ASEAN | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Anggapan bahwa lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) minim kompetensi, apalagi hanya bermodal ijazah untuk menuntut gaji tinggi, terasa kian usang. Di tengah lanskap kerja global yang kompetitif, kisah Dony Cahyono justru menjadi bantahan yang sulit disangkal.
Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2018 dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ini kini menempati posisi strategis sebagai Science and Technology Officer di Sekretariat ASEAN. Bekerja di jantung organisasi kawasan Asia Tenggara, Dony tidak sekadar hadir sebagai tenaga profesional, tetapi juga sebagai representasi kualitas lulusan PTKIN di level internasional.

Perjalanannya tidak dibangun dalam semalam. Dony tumbuh dari latar belakang keluarga pra-sejahtera, dengan mimpi masa kecil yang terdengar terlalu jauh: bekerja di lingkungan global, berinteraksi lintas negara, dan melihat dunia secara langsung. Mimpi itu sempat terasa mustahil. Namun, alih-alih menyerah, keraguan justru ia ubah menjadi bahan bakar.
“Saya belajar bahwa kesempatan tidak datang begitu saja. Harus dicari, dipersiapkan, dan diambil,” ujarnya.
Langkah kecil yang konsisten menjadi kunci. Dony membiasakan diri mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, dan tidak takut gagal. Ia merangkai pengalaman demi pengalaman, dari kegiatan akademik hingga organisasi kampus, tanpa pernah benar-benar tahu ke mana semuanya akan bermuara. Hingga akhirnya, jalur itu membawanya ke London pada 2021, sebelum melanjutkan karier di ASEAN sejak 2023.

Menariknya, latar belakang studinya tidak secara langsung berkaitan dengan dunia sains dan teknologi yang kini ia geluti. Namun di situlah letak kekuatannya. Bekal kemampuan bahasa yang ia asah selama kuliah justru menjadi jembatan penting. Bahasa membuka akses pada literatur global, memperluas jejaring, sekaligus memudahkannya beradaptasi di lingkungan multikultural.
“Karier itu bukan soal satu momen besar, tapi akumulasi dari proses panjang,” katanya.
Di balik capaian profesionalnya, Dony menyimpan fondasi yang ia anggap paling berharga: nilai-nilai keislaman yang ia peroleh selama di kampus. Pengalaman sebagai mahasantri dan musyrif di Mahad Al Aly menjadi titik pembentukan karakter yang tidak tergantikan. Dari sana, ia belajar kepemimpinan, disiplin, komunikasi, hingga kemampuan memahami perbedaan budaya.

Nilai itu yang kemudian ia bawa saat bekerja di luar negeri. Di tengah dinamika global, ia tetap menjaga identitas mulai dari ibadah, etika pergaulan, hingga prinsip hidup. Baginya, justru di ruang internasional, nilai tersebut menjadi pembeda sekaligus kekuatan.
Hidup di kota multikultur seperti London dan kini di lingkungan ASEAN tentu tidak lepas dari tantangan. Bahasa menjadi rintangan awal yang harus ia taklukkan. Culture shock pun datang dalam berbagai bentuk. Namun, Dony memilih melihatnya sebagai proses belajar, bukan hambatan.
“Gegar budaya itu wajar. Yang penting kita tetap punya pegangan nilai,” ungkapnya.

Kini, kontribusinya tidak berhenti pada capaian personal. Dalam perannya di ASEAN, Dony terlibat dalam berbagai kerja sama regional di bidang sains, teknologi, dan inovasi. Ia menjadi bagian dari upaya mendorong riset, pengembangan kapasitas, hingga kolaborasi lintas negara yang berdampak pada banyak sektor—dari pendidikan hingga industri.
Salah satu momen yang paling ia banggakan adalah saat menjadi pembicara di forum internasional The 7th ASEAN Plus Three Young Scientist Forum. Di hadapan peserta dari berbagai negara, ia berbicara tentang masa depan saintis muda dan peran diplomasi sains.
Bagi Dony, “go international” bukan sekadar bekerja di luar negeri. Ada makna yang lebih dalam: membawa nilai, identitas, dan kompetensi untuk memberi dampak di level global. “Bukan soal pergi jauh, tapi soal memperluas manfaat,” tuturnya.

Kisah Dony menjadi refleksi bahwa lulusan PTKIN tidak hanya siap bersaing, tetapi juga mampu memimpin di panggung dunia. Kuncinya bukan semata pada gelar, melainkan pada kemauan belajar, keberanian mengambil peluang, dan keteguhan menjaga nilai.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, cerita seperti ini terasa penting untuk diingat. Bahwa dari ruang-ruang sederhana di kampus, jalan menuju dunia terbuka lebar bagi siapa saja yang berani melangkah.
