MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Kemampuan mengolah data, membaca isu secara kritis, dan menyusun argumentasi menjadi kunci perjalanan tim UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam cabang Debat Bahasa Arab PORSI JAWARA II 2026. Berkompetisi bersama 16 tim dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura, tim UIN Malang berhasil melaju hingga babak final dan meraih medali perak.
Tim tersebut diwakili oleh Nasruddin Rafai, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab semester 5 asal Magetan, bersama Siti Najahatul Imtihan dari Bahasa dan Sastra Arab semester 5 serta Rizal Rafid Arriqoh dari Pendidikan Bahasa Arab semester 7. Ketiganya mempersiapkan diri sekitar satu hingga dua bulan setelah dinyatakan lolos seleksi.
Persiapan diawali dengan memperbanyak diskusi mengenai berbagai isu yang berpotensi menjadi mosi debat. Mulai dari isu politik nasional dan internasional hingga persoalan yang tengah ramai diperbincangkan masyarakat menjadi bahan kajian mereka. Beberapa isu nasional yang sedang viral turut dibahas sebagai bagian dari upaya membangun kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan tema.
Hingga akhirnya, salah satu mosi yang mereka hadapi membahas persoalan pembangunan dan lingkungan, yakni “Majelis menyetujui bahwa percepatan perkembangan ekonomi di Indonesia lebih penting daripada penjagaan pembangunan lingkungan.” Mosi tersebut menuntut peserta tidak hanya memahami persoalan secara umum, tetapi juga mampu melihatnya dari berbagai sudut pandang.
Menurut Nasruddin, tantangan terbesar dalam persiapan adalah mengolah data sekaligus membangun pola pikir kritis terhadap tema secara menyeluruh. Tim tidak cukup hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga harus menemukan celah dalam argumentasi yang dapat digunakan untuk memperkuat posisi mereka sekaligus mematahkan argumen lawan.
“Kita mencari celah yang dengan celah tersebut kita bisa mematahkan argumen dengan argumen kita yang kuat,” jelas Nasruddin.
Perjuangan tim UIN Malang kemudian berlanjut dari babak 16 besar menuju delapan besar. Setelah berhasil melewati babak tersebut, persaingan semakin ketat hingga menyisakan empat tim terbaik, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Pertandingan menghadapi UIN Bandung menjadi salah satu babak yang paling menegangkan bagi tim UIN Malang. Adu argumentasi berlangsung kritis dengan kedua tim berusaha mempertahankan sudut pandang masing-masing. Keberhasilan melewati pertandingan tersebut akhirnya membawa UIN Malang ke babak final untuk berhadapan dengan UIN Jakarta.
Pertandingan final berlangsung dengan persaingan yang sangat ketat. Perolehan nilai kedua tim bahkan hanya terpaut dua poin. Meski akhirnya harus puas berada di posisi kedua, perjuangan hingga babak final menjadi pencapaian tersendiri bagi Nasruddin dan kedua rekannya.
Di tengah ketatnya kompetisi, pengalaman bertemu peserta dari berbagai kampus juga menjadi bagian menarik dari perjalanan mereka. Nasruddin mengaku sebelumnya telah mengenal beberapa peserta dari UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta. Pertemuan dalam ajang tersebut pun tidak hanya diwarnai persaingan, tetapi juga momen kebersamaan, seperti berbincang, bercanda, dan berfoto bersama.
Bagi Nasruddin, PORSI JAWARA II 2026 tidak sekadar menjadi arena untuk mengejar kemenangan. Kompetisi yang diselenggarakan Kementerian Agama RI bersama Forum Wakil Rektor III PTKIN se-Jawa dan Madura pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tersebut menjadi ruang untuk belajar, menambah pengalaman, sekaligus memperluas relasi.
“Masya Allah, rasanya senang banget bisa mewakili UIN Malang dalam event PORSI JAWARA II ini. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk belajar dan terus menambah pengalaman,” ungka Nasruddin
Menurutnya, bertemu dengan peserta lain yang memiliki kemampuan berpikir kritis membuat kompetisi semakin menarik. Adu argumentasi menjadi pengalaman berharga yang mendorong mereka untuk terus belajar dan melakukan evaluasi terhadap kemampuan yang dimiliki.
“Seru banget bisa adu argumentasi dengan teman-teman yang kritis dan bisa banyak relasi, tentu juga pengalaman. Alhamdulillah ini juga menjadikan kita terus belajar, selalu belajar, dan evaluasi,” tutur Nasruddin
Medali perak yang diraih akhirnya menjadi buah dari proses panjang yang dijalani tim. Di balik setiap babak yang dilewati, terdapat persiapan, diskusi, pengolahan data, serta keberanian untuk mempertahankan argumentasi di hadapan lawan. Bagi Nasruddin, kesempatan mewakili UIN Malang menjadi pengalaman yang akan terus dikenang, terlebih karena perjuangan tersebut turut mendapat dukungan dari kampus, fakultas, program studi, keluarga, dan teman-teman.
Capaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kompetisi bukan hanya tentang siapa yang berdiri di posisi pertama, tetapi juga tentang proses belajar dan pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan. Dari 16 tim yang bertanding, UIN Malang mampu bertahan hingga dua tim terakhir dan membawa pulang medali perak Debat Bahasa Arab PORSI JAWARA II 2026.