Skip to Content

Prof. Nur Kholis Setiawan: Dorong Nalar Kritis Gen-Z dalam memahami Al-Qur’an

Bedah Buku di UIN Malang: Gen-Z, Al-Qur’an, dan Pergeseran Tafsir di Era Media Sosial
April 23, 2026 by
Prof. Nur Kholis Setiawan: Dorong Nalar Kritis Gen-Z dalam memahami Al-Qur’an
Amelia Dea Divanda

MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-  UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan bedah buku bertema “Model Baru Berinteraksi dengan Al-Qur’an: Tren Gen-Z” pada Rabu, 22 April 2026 di Aula Rektorat lantai 5. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Phil. H.M. Nur Kholis Setiawan, M.A., Guru Besar UIN Purwokerto, sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Prof. Nur Kholis mengangkat isu penting terkait peluang dan tantangan generasi Z dalam memahami Al-Qur’an di tengah perkembangan teknologi digital. Ia menekankan bahwa kepercayaan diri menjadi faktor penting dalam kesuksesan, bahkan dapat melampaui kecerdasan semata. Selain itu, penguasaan bahasa seperti Arab, Inggris, dan Persia menjadi modal besar dalam memperluas akses keilmuan.

Ia juga menyoroti bahwa proses perkuliahan tidak cukup hanya mengandalkan waktu di kelas. Mahasiswa dituntut aktif dan mampu memaksimalkan peran dosen serta mengembangkan pembelajaran secara mandiri. Meski mengakui keterbatasannya dalam teknologi, hal tersebut tidak menghalangi dirinya untuk terus produktif di dunia akademik.

Salah satu bentuk kontribusinya adalah membimbing 14 skripsi mahasiswa dari berbagai jurusan yang kemudian dikembangkan menjadi buku kolaboratif. Buku ini dinilai sebagai tonggak baru dalam kajian Al-Qur’an di Indonesia karena seluruh penulisnya berasal dari generasi Z. Topik yang diangkat mencerminkan tren kajian kontemporer, mulai dari tafsir, pendekatan interdisipliner, hingga fenomena living Qur’an.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kajian Al-Qur’an memiliki khazanah yang kaya dan rasional serta mampu mendorong nalar kritis. Ia mencontohkan QS. Ali-Imran [3]:137 yang mengandung pesan untuk melakukan perjalanan guna mengambil pelajaran dari umat terdahulu. Dalam konteks modern, makna tersebut berkembang menjadi dorongan untuk mencari ilmu melalui berbagai media, seperti internet, media sosial, dan e-book.

Namun, ia juga mengkritisi fenomena pergeseran makna ayat di media sosial. Salah satu contohnya adalah pemahaman QS. At-Tahrim [66]:8 yang di platform seperti TikTok kerap dikaitkan dengan amalan untuk mempercantik wajah. Padahal, dalam tafsir klasik dan kontemporer, ayat tersebut merupakan doa orang beriman di akhirat. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi ruang baru dalam produksi makna keagamaan.

Meski demikian, perkembangan ini dinilai membawa optimisme. Kajian Al-Qur’an di Indonesia akan terus berkembang dengan perspektif yang semakin beragam dan memperkaya khazanah keilmuan. Al-Qur’an tetap menjadi sumber inspirasi utama bagi generasi mendatang.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) menjadi penanya pertama, disusul oleh mahasiswi, serta pertanyaan lanjutan dari mahasiswa IAT bernama Faiz yang turut memperdalam diskusi.

Reporter : Amelia Dea Divanda



Editor: Humas
Reporter: Amelia Dea Divanda
Fotografer: Humas
Prof. Nur Kholis Setiawan: Dorong Nalar Kritis Gen-Z dalam memahami Al-Qur’an
Amelia Dea Divanda April 23, 2026
Share this post
Tags
Archive