KAMPUS I | MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Rapat kerja pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2026 berlangsung dalam suasana serius dan penuh tekanan akademik. Sebanyak 59 pimpinan utama—mulai dari rektor, dekan, hingga kepala unit dan lembaga—duduk dalam satu forum, membedah capaian sekaligus merumuskan strategi kerja ke depan. Kamis, 16 April 2026.
Fokus pembahasan tidak lagi normatif. Angka-angka dipajang terang, menjadi cermin yang sulit dibantah. Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, langsung mengarahkan perhatian pada publikasi ilmiah dosen, khususnya artikel terindeks Scopus. Dengan gaya khas yang lugas, ia mengajak forum melihat fakta tanpa kosmetik. “Tahun 2024 ada 10 artikel single dan 309 kolaborasi. Tahun 2025 justru turun, tinggal 7 single dan 273 kolaborasi,” ungkapnya.
Penurunan itu bukan sekadar statistik. Bagi Rektor, ini adalah alarm yang harus segera direspons. Apalagi, memasuki triwulan kedua 2026, capaian publikasi baru menyentuh angka 18 artikel terindeks Scopus. “Ini perlu perhatian serius. Tidak bisa dibiarkan berjalan apa adanya,” tegasnya.
Ia menyoroti belum lengkapnya peta data di tingkat fakultas. Tanpa data rinci, sulit mengukur kinerja secara adil—mana fakultas yang unggul, mana yang perlu didorong. Karena itu, peran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) serta pimpinan universitas diminta lebih aktif mengawal, agar capaian publikasi tidak sekadar menjadi angka agregat di level universitas.
Menariknya, di tengah catatan tersebut, ada kabar menggembirakan. Sejumlah jurnal kampus mengalami lonjakan signifikan, bahkan mampu bersaing di level internasional. Fakultas Syariah dan Hukum, misalnya, mencatat prestasi membanggakan dengan peringkat global yang cukup kompetitif. Sementara itu, jurnal di bidang arsitektur dan sains juga mulai menunjukkan taji, menembus persaingan dengan penerbit besar dunia. “Ini harus jadi pemicu. Fakultas lain tidak boleh tertinggal,” ujar Rektor, memberi penekanan sekaligus tantangan.
Ia juga menyinggung pentingnya keberlanjutan pengelolaan jurnal. Pengalaman beberapa jurnal yang sempat terhapus dari indeks internasional dijadikan pelajaran penting. Konsistensi, menurutnya, menjadi kunci agar capaian tidak bersifat sementara.
Di sisi lain, capaian pemeringkatan kampus turut menjadi bahan evaluasi. Dalam sejumlah indikator global, posisi UIN Malang menunjukkan tren positif. Pada pemeringkatan internasional tertentu, kampus ini bahkan mampu menembus kelompok 101–150 dunia, sekaligus menempati posisi kompetitif di antara PTKIN nasional. Namun, Rektor mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat lengah. “Naik itu sulit, tapi mempertahankan jauh lebih sulit,” katanya.
Beberapa fakultas juga mulai mencatatkan posisi di panggung global, termasuk Fakultas Syariah dan Fakultas Humaniora yang masuk dalam jajaran peringkat internasional versi lembaga pemeringkat bereputasi. Meski begitu, target ke depan tetap lebih ambisius: menembus peringkat yang lebih tinggi dan memperluas pengakuan global. Rapat kerja ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum koordinasi. Ia berubah menjadi ruang refleksi sekaligus tekanan produktif bagi seluruh pimpinan.