MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Dalam rangka memperingati World Book Day 2026, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Bank Indonesia menggelar kegiatan bedah buku Filosofi Teras yang menghadirkan langsung penulisnya, Henry Manampiring, pada Rabu (29/4). Bertempat di Aula Gedung Rektorat UIN Malang Lantai 5, acara ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami cara berpikir yang lebih rasional dan tangguh di tengah dinamika kehidupan modern.
Dalam pemaparannya, Henry Manampiring menjelaskan bahwa Filosofi Teras merupakan buku pengembangan diri yang terinspirasi dari Stoicism, sebuah aliran filsafat kuno yang mengajarkan manusia untuk mengelola emosi dan merespons hidup secara bijak. Ia menekankan bahwa meskipun berasal dari pemikiran lama, Stoicism justru semakin relevan di era sekarang, terutama di tengah derasnya arus informasi yang kerap memicu emosi.
"Jangan takut dengan kata filsafat. Banyak ajaran filsafat yang justru sangat dekat dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejak pertama kali terbit pada 2018, Filosofi Teras telah mengalami perjalanan panjang hingga mencapai cetakan ke-100 pada awal 2026. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pendekatan berpikir yang lebih rasional dan reflektif.
Menurutnya, meskipun zaman terus berubah, karakter dasar manusia tidak banyak berbeda. "Manusia mungkin berubah dalam gaya hidup, tetapi dalam hal emosi, kesalahan, dan proses belajar, kita masih sama. Itu sebabnya Stoicism tetap relevan, bahkan semakin dibutuhkan hari ini," jelasnya.
Salah satu konsep utama yang disampaikan adalah dikotomi kendali, yaitu kemampuan membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali diri dan yang berada di luar kendali. Pemahaman ini dinilai penting agar seseorang tidak menghabiskan energi pada hal-hal yang tidak dapat diubah.
"Kita diberikan Tuhan akal. Masalah muncul ketika kita tidak menggunakan nalar kita, atau menggunakannya dengan cara yang salah," tegas Henry.
Henry juga menyoroti pentingnya mental resilience di tengah meningkatnya isu kesehatan mental. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu nyaman, sehingga kemampuan merespons tantangan menjadi kunci utama.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk tidak hanya meningkatkan literasi, tetapi juga membangun pola pikir yang lebih rasional, tangguh, dan bijak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.