KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Suasana di belakang area Microteaching dan Gedung B UIN Maulana Malik Ibrahim Malang akhir pekan lalu tampak berbeda. Bukan karena ada ujian atau seminar, melainkan karena 152 mahasiswa sibuk berburu sudut, mengatur cahaya, dan mempelajari cara “berbicara” lewat lensa kamera.
Melalui Diklat Indoor XXVII yang digelar 11–12 April 2026, Jhepret Club Fotografi memulai proses pembinaan besar-besaran bagi anggota barunya. Kegiatan ini menjadi gerbang awal lahirnya generasi baru kreator visual di lingkungan kampus.
Selama dua hari, peserta tidak hanya duduk mendengarkan teori. Mereka diajak memahami dasar-dasar fotografi dan videografi, mulai dari teknik komposisi, angle, framing, hingga “jurus wajib” dunia kamera: segitiga exposure. Istilah yang terdengar rumit itu perlahan dijelaskan dengan cara yang ringan dan aplikatif. Tidak sedikit peserta yang awalnya hanya bisa memotret “asal jepret”, kini mulai paham mengapa fotonya sering lebih gelap daripada masa depan saat tanggal tua.
Hari kedua, pelatihan berlanjut dengan pengenalan berbagai peralatan fotografi dan videografi, sekaligus pembahasan tentang peran visual dalam dunia seni dan komunikasi modern. Suasana dibuat cair lewat sesi interaktif dan ice breaking, sehingga ruang pelatihan tidak terasa seperti kelas yang membosankan.
Ketua pelaksana, Jajang Ogi Wisono, menegaskan bahwa diklat ini bukan hanya soal mengajarkan cara memegang kamera.
“Diklat ini menjadi fondasi awal. Peserta dibekali pemahaman menyeluruh, sekaligus dibentuk agar memiliki karakter kreatif, disiplin, dan siap berkembang,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan pengurus UKM, M. Raihan Hafizi. Menurutnya, proses berkarya tidak bisa dilakukan sendirian.
“Kami ingin peserta tumbuh bersama, membangun kebersamaan, lalu menghasilkan karya visual yang benar-benar punya kualitas,” katanya.
Dukungan juga datang dari Kepala Pusat Kemahasiswaan UIN Malang, Romi Faslah. Ia menilai kemampuan fotografi dan videografi kini bukan lagi sekadar hobi, tetapi sudah menjadi kebutuhan penting di era digital.
“Mahasiswa hari ini tidak cukup hanya pintar di kelas. Mereka juga harus punya keterampilan kreatif berbasis digital. Visual menjadi alat komunikasi yang kuat, sekaligus cara membangun citra positif kampus,” jelasnya.
Baginya, UKM seperti Jhepret Club bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang lahirnya inovasi. Dari ruang kecil di belakang Gedung B itu, bukan tidak mungkin akan lahir fotografer, videografer, bahkan content creator yang kelak membawa nama kampus ke level yang lebih tinggi.
Melalui Diklat Indoor XXVII ini, Jhepret Club menargetkan lebih dari sekadar anggota baru. Mereka ingin melahirkan generasi yang mampu menangkap momen, mengolah cerita, dan mengubah selembar gambar menjadi bahasa yang bisa dipahami semua orang.