MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY- Pergantian bank soal hanya empat hari sebelum perlombaan tidak menyurutkan semangat tiga mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk berjuang. Cady Nisrina Sapphire dan Cahaya Fairuza Azarine Ramadhani, mahasiswa IAT semester 5, bersama M. 'Ufair Nashirul Wafa, mahasiswa IAT semester 3, berhasil meraih medali perunggu cabang Musabaqah Fahmil Qur’an pada PORSI JAWARA II 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Kompetisi tersebut diikuti 13 tim, meski satu tim harus didiskualifikasi. Bagi ketiganya, persiapan sebenarnya telah dilakukan sejak sekitar satu bulan sebelum perlombaan. Namun, tantangan besar datang ketika bank soal diganti secara mendadak, hanya empat hari sebelum kompetisi.
Dengan waktu yang sangat terbatas, mereka harus mempelajari bank soal baru yang mencapai sekitar 200 soal untuk setiap materi. Ketiganya kemudian membagi materi, mencetak paket soal, dan memaksimalkan waktu belajar yang tersisa.
“Karena adanya perubahan bank soal yang cukup mendadak, jadinya kita langsung cepat-cepat membagi materi dan menge-print paket soal. Kemudian fokus belajar materi masing-masing sepenuh kemampuan yang kita punya,” ungkap Cady.
Waktu istirahat pun harus dikorbankan. Mereka lebih sering berkumpul untuk belajar dan latihan bersama, bahkan sempat menghabiskan malam di kafe hingga berpindah ke masjid demi mengejar materi.
“Cerita menariknya sekaligus menegangkan itu adanya pergantian bank soal yang mendadak sekali. Kita bahkan sampai sempat nginep di kafe dan pindah ke masjid buat belajar bertiga,” cerita Zarine
Selain menguasai materi, ketiganya juga menyiapkan strategi untuk menghadapi soal lontaran. Mereka berlatih mengenali clue dalam soal agar dapat memberikan jawaban dengan cepat dan tepat ketika perlombaan berlangsung.
Usaha keras selama empat hari tersebut akhirnya terbayar dengan medali perunggu. Meski persiapan menghadapi bank soal baru terbilang sangat singkat, ketiganya bersyukur dapat memberikan kontribusi bagi UIN Malang.
“Alhamdulillah, pastinya senang banget bisa diberi kesempatan menyumbang medali untuk UIN Malang. Dengan waktu belajar yang sangat mepet, sekitar empat harian, menurut saya itu termasuk sebuah pencapaian yang berhasil kita raih setelah usaha keras dari tim kami,” ujar Ufair.
Bagi ketiganya, medali perunggu bukan sekadar hasil akhir kompetisi. Pengalaman menghadapi perubahan mendadak mengajarkan mereka untuk beradaptasi, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan tetap bekerja sama ketika berada dalam tekanan.