BATU, MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY– Gedung Research Center di kawasan Kampus 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jalan Locari, Precet, Kota Batu, mulai memasuki babak baru. Kehadiran pusat penelitian tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi ruang kerja dan aktivitas akademik, tetapi mampu menjadi pusat lahirnya riset-riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Jumat, 15 Oktober 2026.

Hal itu ditandai dengan mulai ditempatinya kantor baru Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Malang yang berada di Gedung Research Center. Ketua LP2M UIN Malang, Dr. Isroqunnajah, M.Ag., secara resmi mulai menempati kantor tersebut.
Mengawali penggunaan kantor baru, LP2M menggelar khotmil Qur'an bersama. Kegiatan tersebut dihadiri Rektor UIN Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., para wakil rektor, kepala biro, para kepala pusat, serta perwakilan mahasiswa tahfidz.
Dalam sambutannya, Dr. Isroqunnajah menegaskan bahwa keberadaan Gedung Research Center harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan produktivitas penelitian di lingkungan UIN Malang.
Menurutnya, gedung yang dirancang sebagai pusat penelitian tersebut harus mampu menjadi ruang yang mendorong lahirnya gagasan, kolaborasi, dan inovasi baru.
"Bangunan yang didesain sebagai pusat penelitian ini harus memberikan dampak nyata terhadap perkembangan riset di kampus ini," tegasnya.

Pesan tersebut mendapat penekanan dari Rektor UIN Malang Prof. Ilfi Nur Diana. Menurutnya, LP2M memiliki posisi strategis dalam membangun masa depan perguruan tinggi. Jika perpustakaan selama ini menjadi pusat literasi, maka perkembangan teknologi digital telah membuat akses terhadap berbagai sumber pengetahuan semakin terbuka.
"Jantung perguruan tinggi saat ini bukan hanya perpustakaan. Kondisi perpustakaan sudah masuk era digitalisasi, semua literasi bisa diakses secara digital," ujar Prof. Ilfi.
Karena itu, menurutnya, LP2M harus mengambil peran lebih besar dengan mendorong transformasi budaya akademik. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak boleh berhenti sebagai konsumen ilmu pengetahuan, tetapi harus berkembang menjadi pihak yang mampu menghasilkan dan mengembangkan ilmu.
"Riset menjadi penting. Riset harus mampu mentransformasi budaya akademik, mampu mengubah paradigma konsumen ilmu menjadi paradigma pengembangan ilmu," tegasnya.
Prof. Ilfi juga mengingatkan agar sivitas akademika tidak cepat berpuas diri dengan berbagai capaian yang telah diraih UIN Malang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikan ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian sebagai kekuatan baru untuk menjawab berbagai persoalan.
Mahasiswa, lanjutnya, juga harus dibiasakan berpikir kritis melalui aktivitas riset. Penelitian jangan hanya berhenti sebagai dokumen akademik atau pelengkap literasi, tetapi harus menghasilkan temuan yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan.

"Ayo, dengan adanya Gedung Research Center yang megah ini harus bisa menjadi pemicu meningkatnya riset di kampus UIN Malang," ajaknya.
Ia bahkan berharap Research Center tersebut ke depan dapat berkembang menjadi pusat peradaban berbasis hasil riset. Potensi tersebut semakin terbuka dengan keberadaan Fakultas Teknik dan Fakultas Sains dan Teknologi yang dapat menjadi mitra strategis dalam pengembangan penelitian berbasis teknologi.
Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa juga didorong untuk semakin diperkuat, termasuk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Era digitalisasi saat ini semuanya sudah mulai diintegrasikan dengan sistem AI. Oleh karena itu, LP2M harus mampu terkait hilirisasi dan inovasi dengan masyarakat," jelasnya.
Bagi Prof. Ilfi, ukuran keberhasilan sebuah penelitian tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak penelitian yang dilakukan atau seberapa banyak publikasi yang dihasilkan. Hal yang lebih penting adalah keberdampakan penelitian tersebut.
Ia meminta para peneliti mulai mengarahkan riset pada persoalan nyata yang dapat memberikan pengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat maupun kelestarian lingkungan.
"Mulailah lakukan riset yang berbasis keberdampakan nyata yang bisa memberikan pengaruh langsung terhadap masyarakat dan lingkungan," pesannya.
Dalam setiap penelitian, Prof. Ilfi juga mengingatkan pentingnya mengaitkan isu penelitian dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, perspektif pembangunan berkelanjutan dapat memperkuat relevansi penelitian UIN Malang dengan persoalan global sekaligus kebutuhan masyarakat.
Menariknya, Prof. Ilfi juga mendorong agar riset keagamaan ke depan tidak hanya membahas persoalan keagamaan secara normatif. Penelitian keislaman perlu hadir untuk menjawab tantangan baru, termasuk persoalan etika dalam perkembangan teknologi.
"Riset keagamaan ke depan harus bicara dengan etika. Bagaimana etika pengembangan teknologi ke depan yang harus dikembangkan," tuturnya.
Selain itu, isu ekoteologi juga dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Perpaduan antara nilai-nilai keagamaan, etika keilmuan, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan mampu menghadirkan wajah baru penelitian keagamaan.
Pada akhirnya, Prof. Ilfi mengajak seluruh sivitas akademika UIN Malang menjadikan Research Center sebagai titik awal untuk melahirkan karya-karya penelitian yang tidak hanya tercatat dalam jurnal, tetapi juga memberikan jejak nyata bagi masyarakat dan perkembangan peradaban.
"Pesan saya, ayo semuanya saling berlomba menghasilkan karya yang fenomenal, yang bisa tercatat dalam sejarah peradaban," pungkasnya.
Kini, Gedung Research Center bukan sekadar bangunan baru bagi LP2M. Lebih dari itu, gedung tersebut membawa harapan baru agar budaya riset di UIN Malang semakin kuat, kolaboratif, berbasis teknologi, dan yang paling penting, benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat serta lingkungan.