MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Rasa gugup sempat menyelimuti Nur Azizah, mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi semester 5, ketika harus berdiri di arena pertandingan Taekwondo PORSI Jawara II 2026 di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan. Di tengah persaingan yang diikuti 12 peserta, ia membawa satu tujuan: memberikan penampilan terbaik untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kesempatan untuk berlaga di ajang tersebut menjadi pengalaman yang tidak pernah benar-benar ia bayangkan sebelumnya. Menjelang pertandingan, perasaan Azizah bercampur antara semangat dan gugup. Terlebih, ia tidak menyangka dapat dipercaya untuk menjadi bagian dari atlet Taekwondo UIN Malang yang berlaga di PORSI Jawara II.
Untuk mempersiapkan diri, Azizah menjalani latihan sejak jauh-jauh hari. Ia memanfaatkan waktu sore atau malam setelah menyelesaikan aktivitas perkuliahan. Latihan kemudian dilakukan secara lebih intensif selama kurang lebih satu bulan sebelum pertandingan.
Kesibukan sebagai mahasiswa tidak membuatnya meninggalkan latihan. Justru, Taekwondo menjadi salah satu ruang bagi Azizah untuk menjaga keseimbangan di tengah rutinitas akademik. Kecintaannya terhadap olahraga bela diri tersebut telah tumbuh sejak duduk di bangku kelas 3 SD.
Azizah sempat berhenti berlatih ketika memasuki SMP. Namun, kecintaannya terhadap Taekwondo kembali tumbuh saat dirinya mulai berkuliah. Baginya, Taekwondo bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi juga menjadi ruang untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas perkuliahan.
“Taekwondo tidak hanya melatih kemampuan bela diri, tetapi juga menjadi tempat bagi saya untuk melepas lelah setelah menjalani aktivitas perkuliahan. Bagi saya, Taekwondo juga menjadi salah satu cara untuk healing,” ungkap Azizah.
Memasuki hari pertandingan, rasa gugup tetap tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, ia berusaha mengubah rasa tersebut menjadi dorongan untuk lebih fokus pada persiapan yang telah dijalani selama sebulan terakhir.
Alih-alih membiarkan tekanan menguasai diri, Azizah memilih menenangkan hati dengan berdoa kepada Allah SWT. Ia juga meminta doa dan restu dari kedua orang tua. Dukungan teman-teman serta pelatih turut menjadi kekuatan tersendiri baginya ketika menghadapi pertandingan.
Setelah pertandingan berakhir, Azizah harus menunggu pengumuman hasil dengan perasaan yang kembali bercampur aduk. Ia sempat bertanya-tanya apakah perjuangannya akan berbuah prestasi. Hingga akhirnya, namanya disebut sebagai peraih juara ketiga.
Kabar tersebut sontak membuat Azizah terharu. Rasa lega, bahagia, sekaligus bangga bercampur menjadi satu hingga membuatnya meneteskan air mata.
Bagi Azizah, medali perunggu tersebut bukan sekadar penghargaan yang dibawa pulang dari arena pertandingan. Di balik satu medali itu terdapat proses latihan, rasa gugup, perjuangan membagi waktu, serta keberanian untuk kembali berkompetisi setelah menekuni Taekwondo sejak masa sekolah dasar.
“Medali ini sangat berarti karena saya mendapatkannya melalui proses dan perjuangan yang tidak mudah. Medali ini merupakan hasil dari kerja keras dan latihan saya selama kurang lebih satu bulan. Saya sangat bersyukur atas rezeki dan kesempatan yang telah diberikan kepada saya,” tuturnya.
Capaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Azizah. Dari arena pertandingan di Pekalongan, ia tidak hanya membawa pulang medali perunggu, tetapi juga sebuah pengalaman tentang keberanian menghadapi rasa gugup, percaya pada proses, dan menghargai setiap kesempatan yang datang.
Bagi mahasiswa yang membagi waktunya antara perkuliahan dan latihan, podium ketiga menjadi pengingat bahwa sebuah prestasi tidak selalu lahir dari perjalanan yang mudah. Terkadang, ia tumbuh dari latihan yang dilakukan setelah lelah beraktivitas, dari rasa gugup yang harus ditaklukkan, serta dari keberanian untuk tetap melangkah ke arena.