusaha tidak menyinggung perasaan siapapun. Dai Muhammadiyah ini paham bahwa siapapun tidak mau dianggap salah dan apalagi bodoh.
Dalam hal pelaksanaan tarweh misalnya, dia mengakui bahwa sejak zaman syahabat dulu bilangan rakaatnya ada dua puluh. Oleh karena itu tatkala para ulama di daerah ini telah lama membimbing umatnya menjalankan tarweh sebanyak dua puluh rakaat tidak dianggap keliru. Namun da’i Muhammadiyah ini usul, bahwa dengan alasan banyak jama’ah yang berusia lanjut, dan juga anak-anak yang masih dalam taraf pelatihan, maka jumlah raka’at dalam tarweh diajak mengambil hanya delapan raka’at saja. Dikatakan bahwa, Nabi menurut Aisyah, -----isterinya, pernah shalat sampai semalaman hingga kakinya bengkak. Tapi juga pernah shalat tarweh hanya delapan rakaat saja.
Melalui penjelasan yang simpatik dan bahkan juga dibarengi dengan empatik seperti itu, ternyata masyarakat menerimanya. Akan tetapi, sekalipun tarwehnya hanya delapan raka’at, bacaan shalawat di antara salam setiap dua rakaat masih dilakukan. Demikian pula doa kunut, wiridan, dan juga berdoa bersama tetap dipertahankan. Rupanya pengenalan terhadap paham Muhammadiyah yang dilakukan secara bertahap dan tidak ada pihak-pihak manapun yang merasa tidak mendapatkan penghargaan, maka akhirnya dakwah tersebut tidak melahirkan gejolak dan bahkan berhasil diterima dengan baik.
Mendengar penjelasan itu, saya merasa mendapatkan pengalaman baru. Dengan pendekatan itu, maka masyarakat tetap bersatu. Bahkan rupanya, identitas lama juga tidak terganggu. Masyarakat kemudian bisa menerimanya. Umpama cara-cara seperti itu dilakukan pada tataran yang lebih luas, maka gesekan-gesekan antar kelompok umat Islam bisa dieliminasi, sehingga persatuan umat berhasil dipelihara. Maka itulah pentingnya kearifan dalam berdakwah. Wallahu a’lam. |