Skip ke Konten

Bukan Sekadar Selempang, Nasywa dan Perjalanan Menjadi Runner Up 1 Duta FITK UIN Malang

10 Agustus 2026 oleh
Bukan Sekadar Selempang, Nasywa dan Perjalanan Menjadi Runner Up 1 Duta FITK UIN Malang
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- “Pembicara hebat tidak dilahirkan, tetapi mereka dilatih.” Kutipan Dale Carnegie itu menjadi salah satu prinsip yang dipegang Nasywa Agesta Putri, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN Malang semester 3, dalam mengembangkan kemampuan public speaking. Baginya, seni berbicara bukan sekadar kemampuan tampil di depan banyak orang, melainkan keterampilan yang harus terus diasah melalui pengalaman.

Perjalanan itu telah dimulainya sejak berada di lingkungan madrasah. Nasywa pernah dipercaya menjadi Duta Bahasa Ma’had Al-Jamiah dan Duta Madrasah ketika aliyah. Pengalaman tersebut kemudian membawanya untuk terus belajar hingga di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang. Berbagai lingkungan yang ia lalui menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana berbicara dengan baik sekaligus mencerminkan kepribadian.

Keputusannya mengikuti pemilihan Duta FITK pun bukan sesuatu yang disiapkan dalam hitungan hari. Jauh sebelum seleksi, Nasywa membangun kebiasaan kecil yang mendukung kemampuannya. Ia rutin membaca teks berbahasa Inggris dan melatih kemampuan menjadi MC setidaknya tiga kali dalam sepekan. Menjelang karantina maupun sesi pemilihan, ia juga meluangkan waktu untuk mempelajari materi yang diperlukan.

Namun, persiapan tidak lantas membuat perjalanan terasa mudah. Salah satu tantangan terbesar baginya adalah ketika harus menjadi representasi fakultas. Setiap penampilan menjadi bagian dari citra institusi yang dibawanya. Terlebih, terdapat aspek penampilan yang juga perlu diperhatikan. Bagi Nasywa, hal itu menjadi tantangan tersendiri karena kondisi kulitnya yang sensitif membuatnya harus berhati-hati dalam menggunakan makeup.

Rasa minder pun sempat hadir. Melihat peserta lain dengan talenta dan keunikan masing-masing membuatnya menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Alih-alih menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menyerah, Nasywa memilih fokus memberikan versi terbaik dari dirinya.

“Every flower has their own way for blooming. Life isn't about the perfect one, but about how hard you try for giving your best version,” ujarnya.

Selama proses pembinaan, kemampuan yang paling banyak dilatih bukan hanya public speaking. Catwalk menjadi salah satu hal yang membutuhkan latihan berulang agar ia dapat tampil lebih luwes. Dalam proses tersebut, Nasywa mendapat bimbingan dari Duta Navida yang turut mengajarinya catwalk.

Momen yang paling membekas justru datang dari latihan opening dance. Sejak kecil, Nasywa mengaku tidak begitu akrab dengan dunia dance sehingga gerakannya terasa kaku. Di situlah tantangan benar-benar terasa. Beruntung, kakak-kakak Duta FITK 25 dengan sabar membimbingnya, terutama Duta Abian dan Duta Lintang.

Di balik proses panjang tersebut, dukungan orang tua dan orang-orang terdekat menjadi kekuatan terbesar Nasywa. Doa dan dukungan mereka menjadi sandaran ketika rasa lelah datang. Bagi Nasywa, keberhasilan tidak pernah berdiri sendiri karena selalu ada orang-orang yang membersamai setiap langkah.

Hingga akhirnya, namanya diumumkan sebagai Runner Up 1 Duta FITK. Perasaan deg-degan bercampur tidak menyangka menjadi hal pertama yang ia rasakan. Ia mengaku seluruh peserta memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing sehingga hasil tersebut bukan sesuatu yang berani ia pastikan sebelumnya.

Meski demikian, pencapaian tersebut tidak ia maknai sebatas gelar. “An ambassador isn't only wearing sash but giving our best to our environment,” tuturnya. Menurutnya, seorang duta memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata, salah satunya dengan menjadi inspirasi bagi mahasiswa serta menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada fakultas.

Dari perjalanan tersebut, Nasywa membawa dua pelajaran besar: manajemen waktu dan seni berbicara. Baginya, kemampuan berbicara yang terkadang dianggap sepele justru dapat mencerminkan kepribadian seseorang. Karena itu, keterampilan tersebut perlu terus dilatih dan dikembangkan.

Ia juga tidak ingin takut pada kesalahan. “It's okay to make a mistake, karena kita masih belajar dan terus memperbaiki. Then life goes on. Apa pun yang terjadi, it's okay. Allah adalah sebaik-baik penulis takdir,” katanya.

Kini, setelah meraih Runner Up 1, Nasywa ingin menjadikan posisinya sebagai ruang untuk terus berkontribusi dan memberikan yang terbaik bagi FITK. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa keberanian untuk mencoba sering kali menjadi awal dari pengalaman yang berharga.

“Better you failed when you try, then you never try, cause an experience is the best teacher. Great person doesn't come overnight, but it is shaped by their experience.”

Bagi Nasywa, menjadi duta bukan tentang siapa yang paling sempurna. Ini tentang siapa yang berani mencoba, mau belajar, terus memperbaiki diri, dan menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk memberi manfaat bagi lingkungan.

di dalam Berita

Editor: Humas
Reporter: Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah
Fotografer: Istimewa
Bukan Sekadar Selempang, Nasywa dan Perjalanan Menjadi Runner Up 1 Duta FITK UIN Malang
Mawa Noviana Nadiyatus Sholichah 10 Agustus 2026
Share post ini
Label
Arsip