MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Hasil akhir sebuah kompetisi tidak selalu dapat ditebak dari langkah pertama. Hal itu dirasakan Tim UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam ajang Business Plan PORSI Jawara II 2026. Sempat berada di posisi terakhir saat pengumuman semifinal, tim yang terdiri dari Daris, Daffa Qurunulbahri Hidayatullah, dan Fathma Ilma Silvi Saluka itu justru mampu bangkit dan mengakhiri kompetisi sebagai peraih medali emas.
Daris yang merupakan mahasiswa Perbankan Syariah semester 7 menjadi ketua tim bersama Daffa Qurunulbahri Hidayatullah dari Manajemen semester 3 dan Fathma Ilma Silvi Saluka dari Manajemen semester 3. Bagi mereka, pencapaian tersebut bukan hasil yang datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses persiapan yang dilakukan selama kurang lebih satu bulan.
Persiapan dimulai dengan mencari dan memetakan berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Dari berbagai persoalan tersebut, mereka kemudian mempersempit pencarian pada permasalahan yang terjadi di wilayah Malang. Setelah menemukan persoalan yang dianggap penting untuk diangkat, tim mulai menyusun solusi hingga mengembangkannya menjadi gagasan yang siap dipresentasikan dalam kompetisi.
“Kurang lebih persiapan kami satu bulan sebelum pengiriman proposal. Kami mulai dari riset permasalahan yang ada di Indonesia, kemudian dikerucutkan ke daerah Malang. Setelah menemukan masalah, kami memberikan solusi, menyusun proposal, melakukan uji coba produk, hingga wawancara kepada salah satu pedagang,” ujar Daffa.
Dalam proses tersebut, ketiga anggota tim membagi tanggung jawab agar persiapan dapat berjalan lebih terarah. Pekerjaan dibagi berdasarkan beberapa bagian, mulai dari produk, pemasaran, hingga keuangan. Sementara itu, penyusunan desain dan pitch deck untuk kebutuhan presentasi dilakukan secara bersama-sama.
Pembagian tersebut membuat setiap anggota dapat lebih fokus menjalankan tugasnya masing-masing. Meski demikian, proses persiapan tidak selalu berjalan mudah. Kesibukan masing-masing anggota menjadi salah satu tantangan yang cukup terasa, terutama ketika tim membutuhkan waktu untuk berdiskusi secara intensif.
“Kendala terbesar kami adalah waktu untuk diskusi. Kami memiliki kesibukan masing-masing sehingga cukup sulit mencari waktu untuk melakukan diskusi secara intensif,” kata Fathma.
Tantangan tersebut semakin terasa ketika tim mulai mempersiapkan tahap pitching. Mereka tidak hanya harus menguasai materi yang akan disampaikan kepada juri, tetapi juga memastikan berbagai hal pendukung telah siap. Mulai dari cara memaparkan materi hingga menyiapkan prototype menjadi bagian dari persiapan yang dilakukan menjelang kompetisi.
Persiapan yang cukup padat tersebut akhirnya membawa mereka menuju tahap semifinal. Namun, pengumuman semifinal justru menjadi salah satu momen yang paling menegangkan. Tim UIN Malang berada di posisi terakhir. Alih-alih menyerah, kondisi tersebut justru menjadi pemantik bagi mereka untuk memberikan penampilan yang lebih baik pada babak final.
“Cerita menariknya, awal pengumuman semifinal kita ada di posisi terakhir. Tapi ketika final, kita mampu membuktikan bahwa kita yang terbaik dan akhirnya bisa berada di posisi satu,” tutur Daris.
Bagi Daris dan kedua rekannya, posisi pada semifinal menjadi pengingat bahwa hasil sementara bukanlah penentu akhir. Mereka memilih tetap optimistis sembari memperbaiki persiapan untuk menghadapi babak final. Usaha dan doa menjadi dua hal yang terus mereka pegang hingga kompetisi berakhir.
Keyakinan tersebut akhirnya terbayar. Dalam babak final, Tim UIN Malang mampu menunjukkan performa terbaik hingga keluar sebagai peraih medali emas Business Plan PORSI Jawara II 2026. Kabar tersebut disambut dengan rasa syukur dan bangga oleh seluruh anggota tim.
“Alhamdulillah, bersyukur sekali dan merasa bangga karena perjuangan yang sudah kami lakukan membawa hasil yang baik,” ungkap Fathma.
Bagi mereka, medali emas bukan sekadar pencapaian dalam sebuah kompetisi. Proses panjang selama persiapan memberikan pelajaran mengenai pentingnya kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus berusaha meskipun hasil awal belum sesuai harapan.
“Pelajaran terbesar yaitu kita harus tetap berusaha maksimal, kerja keras, dan jangan malas, karena usaha itu berbanding lurus dengan hasil,” ujar Daris.
Kisah mereka menunjukkan bahwa posisi terakhir bukan berarti akhir dari perjuangan. Selama masih ada kesempatan, hasil dapat berubah melalui usaha yang lebih maksimal. Dari posisi terakhir di semifinal hingga berdiri di posisi pertama pada final, Tim UIN Malang membuktikan bahwa optimisme yang dibarengi usaha dan doa dapat membawa langkah mereka menuju prestasi.