JAKARTA | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Indonesia resmi mengukir sejarah baru dalam dunia Islam global. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, resmi terpilih sebagai Presiden Pertama organisasi para imam dunia yang baru dibentuk, yaitu The International Assembly of Mosque Imams (IAMI).

Keputusan monumental ini disepakati dalam forum penutupan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Minggu (27/9/2026). Selain membentuk wadah permanen internasional ini, konferensi juga melahirkan deklarasi bersejarah bertajuk "Jakarta Understanding".
"Jika ini memang kehendak-Nya memilih saya sebagai pimpinan, saya harap para imam besar dunia dapat memahami kelemahan saya dan membantu saya mengatasi kelemahan itu," ujar Menag Nasaruddin Umar saat menerima amanah tersebut. Beliau menegaskan kesiapannya mengabdikan waktu dan pikiran demi kemaslahatan umat global.
Dalam pidatonya, Menag membawa visi besar untuk mengubah fungsi rumah ibadah di era modern. Ia menegaskan sudah saatnya arah pergerakan masjid diubah secara total.
“Selama ini umat yang memberdayakan masjid, tetapi kita harus membalik, masjidlah yang harus memberdayakan umat,” tegas Menag.
Ia mencontohkan rekam jejak sejarah pada zaman Rasulullah SAW. Saat itu, masjid bukan sekadar tempat ritual salat, melainkan berfungsi sebagai pusat pendidikan, ruang konsultasi, pusat solidaritas sosial, bahkan bertindak sebagai sekretariat negara dan Baitul Mal (pusat ekonomi).
Pembentukan IAMI (Majelis Grand Imam Internasional) merupakan respons langsung atas kegelisahan para ulama dan mufti dari 46 negara yang hadir. Para imam masa kini menghadapi tantangan masif seperti intoleransi, krisis kemanusiaan, kemiskinan, misinformasi, hingga isu lingkungan hidup.
Sebagai organisasi global, IAMI dirancang dengan struktur yang kokoh: Sekretariat Permanen: Berkedudukan di Jakarta sebagai pusat administrasi dunia., Kantor Wilayah: Tersebar di 7 kota dunia, yaitu Kuala Lumpur (Asia), Kairo (Timur Tengah), Nairobi (Afrika), London (Eropa), New York (Amerika Utara), Rio de Janeiro (Amerika Selatan), dan Canberra (Pasifik)., Masa Jabatan Presiden: Berlangsung selama tiga tahun dan dapat diperpanjang satu kali.
Organisasi ini akan bergerak pada lima pilar utama: Keharmonisan Masjid, Kepemimpinan Imam, Diplomasi Keagamaan, Perdamaian Global & Aksi Kemanusiaan, serta Masjid & Komunitas Berkelanjutan. Ke depan, IAMI menjadwalkan pertemuan virtual bulanan dan berencana merangkul pemimpin agama lain (gereja, sinagoge, vihara) untuk berdialog demi kemanusiaan.
Isi "Jakarta Understanding": Tegaskan Dukungan untuk Palestina.
Melalui deklarasi Jakarta Understanding, forum menangkap esensi bahwa perdamaian global adalah tanggung jawab bersama. Menag menyebut bahwa piagam ini memperkuat diplomasi antarbangsa sekaligus menegaskan dukungan penuh terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Ada 5 poin utama Jakarta Understanding yang diserukan kepada seluruh imam di dunia:
1. Pemberdayaan Strategis: Menjadi mediator konflik dan penuntun moral, serta menjadikan masjid inklusif untuk peradaban.
2. Agen Perdamaian & Karakter: Melindungi martabat manusia tanpa pandang bulu serta memperkuat literasi digital melawan hoaks.
3. Keadilan Sosial: Menciptakan lingkungan aman bagi anak, perempuan, disabilitas, minoritas, dan kelompok rentan.
4. Diplomasi & Lintas Iman: Berdiri di garda terdepan menolak ekstremisme, kekerasan, dan penyalahgunaan agama.
5. Kesadaran Ekoteologis: Menggerakkan umat untuk menghentikan eksploitasi alam demi menjaga keseimbangan bumi.