Pelantikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Bersinggah di Airport Negara Muslim Kaya MinyakDi dalam perjalanan pulang dari Tajikistan dan singgah di Dubai, mau tidak... |
Tatkala Berada di Negeri Muslim Minim Masjid dan Suara AdzanSelama enam hari di Tajikistan, saya tidak pernah mendengar suara adzan. Masjid... |
Menangkap Pesan IDB Tentang Problem SosialSebelum acara konferensi yang diselenggarakan oleh IDB di Tajikistan secara resmi dibuka,... |
|
More in: Artikel Prof. Dr. Imam Suprayogo |
Selamat dan sukses atas dilantiknya Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2013 - 2017. -
Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2013/2014. Info lengkap: http://pmb.uin-malang.ac.id -
Jalin silaturrahim dan sharing pengetahuan bersama sivitas Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan bergabung di UinBLOG. -








![]() | Hari ini | 23791 |
![]() | Kemarin | 42266 |
![]() | Minggu ini | 180162 |
![]() | Bulan ini | 651930 |
![]() | Total | 29243097 |
| Meniru itu Ternyata Tidak Selalu Mudah |
|
|
|
| Selasa, 21 Agustus 2012 18:18 |
|
Suatu ketika, tatkala sedang di kantor, saya kedatangan seorang yang saya kenal dengan baik, dia seorang pengusaha sukses. Berbagai jenis usaha ditangani, mulai dari bidang perbankan, perumahan, pelayaran, dan masih ada lagi lainnya. Kecakapannya sebagai pengusaha, ia dapatkan dari pengalaman. Sejak usia muda, dia sudah aktif berbisnis.
Kedatangannya ke kampus pada saat itu tidak ada kaitannya dengan usaha bisnisnya, sekedar sillaturahiem biasa. Namun ia tertarik dengan pengembangan lembaga pendidikan. Di tengah-tengah kesibukan usaha bisnisnya itu, ia masih menyempatkan untuk mengembangkan lembaga pendidikan, yang dulu dirintis oleh orang tuanya. Merawat peninggalan orang tua dianggap kewajiban yang harus ditunaikan.
Selama ini dia mengaku sangat salut dengan pengembangan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Lembaga yang dikenalnya sudah sejak lama, ternyata pada akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sedemikian cepat, baik dilihat dari kelembagaan, sarana dan prasarana pendidikan, maupun lainnya. Perguruan tinggi Islam milik pemerintah ini dipandang telah berhasil mengubah citranya hingga menjadi lembaga pendidikan yang modern dan tidak tampak ketinggalan zaman lagi.
Namun dibalik penilaiannya yang positif itu, ia juga merasa heran, mengapa kemajuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak dialami oleh perguruan tinggi Islam negeri lainnya. Ia mengaku telah melihat beberapa perguruan tinggi Islam di banyak kota, yang sama-sama milik pemerintah, namun selama ini tidak banyak berubah. Atas dasar kenyataan itu, dia bertanya-tanya, apakah pembagian anggaran dari pemerintah pada setiap tahunnya tidak dilakukan secara merata.
Tentu pertanyaan tersebut saya jawab, sebagaimana yang saya ketahui. Saya jelaskan bahwa pengembangan perguruan tinggi Islam, terutama yang berstatus milik pemerintah, mengikuti ketentuan dan mekanisme yang sama. Masing-masing perguruan tinggi Islam, sebelum tahun anggaran berjalan sudah mengajukan perencanaan dan sekaligus penganggarannya. Tentu perencanaan itu dilengkapi dengan alasan-lasan dan atau pertimbangan obyektif. Manakala dianggap layak, perencanaan itu akan direspon oleh pemerintah.
Atas penjelasan yang saya berikan itu, tamu yang juga pengusaha sukses tersebut semakin penasaran. Ia mempertanyakan, mengapa para pimpinan perguruan tinggi Islam tidak segera mengadopsi konsep termasuk langkah-langkah pengembangan yang dilakukan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bukankah umpama mereka mau meniru saja, maka perkembangan perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia akan segera merata dan semua akan maju sehingga menjadi kebanggaan umat.
Rupanya pengusaha sukses yang saya maksudkan itu tidak begitu mudah menyadari, bahwa meniru itu sebenarnya tidak mudah. Maka, agar ia lebih jelas, pertanyaannya itu saya jawab dengan balik bertanya kepadanya. Bahwa semua orang, di mana-mana dan kapan saja, selalu ingin kaya. Tetapi mengapa, kesuksesan yang ia lakukan dalam mengembangkan ekonomi, ternyata tidak ditiru oleh para tetangganya. Padahal umpama, para tetangganya mau meniru saja, maka mereka akan menjadi kaya semua. Tetapi, ternyata yang terjadi tidak begitu. Tidsak ada tetangganya yang menirunya.
Atas pertanyaan balik yang saya ajukan, ternyata menjadikan pengusaha tersebut menyadari, bahwa meniru itu tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Semua orang ingin menjadi sukses dan kaya, tetapi sekedar meniru langkah-langkah orang lain yang sudah nyata-nyata sukses saja juga tidak selalu bisa. Maka dapat disimpulkan bahwa meniru itu saja tidak selalu mudah, sehingga tidak semua orang bisa menjalaninya. Wallahu a’lam.
|