Skip ke Konten

Peringati Hari Kartini, PSGAD Gandeng HWDI Kota Malang

Peringatan Hari Kartini di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun ini menghadirkan wajah yang berbeda. Bukan sekadar seremoni atau panggung pidato, tetapi ruang yang benar-benar membuka akses bagi semua, termasuk mereka yang selama ini sering tak terdengar: penyandang disabilitas.
21 April 2026 oleh
Peringati Hari Kartini, PSGAD Gandeng HWDI Kota Malang
Ajay
KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY-Peringatan Hari Kartini di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun ini menghadirkan wajah yang berbeda. Bukan sekadar seremoni atau panggung pidato, tetapi ruang yang benar-benar membuka akses bagi semua, termasuk mereka yang selama ini sering tak terdengar: penyandang disabilitas.
Melalui kolaborasi Pusat Studi Gender dan Anak Disabilitas (PSGAD) dan Dharma Wanita Persatuan (DWP), seminar nasional digelar dengan pendekatan inklusif. Dua tokoh perempuan Malang, Lathifah Shohib dan Amithya Ratnaggani Sirraduhita, hadir berbagi perspektif tentang peran perempuan di ruang publik dan politik.
Namun sorotan utama justru datang dari sudut yang sering luput: kehadiran peserta tuli. Di tengah jalannya seminar, dua juru bahasa isyarat berdiri sigap menerjemahkan setiap kata ke dalam gerak yang bermakna. Tidak ada yang tertinggal. Semua bisa memahami, semua bisa terlibat.
Ketua PSGAD UIN Malang, Aprilia Mega, menegaskan bahwa kehadiran komunitas disabilitas bukan sekadar pelengkap acara. Ini adalah pengingat bahwa ruang akademik dan sosial harus menjadi milik bersama.
Komitmen itu terlihat nyata. Bahasa isyarat dihadirkan, akses dibuka, dan partisipasi dijamin. Seminar ini juga melibatkan komunitas tuli serta perwakilan dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kota Malang, yang turut mengikuti jalannya acara, baik secara langsung maupun melalui siaran daring.
Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas emansipasi perempuan dalam arti klasik. Lebih jauh, forum ini menggarisbawahi bahwa keadilan sosial harus menjangkau semua, termasuk kelompok rentan yang kerap berada di pinggir perhatian.
Di sinilah makna Kartini menemukan relevansinya hari ini. Bukan hanya tentang perempuan yang bersuara, tetapi juga tentang memastikan mereka yang tak bersuara tetap didengar.

UIN Malang seperti ingin menyampaikan satu pesan sederhana: kemajuan tidak diukur dari siapa yang paling lantang, tetapi dari siapa saja yang sudah diajak berjalan bersama.

di dalam Berita

Editor: Humas
Reporter: Abadi Wijaya
Fotografer: Santoso
Peringati Hari Kartini, PSGAD Gandeng HWDI Kota Malang
Ajay 21 April 2026
Share post ini
Label
Arsip