Pohon Ilmu UIN Maliki

Tentang Situs

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website Kami?
 

Sekilas Info

Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pengunjung

Kami memiliki 258 Tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini15264
mod_vvisit_counterKemarin26638
mod_vvisit_counterMinggu ini15264
mod_vvisit_counterBulan ini487032
mod_vvisit_counterTotal29078199
Salah Satu Cara Pandang Guru PDF Cetak E-mail
Senin, 15 Desember 2008 12:05
Entah karena saya seumur-umur menggeluti dunia pendidikan, maka rasanya selalu berbeda pendapat tatkala melihat manusia yang saya anggap memiliki kelebihan. Kelebihan itu adalah kepintarannya dan juga lebih-lebih kepribadiannya yang luhur. Menghasilkan orang pintar dan berakhlak mulia, adalah bukan pekerjaan mudah. Sekian banyak mahasiswa yang datang ke kampus pada setiap tahunnya, mereka mengikuti proses pendidikan tetapi yang kemudian benar-benar menjadi pintar dan berkarakter mulia, apalagi berhasil berprestasi di tengah-tengah masyarakat, jumlahnya amat sedikit. Mendidik seseorang memang sulit. Terlalu banyak variable yang berpengaruh terhadap hasil pendidikan.
Pada kenyataannya, belum tentu lembaga pendidikan yang dipandang unggul, dikenal di tengah masyarakat luas selalu melahirkan orang pilihan. Mungkin sekolah tersebut berhasil mengantarkan siswanya menjadi pintar, tetapi tidak jarang gagal membangun pribadi yang mulia. Sebab tidak sedikit orang cerdas, ahli salah satu bidang ilmu tertentu, tetapi ternyata memiliki kepribadian yang tidak terpuji. Ia pintar, tetapi kepintarannya hanya untuk kepentingan diri sendiri dan bahkan langkah-langkahnya selalu merugikan orang lain.

Di mata seorang guru, orang pintar lagi baik menjadi mahal harganya. Negeri ini, mengalami berbagai problem, baik sosial, ekonomi, politik, hukum dan bahkan peradaban, semua itu jika dikaji secara mendalam pada hakekatnya adalah disebabkan oleh belum meratanya pelayanan pendidikan dan bahkan rendahnya kualitas yang telah dihasilkan. Tingkat pendidikan masyarakat selalu sejajar dengan tingkat perkembangan kualitas manusianya, termasuk di antaranya adalah tingkat ekonominya. Orang miskin kebanyakan berpendidikan rendah dan begitu pula sebaliknya.

Atas dasar pandangan seperti itulah maka orang pintar harus dihemat dan dimanfaatkan sebesar-besarnya. Akhir-akhir ini, sisi lebih orang pintar, seolah-olah terabaikan. Betapa banyak, orang bergelar akademik tinggi seperti Doktor dan bahkan Guru Besar oleh karena kelalaian atau kesalahannya kemudian diadili dan bahkan dijebloskan ke penjara. Tentu sebagian pihak merasa gembira, berhasil memasukkan siapa saja yang bersalah ke penjara. Mereka merasa telah berhasil menegakkan keadilan. Tetapi apakah telah terpikirkan secara matang, betapa besar kerugian yang diterima dengan keputusan itu. Jika mau berpikir secara mendalam, maka semua pihak, termasuk bangsa ini dengan masuknya para cendekiawan itu ke dalam penjara sesungguhnya sekaligus akan mengalami kerugian besar. Bangsa ini rugi, karena tidak berhasil mengamankan orang-orang yang memiliki kualitas yang sangat dibutuhkan.

Rasanya bangsa ini berwajah paradog, kontras damn kontradiktif. Pada satu sisi memiliki kekayaan alam yang sedemikian banyak, akan tetapi kekayaan alam itu tidak berhasil dimanfaatkan oleh karena tidak memiliki sumber daya manusia yang memadai. Bangsa ini memiliki wilayah yang amat luas, terdiri atas pulau-pulau besar dan kecil, lautan dan samodera, gunung dan tanah yang subur, beraneka tambang dan sumber-sumber lainnya yang amat mengagumkan. Akan tetapi karena belum berhasil dikembangkan sumber daya manusia, akhirnya kekayaan itu dibiarkan sia-sia dan bahkan tidak sanggup menjaganya tatkala diambil dan dimanfaatkan oleh bangsa lain yang nakal. Gambaran ini jika direnungkan dalam-dalam sangat ironis.

Upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia sudah dilakukan, melalui program-program pendidikan. Jumlah lembaga pendidikan formal sudah sekian banyak, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Jumlah dan jenis lembaga pendidikannya secara kuantitatif sudah cukup banyak, dan bahkan mungkin kelebihan. Kita lihat misalnya, jumlah perguruan tingi di Indonesia. Di mana-mana ada dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional, jumlah perguruan tinggi yang berstatus negeri tidak kurang dari 80 buah, sedangkan yang swasta lebih dari 2500 buah, tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah itu belum termasuk yang berada di bawah pembinaan Departemen Agama. Yang berstatus negeri ada 60 an dan yang berstatus swasta ada sekitar 500 an buah.

Kelemahan lembaga pendidikan tampaknya terletak pada kualitasnya yang belum bisa dibanggakan. Belum ada perguruan tingi di Indonesia yang bisa diandalkan, melahirkan lulusan yang mampu menciptakan atau menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nyata-nyata dibutuhkan oleh masyarakat, kecuali beberapa saja. Teknologi di Indonesia, hampir semuanya masih import dari negara maju. Kebutuhan sarana transportasi mulai dari yang paling sederhana, sepeda angin, sepeda motor, mobil sederhana sampai mobil mewah, apalagi pesawat terbang, semua membeli dari negara maju. Perguruan tinggi kita belum berhasil menciptakan teknologi sekalipun sederhana. Fakultas teknik kita baru bisa menerangkan bagaimana gerak mesin-mesin dipahami, dan belum mampu mengembangkan dan merekayasa menjadi miliknya sendiri. Sarjana teknik mesin baru mampu mereparasi mesin, dan belum sampai pada menciptakan mesin model baru.

Akibatnya bangsa ini baru menjadi bangsa pembeli, bangsa konsumen dan belum menjadi bangsa penjual. Nasip bangsa seperti ini disebabkan oleh belum berhasilnya pendidikan kita mengantarkan para lulusannya menjadi para ahli yang mampu mencipta dan bukan saja sebagai peniru. Sementara ini diakui atau tidak, sebagian besar masih berada di posisi belakang gerak perubahan dan kemajuan. Fenomena ini sangat menyedihkan, jumlah lembaga pendidikan, termasuk pendidikan tinggi sudah sekian banyak, akan tetapi belum mampu menghasilkan para ahli yang memadai, sehingga menjadikan bangsa ini selalu tertinggal dari bangsa-bangsa lainnya yang lebih maju. Bangsa ini baru memiliki institusi pendidikan, yang sebagian besar baru mampu memberi gelar akademik tetapi minus ilmu dan keahlian. Oleh karena itu perlu segera ada kekuatan penggerak untuk menyadarkan seluruh warga bangsa ini, selanjutnya agar bangkit dan berjuang dibarengi kerelaan berkorbanan untuk menyongsong kejayaan negeri ini. Kekuatan penggerak yaitu adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dalam banyak hal, ternyata memang mahal harganya, dan belum tentu dapat dihasilkan oleh beberapa generasi. Karena itu memang mereka perlu dipelihara dan dimanfaatkan setinggi-tingginya dan bukan malah disia-siakan keberadaannya.