KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY – Peringatan Hari Kartini yang digelar pada Selasa, 21 April 2026 di lantai 5 Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berlangsung khidmat sekaligus penuh refleksi. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis perempuan dalam menjawab berbagai tantangan global yang kian kompleks.
Dalam sambutannya, Rektor perempuan UIN Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M. Si., menekankan bahwa perempuan tidak boleh lagi memilih diam di tengah berbagai persoalan dunia, mulai dari konflik bersenjata, krisis pangan, hingga konflik kemanusiaan di berbagai wilayah.
“Perempuan harus bersuara, apalagi saat ini konflik bersenjata, krisis pangan, hingga konflik di Timur Tengah masih terjadi. Apakah kita harus diam hanya karena itu bukan negara kita? Kita memiliki rasa kemanusiaan dan kekeluargaan terhadap para korban peperangan, khususnya kaum perempuan,” tegasnya.
Menurutnya, semangat Kartini di era modern tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan emansipasi, tetapi juga kepedulian terhadap isu kemanusiaan global. Perempuan diharapkan mampu hadir sebagai agen perubahan yang aktif, responsif, dan berempati.
Selain isu global, perhatian juga diarahkan pada masih tingginya kasus kekerasan berbasis gender. Fenomena ini bahkan telah menyasar anak-anak usia sekolah dasar, yang diperparah oleh paparan konten digital yang tidak ramah anak.
Rektor menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi tanggung jawab bersama, baik dalam lingkup keluarga, pendidikan, maupun kebijakan publik. Literasi digital juga dinilai penting untuk membentengi generasi muda dari dampak negatif perkembangan teknologi.
Isu lain yang turut disoroti adalah eksploitasi tenaga kerja perempuan, khususnya para pekerja migran atau TKW. Ia mendorong adanya peningkatan perlindungan serta penciptaan lingkungan kerja yang aman, adil, dan bermartabat bagi perempuan Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Tak kalah penting, perubahan iklim juga menjadi bagian dari refleksi Hari Kartini tahun ini. Ancaman pencemaran lingkungan, termasuk mikroplastik, disebut sebagai tantangan global yang membutuhkan kesadaran dan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan.
Melalui peringatan ini, UIN Malang menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan perempuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.
Semangat Kartini diharapkan terus hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia—tidak hanya sebagai simbol perjuangan masa lalu, tetapi juga sebagai kekuatan perubahan di masa kini dan masa depan.