MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Kesuksesan sering kali berawal dari langkah kecil yang diiringi keraguan. Hal itulah yang dialami oleh Naala El Rusyda, mahasiswi UIN Malang Program Studi Pendidikan Dokter semester 2 yang berhasil meraih gelar Winner Safirah FKIK UIN Malang. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan proses panjang, dukungan orang-orang terdekat, serta semangat untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Naala mengaku bahwa dirinya masih sulit percaya ketika dinobatkan sebagai pemenang. Pasalnya, sejak awal mengikuti pemilihan Safir-Safirah FKIK, ia berangkat dengan penuh keraguan.
“Jujur, saya masih tidak menyangka. Awalnya saya mendaftar dengan penuh keraguan. Namun karena dukungan dari keluarga, teman, dosen, dan tenaga kependidikan, perlahan keraguan itu berubah menjadi keyakinan,” ungkapnya.
Ketertarikannya mengikuti ajang Safir-Safirah ternyata sudah tumbuh sejak berlangsungnya PBAK-F. Saat itu, ia mulai mengenal peran penting Safir-Safirah sebagai representasi mahasiswa yang mampu menginspirasi sekaligus menjadi wajah fakultas.
Bagi Naala, motivasi terbesar dalam mengikuti pemilihan ini tidak lain adalah kedua orang tuanya. Dukungan penuh dari keluarga menjadi sumber semangat yang terus menguatkannya selama menjalani setiap tahapan seleksi. Selain itu, ia juga memiliki daftar target tahunan yang ingin dicapai.
“Orang tua tentu menjadi motivasi terbesar saya. Mereka sangat mendukung saya mengikuti pemilihan ini. Selain itu, saya memiliki wishlist yang saya susun setiap tahun, dan salah satunya adalah meraih sebuah penghargaan. Saya berpikir bahwa melalui Safir-Safirah, saya bisa mewujudkan target tersebut,” tuturnya.
Dalam proses persiapan, Naala tidak berjalan sendiri. Ia banyak berdiskusi dengan teman dan keluarga mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menghadapi setiap tahapan seleksi. Baginya, masukan dari orang-orang terdekat sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri sekaligus menentukan strategi terbaik selama kompetisi.
Meski berhasil meraih gelar juara, perjalanan yang dilalui tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah mengatur waktu antara aktivitas akademik dan nonakademik. Beberapa agenda pemilihan bahkan berdekatan dengan jadwal ujian, sehingga kemampuan manajemen waktu benar-benar diuji.
“Tantangan terbesar saya adalah membagi waktu antara kegiatan akademik dan nonakademik. Ada beberapa agenda yang waktunya cukup berdekatan dengan ujian, sehingga saya harus benar-benar bisa mengelola waktu dengan baik,” jelasnya.
“Momen yang paling berkesan adalah ketika saya bertemu dengan orang-orang baru yang luar biasa prestasinya. Dari mereka, saya mendapatkan banyak inspirasi dan motivasi untuk terus berkembang,” katanya.
Saat menghadapi seleksi, rasa gugup tentu menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Untuk mengatasinya, Naala memiliki cara sederhana namun efektif. Ia membiasakan diri untuk mengatur napas dan memperbanyak minum air putih sebelum tampil.
Bagi Naala, menjadi Safirah FKIK bukan sekadar gelar atau prestasi. Lebih dari itu, ia memaknai peran tersebut sebagai amanah untuk menjadi inspirator, motivator, inovator, sekaligus representatif fakultas.
Ia juga mengaku memperoleh pelajaran berharga selama mengikuti ajang ini. Menurutnya, setiap proses pasti memiliki tantangan dan rintangan yang harus dilalui. Namun justru dari proses itulah seseorang dapat bertumbuh dan berkembang.
Sebagai Winner Safirah FKIK, Naala berharap dapat memberikan kontribusi nyata dengan memperkenalkan FKIK UIN Malang kepada masyarakat yang lebih luas. Ia ingin menunjukkan berbagai keunggulan dan karakteristik khas yang dimiliki fakultas agar semakin dikenal dan diminati.
Ke depan, ia berharap amanah yang telah dipercayakan kepadanya dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ia juga ingin Safir-Safirah FKIK terus berkembang sebagai wadah yang mampu melahirkan mahasiswa inspiratif dan berdampak bagi banyak orang.
Menutup wawancara, Naala membagikan motto hidup yang selama ini menjadi pegangannya dalam meraih prestasi.
"Hidup yang tidak pernah diperjuangkan adalah hidup yang tidak pernah dimenangkan."
Dari keraguan yang perlahan berubah menjadi keyakinan, perjalanan Naala El Rusyda membuktikan bahwa dukungan, kerja keras, dan keberanian untuk mencoba dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian yang membanggakan. Lebih dari sekadar gelar Winner Safirah FKIK 2026, prestasi ini menjadi awal dari langkah-langkah besar yang akan ia tempuh untuk terus menginspirasi dan memberikan manfaat bagi banyak orang.