KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Ancaman peretasan data pribadi melalui email kian meningkat dan menjadi perhatian serius di lingkungan kampus. Dalam beberapa waktu terakhir, laporan korban bermunculan, mulai dari akun yang diambil alih hingga kebocoran data sensitif. Fenomena ini menandakan bahwa keamanan digital bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan kebutuhan mendesak bagi seluruh sivitas akademika. UIN Malang, 21 April 2026.
Ketua PTIPD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Abid Yusron, menegaskan bahwa serangan siber seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Namun, yang menjadi sorotan adalah skalanya yang semakin luas dan pola serangannya yang kini menyasar pengguna secara acak.
“Email institusi pada dasarnya menggunakan sistem yang sama dengan Gmail dan dikelola langsung oleh Google dengan standar keamanan tinggi. Seluruh data, termasuk password, telah terenkripsi. Bahkan kami maupun pihak Google tidak memiliki akses untuk melihat sandi pengguna,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa celah utama bukan terletak pada sistem, melainkan pada perilaku pengguna. Abid mengungkapkan setidaknya ada tiga pola umum yang sering dimanfaatkan peretas. Pertama, login melalui perangkat yang sudah terinfeksi malware. Kedua, mengakses situs palsu atau phishing yang secara diam-diam merekam data pengguna. Ketiga, mengabaikan notifikasi keamanan, terutama saat ada aktivitas login dari perangkat asing.
“Sering kali notifikasi dianggap sepele, padahal itu adalah alarm awal dari potensi peretasan,” tambahnya.
Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan digital yang kurang waspada, seperti menggunakan WiFi publik tanpa perlindungan, sembarangan mengklik tautan dari pesan instan, hingga tidak memeriksa keaslian alamat situs. Padahal, perbedaan kecil pada domain, seperti “google.com” dan “google.com”, bisa menjadi jebakan berbahaya.

Sebagai langkah pencegahan, PTIPD mengimbau sivitas akademika untuk lebih disiplin dalam menjaga keamanan akun. Beberapa langkah sederhana namun krusial antara lain selalu logout setelah menggunakan perangkat lain, menghindari jaringan publik, serta memastikan setiap tautan dan situs yang diakses benar-benar resmi.
Selain itu, kewaspadaan terhadap file atau tautan yang dikirim melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp juga menjadi hal penting, terutama jika berasal dari nomor yang tidak dikenal. Dalam banyak kasus, file tersebut mengandung malware yang dapat merekam aktivitas pengguna tanpa disadari.
“Peretas tidak selalu menyerang sistem secara langsung. Mereka justru menunggu kelengahan pengguna,” tegas Abid.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan keamanan digital, UIN Malang melalui PTIPD tengah mempersiapkan pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) atau Computer Security Incident Response Team (CSIRT) dengan nama MIUGuard Tim ini dibentuk sebagai bagian dari upaya nasional dalam penanggulangan insiden siber dan akan disahkan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
“MalikiGuard saat ini sedang dalam proses registrasi setelah lolos tahap verifikasi pada Februari 2026. Kehadiran tim ini diharapkan mampu memperkuat sistem respons terhadap ancaman siber di lingkungan kampus,” ujarnya.
Tak hanya itu, PTIPD juga telah menghadirkan layanan digital melalui laman resmi https://ttis.uin-malang.ac.id. Platform ini dirancang sebagai pusat literasi keamanan digital sekaligus menyediakan berbagai tools untuk membantu sivitas akademika mendeteksi potensi celah keamanan pada perangkat maupun akun mereka.
Dengan berbagai langkah ini, UIN Malang menegaskan komitmennya dalam menciptakan ekosistem digital kampus yang aman, adaptif, dan responsif terhadap ancaman siber yang terus berkembang.