MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Prestasi di bidang kedokteran kembali diraih mahasiswa dan alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam ajang ilmiah Malang Gastroenterohepatology Update ke-15 (MGU 15) yang diselenggarakan bersamaan dengan SUDEMMA XXII pada 2–4 Oktober 2026, mereka berhasil meraih sejumlah penghargaan melalui presentasi penelitian dan poster ilmiah.
Tiga peserta yang terlibat dalam kompetisi tersebut ialah dr. Nuril Farid Abshori, alumnus Profesi Dokter tahun akademik 2025/2026, Muhammad Ramadhani Aurino Disastranegara, mahasiswa Profesi Dokter semester 4, serta Mohammad Dimas Dwihartono Syariat, mahasiswa Profesi Dokter semester 2.
Dalam ajang tersebut, dr. Nuril Farid Abshori bersama Mohammad Dimas Dwihartono Syariat meraih Juara 2 kategori Oral Presentation. Selain itu, dr. Nuril juga memperoleh penghargaan Juara Favorit pada kategori yang sama. Sementara itu, Muhammad Ramadhani Aurino Disastranegara berhasil meraih Juara 1 kategori E-Poster dalam SUDEMMA XXII.
Kegiatan yang berlangsung di Atria Hotel & Convention Center, Malang, tersebut merupakan acara ilmiah kedokteran berskala nasional dengan menghadirkan pembicara bertaraf internasional. Lebih dari 100 peserta dari kalangan mahasiswa kedokteran, dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, ahli gastroenterohepatologi, hingga profesor turut berpartisipasi.
Persaingan dalam kompetisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Mereka tidak hanya berhadapan dengan sesama mahasiswa, tetapi juga peserta yang telah menempuh pendidikan dokter spesialis (PPDS), dokter spesialis penyakit dalam, hingga praktisi yang memiliki ketertarikan khusus pada bidang ggastroenterohepatologi
“Tantangan terbesar kami adalah bagaimana mengangkat kasus dengan data dan pemeriksaan spesialistik yang masih terbatas menjadi sebuah penelitian yang tetap memiliki nilai kebaruan dan manfaat bagi dunia klinis,” jelasnya.
Keterbatasan pemeriksaan spesialistik terkait gastroenterohepatologi di rumah sakit tersebut menjadi tantangan dalam mengolah data yang tersedia. Meski demikian, keterbatasan itu justru mendorong peserta untuk menyusun penelitian yang tetap memiliki nilai ilmiah dan kebaruan (novelty).

Salah satu karya yang dipresentasikan melalui kategori Oral Presentation berjudul “Prediktor Klinis dan Laboratorium terhadap Beban Transfusi dan Mortalitas pada Perdarahan Saluran Cerna Atas Akut.” Penelitian ini berupaya mengidentifikasi faktor klinis dan laboratorium yang dapat membantu tenaga medis memperkirakan kebutuhan transfusi serta risiko mortalitas pada pasien dengan perdarahan saluran cerna atas akut.
Melalui model prediktor tersebut, penelitian diharapkan dapat membantu dokter umum maupun dokter spesialis penyakit dalam menentukan keputusan klinis dan penanganan awal secara lebih cepat, tepat, dan terjangkau. Hal ini menjadi penting mengingat perdarahan saluran cerna atas termasuk kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan segera.
Sementara itu, karya dalam kategori E-Poster mengangkat judul “Indeks Inflamasi Sistemik dan Beban Perawatan Rumah Sakit pada Keganasan Saluran Cerna: Perbandingan Rasio Neutrofil terhadap Limfosit, Rasio Trombosit terhadap Limfosit, dan Indeks Imun-Inflamasi Sistemik.” Penelitian ini membahas potensi pemanfaatan sejumlah indeks inflamasi sistemik untuk membantu memperkirakan prognosis dan beban perawatan pasien dengan keganasan saluran cerna.
Dalam kompetisi tersebut, kategori Oral Presentation diikuti oleh sepuluh peserta yang lolos seleksi. Mereka mempresentasikan penelitian di hadapan dua juri subspesialis selama sepuluh menit, termasuk sesi tanya jawab. Tiga peserta terbaik kemudian kembali mempresentasikan karya di hadapan seluruh peserta, undangan, dan juri untuk menentukan Juara Favorit melalui pemungutan suara.
Adapun kategori E-Poster mengharuskan peserta menampilkan poster penelitian yang kemudian dinilai secara langsung oleh juri, baik dari segi substansi ilmiah maupun desain penyajiannya.
Bagi dr. Nuril Farid Abshori, kesempatan mengikuti kompetisi tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan. Ia tidak hanya memperoleh ilmu melalui simposium, tetapi juga dapat menguji kualitas penelitian dengan bersaing bersama peserta yang telah memiliki pengalaman pendidikan dan praktik klinis lebih lanjut.
Dukungan dari para konsulen terhadap karya yang dipresentasikan turut menjadi pengalaman berharga. Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat memberikan manfaat bagi praktik klinis.
Keberhasilan meraih penghargaan dalam MGU 15 dan SUDEMMA XXII menjadi bukti bahwa penelitian di bidang kedokteran dapat berangkat dari persoalan nyata di lingkungan pelayanan kesehatan. Melalui pengolahan data, analisis ilmiah, dan pendampingan para pembimbing, keterbatasan fasilitas maupun data dapat menjadi tantangan yang mendorong lahirnya penelitian yang relevan dengan kebutuhan pasien.
Lebih dari sekadar capaian kompetisi, karya-karya tersebut membawa harapan agar hasil penelitian dapat terus dikembangkan dan berkontribusi terhadap pengambilan keputusan klinis yang lebih baik, khususnya dalam penanganan penyakit saluran cerna.