Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 243 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini3169
mod_vvisit_counterKemarin29436
mod_vvisit_counterMinggu ini59243
mod_vvisit_counterBulan ini504373
mod_vvisit_counterTotal29095540
Berkalkulasi dalam Beramal PDF Cetak E-mail
Senin, 15 Desember 2008 11:37
Islam mengajarkan bahwa dalam menjalani kehidupan ini hendaknya selalu melakukan kalkulasi, bahkan juga terhadap diri sendiri. Khasibuu qobla an tuhassabuu. Demikian perintah agama melalui hadits Nabi. Maksudnya agar kita rajin-rajin melakukan evaluasi diri terhadap apa yang telah kita lakukan sehari-hari dalam hidup ini. Melalui evaluasi itu kita jawab pertanyaan, sudahkah kita melakukan kebaikan di dunia ini, atau justru sebaliknya, berbuat kejelekan. Perbuatan manusia selalu memiliki kadar kebaikan atau sebaliknya, yaitu kadar keburukan atau dosa. Keduanya akan ditimbang dengan mizan. Dari mizan itu akan diketahui, mana yang lebih berat bobot di antara keduanya, apakah kebaikannya ataukah kejelekannya. Kita semua tentu berharap agar rapor kehidupan kita lebih banyak kebaikannya daripada angka merah, kejelekkannya.
Kita bekerja di kampus perguruan tinggi Islam, baik sebagai dosen atau karyawan, semestinya juga selalu melakukan kalkulasi. Apakah nilai pekerjaan yang kita lakukan hasilnya sudah sebanding dengan besarnya imbalan yang kita terima dari lembaga, yang menurut pengakuan kita, sangat kita cintai. Pernahkan kita menghitung pada setiap harinya, sebelum kita pulang ke rumah, seberapa besar sesuatu yang kita berikan pada lembaga pada hari ini. Telah seimbangkah apa yang telah kita berikan itu dengan imbalan yang selalu kita terima pada setiap awal bulan. Belum lagi juga pertanyaan lainnya, misalnya telah seimbangkah antara fasilitas yang disediakan dengan kualitas kerja yang kita lakukan. Kita bekerja di kampus ini sesungguhnya telah memakai fasilitas yang tidak kecil harganya. Fasilitas itu misalnya berupa ruang kantor yang mahal, listrik, computer, pendingin, biaya pembersih, pelayan, mebeler yang kita gunakan dan bahkan juga alat transportasi berupa mobil dinas atau sepeda motor yang disediakan untuk mempermudah kita menuju ke tempat kerja.

Jika kebetulan sebagai dosen, pernahkah kita membayangkan dan sekaligus mempertanyakan, apakah para mahasiswa yang datang dari jauh telah mendapatkan ilmu, ketauladanan dan bahkan juga layanan yang seharusnya kita berikan. Para mahasiswa datang dari tempat yang jauh, dilepas oleh orang tua mereka, dibekali dengan biaya yang tidak sedikit dan bekal itu didapat dari usaha yang tidak ringan. Para orang tua berharap agar putra putrinya dari kampus yang kita kelola mendapatkan ilmu yang bermanfaat, perilaku yang baik, luhur dan mulia budinya. Orang tua mereka sanggup dan bersedia mengeluarkan apa saja yang dibebankan, dengan harapan agar anaknya menjadi seorang yang sholeh, pandai dan berakhlak mulia. Para orang tua juga masih selalu berdoa, agar anaknya itu kelak beruntung berhasil menjadi orang yang baik, meniru para guru-guru (dosen) yang mengajarnya. Orang tua mereka juga percaya bahwa para pengelola kampus, dosen dan karyawannya telah bekerja secara maksimal. Mereka percaya bahwa para pengelola kampus telah bekerja secara amanah dan istiqomah. Mereka tidak membayangkan terjadi sesuatu di kampus yang merugikan, hingga cita-citanya tidak akan tercapai. Mereka gembira mendapatkan lembaga pendidikan yang terpilih, besar dan sesuai dengan harapannya.

Memperhatikan gambaran itu, sesungguhnya amat berat beban dan tanggung jawab pengelola kampus. Semua amanah itu akan dipertanggung jawabkan di hadapan para pememberi amanah, yaitu orang tua para mahasiswa dan juga Allah swt. Secara formal tanggung jawab itu telah diberikan melalui KHS (kartu hasil studi) yang diberikan pada setiap akhir semester. Pertanggungan jawaban akhir, biasanya diberikan melalui acara wisuda sarjana. Ialah sebuah kegiatan yang menandai bahwa para mahasiswa telah dinyatakan lulus dari semua mata kuliah yang seharusnya mereka selesaikan. Pernyataan lulus tentu diperoleh dari ujian-ujian, penyelesaian tugas yang diberikan maupun dari hasil pengamatan yang dilakukan. Inilah pertanggung jawaban universitas terhadap masyarakat yang menggunakan jasa lembaga pendidikan tinggi. Pertanggungan jawab tersebut, sesungguhnya hanyalah sebatas formal sifatnya. Ijazah yang diterima pada saat wisuda hanyalah sebatas simbul formal. Bahwa bisa jadi, para dosen dalam menjalankan tugasnya berupa memberikan pelayanan pendidikan juga bersifat formal. Demikian pula mahasiswanya telah mengikuti semua ketentuan yang diberlakukan secara formal pula. Akan tetapi sesungguhnya, pertanggung-jawaban yang baru sebatas formal itu tidaklah cukup. Pertanggungan jawab universitas yang direpresentasikan oleh rektor kepada para wali mahasiswa sebagai pengguna jasa pendidikan baru sebatas formal. Pertanyaannya adalah, apakah pertanggungan jawab seperti itu, sebagai seorang muslim telah cukup dan memadai.

Keimanan kita mengatakan, pertanggung jawaban terhadap pengabdian seseorang masih akan diteruskan di akherat, nanti kelak. Pertanggung jawaban itu tidak saja bersifat formal, sebatas dirupakan dalam bentuk angka-angka, melainkan lebih mendalam, detil, dan menyeluruh. Pertanggung jawaban kita di hadapan Allah swt., tidak cukup sebatas formal, menurut ukuran-ukuran formal, dan sebatas dilihat dari aspek-aspek yang tampak. Pertanggung jawaban kepada Allah meliputi baik yang tampak maupun yang tidak tampak, mulai dari bagaimana niat melaksanakan amanah itu, yakni harus ikhlas, dilakukan secara maksimal kualitasnya, yaitu sholeh. Dan jika terdapat berbagai pilihan cara atau pendekatan dalam menjalankan amanah itu harus memilih yang terbaik, yaitu ikhsan. Ajaran Islam menuntun kita dalam melakukan sesuatu harus didasarkan atas prinsip-prinsip keimanan untuk melahirkan ke sholehan dan ikhlasan, menyelamatkan dan juga harus diwujudkan dalam kualitas pilihan yang terbaik, atau ikhsan. Inilah yang saya tangkap sebagai seorang muslim yang seharusnya dilakukan, yakni selalu melakukan kalkulasi atas standard yang lebih kukuh, luas dan menyeluruh. Allahu a’lam.