MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY — Krisis ekologis yang terus berkembang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan organisasi keagamaan. Hal tersebut menjadi perhatian Prof. Dr. Bakhruddin Fannani dalam pidato pengukuhan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu, 23 September 2026.
Mengangkat judul “Rethinking Religion and the Ecological Crisis: Paradigma Eco-Activism Islam dalam Gerakan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai Guardian of Ecology Berkelanjutan di Indonesia,” Prof. Bakhruddin Fannani membahas pentingnya menghadirkan perspektif keislaman dalam gerakan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan nilai, etika, dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Karena itu, nilai-nilai agama perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Prof. Bakhruddin memperkenalkan paradigma Eco-Activism Islam sebagai pendekatan yang mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan gerakan ekologis. Melalui pendekatan tersebut, kesadaran keagamaan tidak berhenti pada pemahaman normatif, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, organisasi keagamaan memiliki potensi besar dalam membangun kesadaran ekologis karena memiliki jaringan sosial yang luas. Dalam konteks Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat yang dapat berkontribusi terhadap penguatan kepedulian lingkungan.
Berbagai gerakan dan program lingkungan yang berkembang di lingkungan kedua organisasi tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap persoalan ekologis. Gerakan seperti pesantren ekologis, Kader Hijau Muhammadiyah, Majelis Lingkungan Hidup, hingga berbagai komunitas berbasis lingkungan menjadi bagian dari upaya menerjemahkan nilai agama ke dalam tindakan sosial.
Prof. Bakhruddin menilai bahwa menjaga lingkungan pada dasarnya merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai pengelola kehidupan di bumi. Karena itu, persoalan ekologis membutuhkan perubahan cara pandang sekaligus keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui gagasan Eco-Activism Islam, ia mendorong agar agama dapat menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi krisis ekologis. Nilai-nilai keislaman diharapkan tidak hanya membentuk kesadaran spiritual manusia, tetapi juga mendorong lahirnya perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pidato pengukuhan tersebut sekaligus menegaskan ruang kontribusi pendidikan tinggi Islam dalam mempertemukan kajian keagamaan dengan persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, gagasan tersebut menjadi bagian dari pengembangan keilmuan Islam yang memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan keberlanjutan kehidupan.