Skip to Content

Bawa Inovasi Kulit Singkong, Mahasiswa UIN Malang Raih Juara 1 Business Plan Competition Nasional

August 15, 2026 by
Bawa Inovasi Kulit Singkong, Mahasiswa UIN Malang Raih Juara 1 Business Plan Competition Nasional
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Membawa inovasi dari limbah kulit singkong, tiga mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Business Plan Competition (BPC) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Prestasi tersebut diraih setelah mereka melewati serangkaian tahapan kompetisi dan bersaing dengan puluhan tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tim tersebut terdiri atas Daris mahasiswa Perbankan Syariah semester 7 sekaligus ketua tim, Tsaqifa Aisyah Amin mahasiswa Kimia semester 7, serta Dwy Septiani mahasiswa Perbankan Syariah semester 5. Ketiganya hadir dengan latar belakang keilmuan berbeda yang justru menjadi kekuatan dalam mengembangkan bisnis yang mereka usung.

Kompetisi berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026. Pada tahap awal, sebanyak 200 tim dari berbagai perguruan tinggi mengikuti registrasi sekaligus mengumpulkan Business Model Canvas (BMC). Dari tahap tersebut, peserta disaring hingga 100 tim, kemudian kembali diseleksi pada tahap proposal bisnis.

Tim UIN Malang berhasil melewati tahap proposal dengan menempati peringkat ke-22. Perjalanan berlanjut hingga pengumuman 10 besar finalis pada 28 Juli 2026. Tak disangka, tim mereka kembali berhasil lolos sebagai finalis di posisi ke-10 dan berhak melaju ke babak final yang digelar secara luring pada 6 Agustus 2026 di Laboratorium Terpadu Unsoed.

Memasuki babak final, tantangan semakin besar. Sepuluh tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi harus mempresentasikan ide bisnis mereka di hadapan juri. Di tengah persaingan tersebut, tim UIN Malang membawa sebuah inovasi bernama COATIFY, produk pelapis alami untuk buah yang dikembangkan berbasis limbah kulit singkong.

“Konsep lomba ini adalah membangun kreativitas mahasiswa dalam membangun sebuah bisnis yang realistis, berdampak, dan memiliki nilai jual yang tinggi,” jelas Daris.

COATIFY hadir sebagai solusi atas persoalan pascapanen, khususnya food loss. Produk tersebut dirancang untuk membantu memperpanjang masa simpan sekaligus menjaga kualitas buah dengan memanfaatkan limbah kulit singkong sebagai bahan dasar.

Ide tersebut tidak berhenti pada konsep bisnis di atas kertas. Tim juga melakukan riset dan pengujian terhadap produk untuk memastikan inovasi yang ditawarkan memiliki dasar yang kuat. Tsaqifa yang berlatar belakang Kimia berperan besar dalam riset, formulasi, hingga pengujian produk.

Di sisi lain, Daris menjalankan peran sebagai Chief Executive Officer (CEO) yang bertanggung jawab terhadap manajemen tim, target dan capaian anggota, hingga penyusunan laporan keuangan. Sementara itu, Dwy sebagai Chief Marketing Officer (CMO) menangani strategi pemasaran dan branding COATIFY.

Perbedaan latar belakang ketiga anggota justru menjadi kekuatan tersendiri. Keilmuan Perbankan Syariah, Kimia, dan perpaduan kemampuan bisnis membuat setiap anggota dapat mengambil peran sesuai kompetensinya.

Namun, perjalanan menuju final bukan tanpa tantangan. Kesibukan lain seperti magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) membuat mereka harus pandai membagi waktu. Menyamakan jadwal untuk berdiskusi, mengembangkan produk, menyusun business plan, hingga mempersiapkan presentasi menjadi tantangan yang harus mereka hadapi bersama.

Untuk mengatasinya, mereka membagi tugas berdasarkan tanggung jawab masing-masing, menyusun timeline, serta menjaga komunikasi dan koordinasi secara rutin. Dengan cara tersebut, proses persiapan tetap berjalan meski masing-masing anggota memiliki kesibukan di luar kompetisi.

Memasuki sesi pitching, mereka menyadari bahwa persaingan tidak mudah. Sepuluh tim yang lolos merupakan perwakilan perguruan tinggi ternama di Indonesia. Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.

Sebagai mahasiswa UIN Malang, mereka justru menghadirkan identitas kampus melalui pendekatan yang berbeda. Presentasi diawali dengan pembacaan hadis sebelum masuk ke pemaparan materi bisnis. Selain menjadi ciri khas, langkah tersebut menjadi cara mereka membawa nilai keislaman dalam kompetisi bisnis.

“Yang menjadi kunci dan pembeda kami dengan tim yang lain, kami juga melengkapi materi dengan hasil pengujian laboratorium terhadap produk kami,” ungkap Daris.

Kombinasi antara nilai keislaman, konsep bisnis, riset, serta hasil pengujian produk menjadi kekuatan yang mereka tampilkan di hadapan juri. Strategi tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tim UIN Malang berhasil keluar sebagai Juara 1 dan mengungguli tim-tim dari sejumlah perguruan tinggi ternama, di antaranya UI, IPB, UNDIP, dan UNPAD.

Bagi mereka, kemenangan tersebut bukan sekadar pencapaian di atas podium. Kompetisi menjadi ruang untuk memahami bahwa membangun bisnis membutuhkan lebih dari sekadar gagasan yang menarik. Sebuah ide harus ditopang oleh riset, data, validasi produk, strategi bisnis yang matang, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara meyakinkan.

“Perbedaan latar belakang dalam tim justru menjadi kekuatan karena masing-masing anggota dapat berkontribusi dari bidang keahliannya,” tutur Dwy.

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pembelajaran bahwa kompetisi tidak selalu harus dimaknai sebagai ajang untuk mengalahkan lawan. Proses bertemu dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi juga membuka kesempatan untuk memperluas relasi dan menguji kemampuan diri.

Ketiganya pun berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi serupa agar tidak takut mencoba. Bagi mereka, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Setiap proses, revisi, bahkan kegagalan di tahap tertentu dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan untuk berkembang.

“Jangan takut untuk mencoba dan jangan terlalu memikirkan siapa saja yang menjadi lawan kita. Fokuslah pada bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik dari ide yang kita miliki,” pesan Dwy.

Dari limbah kulit singkong hingga panggung nasional, COATIFY menjadi bukti bahwa ide sederhana dapat berkembang menjadi inovasi bernilai ketika dipadukan dengan riset, kerja tim, dan keberanian untuk berkompetisi. Lebih dari sekadar membawa pulang gelar juara, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan bidang keilmuan dapat dipertemukan dalam satu visi untuk menciptakan solusi yang berdampak.


Editor:
Reporter: Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
Fotografer: Istimewa
Bawa Inovasi Kulit Singkong, Mahasiswa UIN Malang Raih Juara 1 Business Plan Competition Nasional
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah August 15, 2026
Share this post
Tags
Archive