Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 232 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini29771
mod_vvisit_counterKemarin24587
mod_vvisit_counterMinggu ini113164
mod_vvisit_counterBulan ini584932
mod_vvisit_counterTotal29176099
Kekayaan dan Kebahagiaan PDF Cetak E-mail
Sabtu, 15 September 2012 06:45

 

Ketika sedang di kantor, saya kedatangan seorang kyai,  yang maksudnya,  sekedar ingin bersilaturahmi. Selama ini rupanya kyai ini cukup  perhatian pada UIN Maliki Malang. Ia menganggap bahwa  pendidikan dengan menggabungkan antara dua tradisi, yaitu tradisi perguruan tinggi dan ma’had adalah  tepat. Apalagi di kampus ini juga dikembangkan kegiatan pembelajaran Bahasa Arab secara intensif, tradisi shalat berjamaah pada setiap waktu, dan bahkan juga  kegiatan hafalan al Qur’an oleh para mahasiswanya.

 

Biasanya kalau ia datang, selalu membicarakan  tentang pendidikan, khususnya tentang pesantren.  Pada kesempatan silaturrahmi terakhir ini, selain membicarakan tentang pesantren sebagaimana biasanya, ia menyinggung   tentang arti kekayaan dan kebahagiaan. Setahu saya, gaya bicara kyai  selalu  khas, yaitu bebas, terbuka, dan  ikhlas. Rujukannya selalu al Qur’an, hadits nabi dan  hasil pengamatannya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.  

 

Kyai ini  berpandangan  bahwa kekayaan itu adalah  penting. Tanpa kekayaan yang cukup siapapun tidak akan  bisa membangun  pesantren. Ia mengaku, sejak ditinggal wafat orang tuanya pada awal tahun 1970-an, tidak pernah berhenti dalam mengembangkan  pondok. Membeli tanah  dan membangun ruang belajar, tempat tinggal santri,  dan lain-ain selalu dilakukan tanpa pernah berhenti. Kegiatannya  itu tidak akan berjalan manakala tidak ada kekayaan. Maka kekayaan memang selalu penting bagi siapa saja, termasuk bagi pesantren.

 

Banyak orang,  kata kyai,  tatkala memberi makna terhadap kekayaan dan kebahagiaan ternyata kurang tepat. Semua orang menginginkan agar dalam hidupnya meraih kebahagiaan. Keinginan itu, menurut pandangan kyai,  tidak salah dan memang seharusnya seperti itu. Akan tetapi menjadi kurang tepat tatkala menganggap bahwa,  pintu meraih kebahagiaan itu hanyalah harta. Dengan anggapan itu maka banyak orang sehari-hari hanya mengumpulkan dan menjaga harta.  Akibatnya, mereka sehari-hari  menjadi diperbudak oleh hartanya itu.

 

Sedemikian cintanya terhadap harta, maka setiap waktu, mereka  hanya memikirkan  uang. Bahkan ketika  mereka sedang menjabat, atau berpeluang,  maka yang dipikirkan juga bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, apapun cara yang ditempuh, termasuk menyuap atau korupsi. Sekarang ini,  menurut penglihatan kyai, gejala seperti itu dengan amat mudah bisa diamati di mana-mana. Orang mengumpulkan harta kekayaan dengan berbagai cara,  menganggap bahwa dari kekayaan itu, mereka akan mendapatkan kebahagiaan.    

 

Anggapan mereka itu ternyata salah. Mengumpulkan harta dengan cara tidak benar, ternyata justru menjadikan dirinya tersiksa. Mereka menjadi tersangka, diadili, dan bahkan dipenjara. Nama mereka  diberitakan di berbagai media massa atas ketamakannya itu. Atau, banyak lagi yang menjadi buron, oleh karena menggelapkan uang negara. Kasus-kasus seperti itu terjadi di mana-mana. Akibatnya, penjara menjadi penuh diisi oleh orang-orang yang terlalu suka mengumpulkan harta dengan cara yang tidak benar. Bagi mereka itu, harta justru menjadi pintu  kesengsaraan, nista,  dan penderitaan.

 

Harta, masih menurut kyai, memang boleh  dianggap sebagai  salah satu pintu meraih kebahagiaan. Akan tetapi  yang perlu diingat bahwa ketersediaan harta tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Harta akan melahirkan kebahagiaan, manakala  cara memperolehnya dilakukan dengan benar, dibelanjakan dengan benar,  dan juga sebagian dari harta itu telah diberikan kepada yang berhak. Dalam Islam terdapat ajaran bahwa pada harta itu terdapat hak bagi orang lain, yang seharusnya dikeluarkan lewat zakat, infaq,   shadaqoh,  dan lainnya.  Harta yang demikian itulah yang akan melahirkan kebahagiaan bagi pemiliknya.

 

Namun sebenarnya,  kebahagiaan bisa diperoleh atau dirasakan oleh siapapun, termasuk orang yang tidak terlalu banyak memiliki harta. Orang miskin pun, ------masih menurut  kyai, merasakan kebahagiaan itu. Ketika mereka mendapatkan rizki, sekalipun tidak banyak, dan kemudian dimanfaatkannya dengan penuh syukur, maka mereka akan merasakan kebahagiaan itu.  Adalah anggapan yang salah bahwa orang miskin selalu menderita dan tidak pernah merasakan kebahagiaan. Rasa bahagia dan sebaliknya susah, adalah bisa dirasakan oleh siapapun, baik oleh orang yang berkelebihan harta maupun orang-orang yang tidak memilikinya.

 

Pada saat sekarang ini, para koruptor yang sedang diadili dan dipenjara, sekalipun hartanya masih melimpah, akan merasakan penderitaan yang luar biasa.  Sehari-hari mereka harus berada di penjara,  terpisah dari keluarga, teman,  dan sahabat. Mungkin  umpama bisa memilih, --------bisa jadi, mereka akan memilih menjadi miskin, tetapi bebas dari berbagai ancaman itu.   Ternyata dalam kehidupan ini, kekayaan tidak selalu mendatangkan kebahagiaan,  dan sebaliknya miskin tidak selalu identik dengan penderitaan.

 

 

Kekayaan yang diperoleh dengan cara tidak benar ternyata justru mengantarkan pemiliknya menjadi menderita. Atau dengan bahasa lain, kekayaan bisa berjarak dengan  kebahagiaan, dan sebaliknya kebahagiaan dan kemiskinan ternyata bisa saling mendekat. Artinya,  pada diri orang kaya terdapat penderitaan dan sebaliknya,  pada orang miskin pun bisa merasakan  kebahagiaan, apalagi yang bersangkutan masih bisa bersyukur, ikhlas, sabar,  dan tawakkal. Wallahu a’lam.